
Karyawan menjadi heboh. Amey yang sementara fokus di layar monitor merasa risih dengan kegaduhan yang dibuat bawahannya. Ia memejamkan mata sembari menepuk meja kerjanya dengan kuat.
Para wakil manajer wanita yang ada di ruangannya melonjak kaget dan membungkam mulut. Mereka memandangi wajah Amey yang terlihat murka dari balik kaca pembatas ruang Manajer Umum dan ruang keempat Wakil Manajer wanita itu.
Amey menancapkan pandangan mematikan yang bisa membuat karyawannya bertekuk lutut. Tentu saja ia sangat tegas dalam hal pekerjaan. Ia bisa berubah menjadi dingin saat karyawan yang bekeja dengannya tidak profesional.
Tapi sifatnya tegas dan disiplin itu hanya saat berhadapan dengan pekerjaan. Namun di luar pekerjaan, ia selalu ramah dan murah senyum. Malahan saking baiknya Amey, ia sering kali membelikan makanan untuk pegawainya, ataupun mengajak mereka bersenang-senang, seperti menonton di bioskop atau pergi berbelanja.
Seorang bawahannya yang sekaligus menjadi sahabat curhat Amey menghampirinya di ruangan Manager Umum. Ia mengetuk pintu Amey dan disambut sahutan dari dalam ruangan.
"Ada apa Jen?" tanya Amey menghentikan aktivitasnya.
"Itu Mey, suamimu datang ke hotel."
Sejenak Amey berpikir. "Suami?" gumamnya. "Ma-maksudmu Arsen?" tanya Amey terbelalak.
"Siapa lagi suamimu kalau bukan si tuan arogan itu." ketus Jenifer.
"Ngapain dia kemari?"
"Mana kutahu. Kau tidak lihat semua karyawan perempuan heboh sendiri?"
"Apa hubungannya dengan kedatangan Arsen?" mengerutkan kening.
"Amey, Amey. Apa kau tidak sadar jika suamimu itu sangat tampan, tajir melintir, dan badannya ituloh, uhhhh. Jelaslah dia digilai oleh semua wanita sejagat raya!" celutuk Jenifer menaikan nada.
"Cih, pria angkuh seperti itu kau bilang tampan? Kalau mau ambil sana!" tutur Amey memutar bola mata dengan malas.
"Jika kau mengijininya." ucap Jen tersungging.
"Ini nih, bibit-bibit pelakor!"
"Ya enggalah! Aku kan hanya bercanda."
"Bagiku, Arka yang terbaik dari semua pria. Percuma dia tampan, kaya dan cerdas kalau sifatnya dingin dan arogan! Bagiku dia si buruk rupa." umpat Amey.
Kedua wanita itu tidak sadar jika pria yang dimaksud sudah berdiri tepat di belakang Jen. "Si buruk rupa ada di sini!" tutur Arsen dingin.
Deg!
Jantung Jen berdetag hebat. Tentu saja karena ia secara langsung mendengar suara Arsen. Ada rasa takut sekaligus rasa senang. Jen menepi dan membiarkan Arsen mendekati Amey.
Wajah Amey sama sekali tidak berubah saat melihat Arsen yang muncul dengan tiba-tiba. Malahan wanita itu mengacuhkannya dan kembali menatap layar komputer.
"Bisa kita bicara sebentar?" ucap Arsen.
"Aku sibuk."
"Baiklah." tutur Arsen seraya melemparkan pandangnya ke arah Jen. "Sepertinya hari ini merupakan hari terakhirmu bekerja di hotel ini."
Jen terperanjat. Ia tidak bisa berucap saat mata Arsen menatapnya dengan tatapan membunuh. Amey yang mendengar ucapan Arsen ikut termangu.
"Kau tahu apa kesalahanmu?" tanya Arsen berjalan mendekat ke arah Jen.
__ADS_1
Jenifer menggeleng kepala dengan cepat. Peluh di dahi Jen menyucur begitu saja. Kaki dan tangan Jen gemetar hebat. Ia tidak tahu apa kesalahannya sehingga pria dingin itu memecatnya.
"Saya tidak membutuhkan karyawan penggosip! Salahkan mulutmu yang ember!"
"Arsen! Jangan memecatnya. Aku yang salah!" tukas Amey membela Jen.
"Kau juga di pecat. Bukannya waktu itu aku sudah memperingatkanmu untuk tidak usah datang bekerja? Kau tuli?"
Amey mengepalkan tangannya. Ia semakin kesal dengan tingkah Arsen. Amey menarik napas panjang dan menghembuskannya. "Baiklah, aku minta maaf. Aku salah telah mengatakanmu buruk rupa. Aku salah telah mengajak Jen bergosip tentangmu. Tapi aku mohon jangan pecat Jen. Pecatlah aku." pinta Amey terpaksa.
"Wow!" menepuk tangannya. "Luar biasa. Apa kalian berpacaran? menyunggingkan bibir. "Drama ini sungguh menarik."
"Jen sahabatku. Jangan pecat dia. Jen tidak bersalah." lirih Amey menunduk.
"Baiklah ... baiklah. Aku tidak akan memecat wanita ini. Tapi hukuman dia, kau yang gantikan." mengangkat alis setengah.
Amey berpikir. Ia merasa berat menerima tawaran dari Arsen yang menurut perasaannya hukuman itu pasti sangat buruk. Tapi mau bagaimana lagi, masa depan sahabatnya ada di tangan Amey. "Baiklah. Aku akan menggantikannya."
"Amey? Jangan ..." ucap Jen merasa bersalah.
"Tidak apa Jen. Lagi pula ini salahku."
"Berhenti membuat drama!" tukas Arsen. "Kau keluarlah, sebelum saya berubah pikiran!" menatap Jen yang masih termangu di sudut ruangan.
Jen memandangi Amey. Ia merasa tidak enak meninggalkan sahabatnya itu bersama pria kasar di depannya. Tentu saja Jen sangat tahu dengan perilaku Arsen. Ameylah yang selalu mencurahkan isi hatinya pada sahabatnya itu lewat telepon atan chattingan.
Amey memberi kode bahwa ia akan baik-baik saja. Jen bergegas keluar dari suasana yang mencekam itu. Nyawanya langsung kembali ke raganya saat ia keluar dari ruangan Amey.
"Kau tenang saja. Dia adalah sahabatku yang sangat aku percayai. Tidak usah bersandiwara di depannya! Dia sudah tahu semuanya."
"Kau menceritakan semuanya pada wanita itu?"
Amey mengangguk.
"Jangan salahkan aku jika wanita itu akan menderita seumur hidupnya!"
"Apa maksudmu? Aku yang akan menanggung hukuman untuknya. Jangan kau sakiti dia. Dia perempuan baik-baik."
"Kau memang sangat bodoh rupanya! Bisa saja dialah yang mengekspos berita kematian Arka. Bisa saja dialah dalang yang hampir menghancurkan WS Group!" jelas Arsen.
Amey diam. Ia kembali berpikir. Ada benarnya juga ucapan Arsen. Secara yang tahu mengenai masalah keluarga Winston hanya orang-orang terdekat mereka. Kai dan Jay tidak mungkin melakukan hal sembrono seperti itu. Sedangkan pelayan rumah memang tidak mungkin membeberkannya karema syarat utama bekerja di rumah itu adalah menjaga rahasia sekecil apa pun.
"Sekarang kau sudah sadar." Arsen berkacak pinggang.
"Tidak! Bukan Jenifer pelakunya. Aku sangat mengenal dia. Aku sangat percaya padanya!" bela Amey mempertahankan pendiriannya.
"Baiklah. Cepat atau lambat aku pasti akan mengetahuinya. Dan jika terbukti dialah pelakunya, jangan harap tubuh perempuan itu bisa utuh lagi!"
Amey terperangah dengan ucapan mengerikan Arsen. Namun ia juga tidak akan memaafkan sahabatnya jika Jen terbukti bersalah.
"Katakan maksud kedatanganmu kemari. Aku sangat sibuk."
"Ikutlah denganku."
__ADS_1
"Ke mana? Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku."
"Kau lupa jika kau sudah dipecat?"
Lagi-lagi Amey mendengus kesal. Ia kembali mengalah dengan situasi. Arsen memang selalu punya cara membuat Amey menyetujui perintahnya.
"Aku akan pergi denganmu, tapi kau jangan memecatku." lirih Amey.
"Deal!" tukas Arsen.
Mau ku ajak ke mana wanita ini! Kok aku yang jadi canggung. Mark! ... iya Mark, hanya dia yang bisa memberi pencerahan! Di mana cecunguk sialan itu.
***
Sudah dua jam setengah mereka berada di dalam mobil, berputar-putar tidak jelas. Amey menjadi bingung dengan tujuan perjalanan mereka. Sedangkan Arsen memang tidak tahu harus ke mana.
Maksud kedatangannya di tempat kerja Amey hanyalah untuk melihatnya saja. Tapi karena suatu kejadian yang tidak terduga sehingga membuat pria itu naik pitam dan tidak dapat mengontrol emosi.
Hal itu membuat Arsen asal bicara mengajak Amey ke luar kantor. Arsen menatap Mark dari spion. "Ehem." Arsen berdehem mengisyaratkan Mark untuk membalas tatapannya di kaca namun tidak ada respon dari Mark.
Arsen menjadi emosi sendiri, akhirnya ia berteriak memanggil Mark yang sibuk mengemudi tanpa tujuan. "Mark!" teriaknya.
"Iya Tuan?"
"Kembali ke kantor."
"APA?!" tukas Amey tiba-tiba.
"Jangan berteriak! aku tidak tuli."
"Sudah hampir tiga jam kita berada di dalam mobil, mengelilingi panasnya kota Jakarta, dan kau bilang kita kembali ke kantor?" tutur Amey tidak habis pikir dengan pria yang duduk di sampingnya.
"Benar!"
"Wah ternyata kau memang sakit!"
"Aku sehat."
"Tidak! Kau memang sakit jiwa," celutuk Amey emosi.
"Shut up!" Arsen mengepalkan tangan.
"Hey! Kau tahu, kau sudah membuang waktu berhargaku! satu menit sangat berarti bagiku. Dan ini apa? Hampir tiga jam lamanya aku berkeliling tidak jelas denganmu! Turunkan aku di sini." pinta Amey.
"Kalau mau, melompat sana." ucap Arsen menyeringai.
Mark terkekeh pelan. Sebenarnya ia sadar jika Tuan Mudanya itu ingin belama-lama dengan istrinya, meski Arsen masih belum sadar dengan perilakunya.
To be continued ...
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE 😘
(btw, rate novel ini menurun guys 😩 bantu menaikan ratenya yaaa readerss kesayangan aquhhh❤️❤️)
__ADS_1