
Matahari tertidur saat senja mulai datang. Cakrawala telah berganti warna menjadi jingga. Sebentar lagi sang surya akan menghilang di ufuk barat. Sepasang mata sedari tadi memperhatikan dari jendela kaca cara mentari menyembunyikan diri dari balik air laut yang bergelombang.
Sebenarnya Arsen tak suka melihat matahari terbenam karena menurutnya itu terlalu feminim dan tak cocok dengan dirinya yang maskulin. Bagi Arsen pemandangan matahari terbenam identik dengan wanita, sehingga ia beranggapan bahwa hanya pria lemahlah yang suka dengan hal seperti itu.
Seketika Arsen teringat akan Arka yang begitu menyukai sunset. Ia sering mengejek Arka saat saudara kembarnya itu merengek kepada Helen dan Michael untuk mengantarkannya ke pantai, hanya untuk menyaksikan sunset.
Flashback ON
"Mama! Ayo antarkan aku ke pantai sekarang juga?!" pinta Arka kecil kepada Helen.
"Sayang, kau masih sakit. Nanti kalau kamu sudah sembuh, Mama akan mengajakmu melihat matahari tenggelam setiap hari, Mama janji," tutur Helen, mengecup kening Arka.
"Aku mau, sekarang Ma. Aku sudah bosan berada di rumah sakit terus! Mama ayo! Aku mohon Ma! Ahhh Mama pelit!" menjulurkan lidahnya pada Helen.
Helen menggeleng kepala. Ia mengatur napasnya dan terpaksa mengiyakan permintaan anaknya.
"Cih, dasar lemah! Hanya pria lemah yang menyukai hal seperti itu!" kilah Arsen, dingin.
"Kau yang lemah, Ars. Hanya pria sejati yang menyukai alam!" ketus Arka tak mau kalah dengan saudara kembarnya.
"Terserah kau saja," menatap Arka dengan sinis. "Lemahhhhh!" lirih Arsen.
"Sudah ... sudah. Jangan bertengkar. Baiklah, Mama akan mengajakmu ke pantai sekarang. Tapi dengan satu syarat."
"Horeeeee! Apa syaratnya Mama?" tanya Arka.
"Arsen harus ikut."
"Tidak mau!" celutuk Arsen.
"Kalau begitu, kita tidak jadi ke pantai!"
"Mama kok gitu! Kalau Arsen tidak mau, berarti aku dan Mama saja yang pergi!"
"Kita tidak akan pergi jika Arsen tidak pergi! Jadi kau harus membujuk saudara kembarmu ini," ucap Helen terkekeh pelan.
Arka memasang wajah muram. "Baiklah," tuturnya lemas.
"Lebih baik membaca buku, dari pada membuang-buang waktu ke tempat yang tak berguna!" Arsen meraih buku di atas nakas dan meninggalkan Arka dan Helen.
"Hufthhh! Selalu saja begitu!" gumam Arka.
Flashback OFF
Mengingat kenangan tentang Arka membuat bibir tipis itu membentuk lekukan kecil. "Dasar kekanak-kanakkan!" gumamnya.
Lagi-lagi Tuan, bersikap aneh. "Tuan ..." panggil Mark.
"Apa lagi!"
"Kita sudah sampai."
Arsen memandangi halaman mansionnya. Ia teringat akan sesuatu. "Mark, masuk kembali ke dalam mobil. Ada sesuatu yang harus aku urus."
"Baik Tuan."
Mark pun kembali mengemudikan kendaraan.
"Apa kita akan kembali ke kantor?"
"Tidak. Rute kita kali ini berbeda."
"Baik Tuan."
"Antarkan aku ke tempat tinggal Garfield!"
"Baik Tuan," tutur Mark tak menyadari. Maniknya tiba-tiba melebar. "Apa Tuan tidak salah menyebutkan tujuan?"
"Kau pikir aku stupid! Antarkan saja dan jangan banyak tanya."
"Aku ... "
"Jangan beralasan jika kau tidak tau tempat tinggal kucing liarmu!"
"Baik Tuan." Apa yang akan Tuan lakukan di sana? Jangan-jangan ... Tidak-tidak! Sebaiknya aku tidak bertanya!
__ADS_1
"Kau pasti penasaran, mengapa kita menuju ke sana," tersenyum licik.
"Tidak Tuan," ucap Mark berbohong. Sialan! Aku benar-benar penasaran!
"Baiklah. Karena aku baik hati dan tidak sombong, maka aku akan memberitahumu. Terkadang aku merasa kasihan melihat wajah jelekmu bersedih."
Seharusnya aku tak merasa kasihan dengan Tuan saat di kubur. Aku tarik ucapanku tadi!
"Pasang telingamu, karena aku tak akan mengulanginya."
"Baik Tuan."
"Aku sebagai walimu, akan mewakili dirimu untuk melamar Garfield di depan orangtuanya. Bagaimana aku baik hati bukan?!"
Mendengar itu, Mark tiba-tiba syok bukan main. Ia menginjak pedal rem dengan kuat sehingga mobil itu mengeluarkan bunyi yang membuat gendang telinga bergidik ngilu.Arsen yang tak menggunakan sabuk pengaman, harus memekik kesakitan karena dahinya yang terbentur di belakang kepala tempat duduk Mark.
"Br*ngsek, kau Jodi Sinting! Kau mau membunuhku, hah!!!" mengelus jidatnya.
"Ma--maafkan aku Tuan. Aku terlalu kaget saat kau ..."
"SHUT UP!"
Peluh mulai menyucur disekujur tubuh Mark. Ia mengira jika Arsen telah melupakan soal pernikahan dadakannya dengan Jenifer.
"Karena kau calon pengantin pria, jadi aku maafkan!"
Mark terdiam sembari mengemudikan kendaraan. Pikirannya menjadi kacau, apalagi membayangkan jika dirinya harus mengakhiri masa duda kerennya dan akan menikah dengan musuh bebuyutannya.
"Apa masih lama?" tanya Arsen.
"Sebentar lagi sampai Tuan. Rumahnya ada di balik gang ini."
Mark memarkirkan mobil di depan kosan milik Jenifer. Dengan jantung yang berdegup kencang, pria itu turun dan membukakan pintu untuk bosnya.
"Kalau lamaranmu di terima, maka kau harus memberikan bunga-bunga ini padanya."
Goshhhh! Jadi ini alasan Tuan membeli banyak bunga?!
"Hey Jodi! Di mana rumahnya?!" tanya Arsen.
"Ini gedung milik Neneknya yang waktu itu pernah berkunjung ke rumah sakit bersama Nensi."
"Benar Tuan."
Arsen seketika memundurkan langkahnya. Ia juga syok saat mendengar kenyataan jika Doris adalah Nenek Jenifer.
"Ada apa Tuan?" Semoga saja Tuan tidak jadi menemui Nensi part dua!
"Tidak apa-apa. Baiklah Mark, kita harus menyiapkan mental. Karena lawan bicara kita adalah makhluk seplanet dengan mertuaku."
Deg!
"Aku pikir Tuan akan menyerah setelah mendengar Nenek Sekretaris Jen satu server dengan Nenek Nyonya Muda," lirih Mark.
"Aku mendengarnya, Jodi Sinting! Ucapan yang sudah ku keluarkan, tidak bisa ditarik kembali. Meskipun harus berhadapan dengan segerombolan Nensi yang berasal dari macam-macam planet, aku tetap akan memberlakukan ucapanku!"
Mark hanya bisa menelan liurnya. Bibirnya tertutup rapat. Tak ada gunanya ia membantah ultimatum Tuan Mudanya. Karena pada akhirnya, Mark-lah yang kalah dan Arsen-lah yang menang.
"Jangan membuang waktu. Memey dan anak-anakku menunggu di mansion. Ayo antarkan aku!"
Dengan langkah yang berat, Mark menuntun Arsen menemui Doris. Mereka tak menyadari jika mereka menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di kos-kosan itu.
"Bukankah itu Tuan Muda Winston dan Asistennya?! Ya Tuhan, mereka tampan sekali!" ujar seorang wanita dari lantai tiga.
"Astaga! Jantungku serasa pengen meledak! Meski sudah menikah, Tuan Arsen tetap guantengggg dan macooo Tapi ... aku juga menyukai asistennya. Panas-panas gimana gitu?! ucap seorang wanita lagi yang masih mengenakkan handuk di kepalanya.
"Jadi ini rumahnya?"
"Benar Tuan."
Arsen mengatur setelannya dan mengetuk pintu.
Tok ... tok ... tok
Tak ada sahutan dari dalam.
__ADS_1
Ia mencoba mengetuk pintu itu lagi dengan sedikit kuat.
Tok ... tok ... tok
"Sebentar!" teriak Doris dari dalam.
"Suaranya saja sudah membuatku gemetar!" gumam Mark.
"Ya aku setuju denganmu!" sambung Arsen.
Tak lama kemudian, seorang wanita tua berbadan besar muncul di hadapan kedua pria itu.
"Oh demi dewa! Kejutan di malam hari!" ketus Doris saat melihat Arsen dan Mark.
"Boleh kami masuk?" tanya Arsen.
"Si--silahkan Tuan-tuan."
Doris terkejut bukan kepalang saat kedua pria itu menghampiri tempat tinggalnya.
"Saya akan buatkan minuman."
"Tidak usah repot-repot. Di mana Garfield?" tanya Arsen to the poin.
"Garfield? Siapa?" tanya Doris.
"Maksudku Sekretaris Jenifer."
"Ohh cucuku yang tak berakhlak itu? Dia baru saja pulang kampung."
"Kenapa bisa begitu?!" tanya Arsen dengan wajah yang mulai emosi.
"Jeni mendapat kabar dari adiknya, jika Ibunya meninggal dunia."
Arsen dan Mark terdiam.
"Saya baru saja akan bersiap untuk pulang ke kampung untuk melihat anak saya yang malang itu." Doris mulai menangis.
"Jangan menangis, Nek. Aku akan mengantarmu malam ini," ucap Mark dengan reflek.
"Ya. Itu lebih baik," tambah Arsen.
"Trima kasih Tuan-tuan. Trima kasih banyak. Saya berhutang budi pada kalian."
Mark bingung harus mengekspresikan dirinya. Antara senang namun bersedih. Senang karena lamaran batal, namun bersedih karena mengetahui jika Ibu Jenifer telah meninggal.
"Kami turut berduka atas meninggalnya Ibu dari Sekretaris Jen," ucap Arsen.
Arsen mendekatkan bibirnya di telinga Mark. "Kau selamat kali ini, Mark. Lamaran dibatalkan! Tapi jangan berpikir kalau kau bisa lolos semudah ini! Ohya, kau tau? Ini bisa dijadikan peluang bagi dirimu untuk mulai pendekatan dengan calon istrimu. Saat ini hatinya sangat hancur. Kau bisa menjadi sandaran untuknya!" bisik Arsen.
Deg!
Tuan kau sangat licik. Bahkan di situasi seperti ini kau masih saja berpikir seperti itu.
"Nek, serahkan saja pada asistenku. Dia pasti akan mengantarmu dengan selamat. Dan sampaikanlah pada Sekretaris Jen kalau aku dan istriku turut sepenanggungan."
"Baik Tuan. Trima kasih banyak."
"Mark, aku pulang duluan. Aku akan menyuruh sopir lain untuk menjemputku."
"Aku akan mengantar Tuan terlebih dahulu."
"Tidak perlu. Sebaiknya kau bergegas. Karena Garfield pasti membutuhkanmu."
Mark dengan terpaksa mengiyakannya. Pikirannya bercabang, antara mengkhawatirkan Tuannya dan menghawatirkan Jenifer.
Semoga kau baik-baik saja, gadis jorok! Batin Mark.
Tbc ...
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*
.
.
__ADS_1
.
Follow ig : @syutrikastivani