
Zira mendekati Sri yang terlelap lalu merapikan selimut nya yang sedikit menyingkap.
setelah itu zira masuk ke kamar mandi untuk buang air kecil, seseorang masuk ke dalam ruangan tersebut tanpa ada yang tahu termasuk zira yang sudah masuk dalam kamar mandi.
"hai bangun nenek lampir...!"
ujar Siva pada Sri yang langsung membuka mata nya.
"jaga mulut kamu siva...kamu ngapain di sini!?"
tanya Sri menautkan kedua alisnya menatap Siva yang memandang nya Dengan penuh kebencian.
"tentu aku datang untuk memberi tahu mu kalau aku hamil oleh Ali...!"
Zira yang hendak keluar menghentikan langkahnya saat mendengarkan seseorang berbicara dengan Sri, zira senyum lalu menyalakan perekam suara pada ponselnya.
"tidak mungkin kau hamil...!"
sahut Sri lirih namun terdengar jelas oleh Siva juga zira yang langsung terperangah mendengar hal itu, apa mungkin Sri juga tahu keadaan Siva.
"kau kan mandul Siva, jangan bermimpi menjadi istri Ali...zira itu lebih baik dari mu!"
Siva langsung terkekeh geli mendengar penuturan Sri.
"kenapa tidak, bukan kah kau menginginkan hal itu sejak lama. bagaimana kalau kita bekerja sama untuk memisahkan Ali dan mendukung kebohongan ku ini..!"
Siva tertawa kecil semakin mendekat.
"jangan harap aku mau bekerja sama dengan mu, kau perempuan tidak tahu malu!"
jawab Sri membuat Siva mencengkeram erat rahang Sri.
"kau yang membuat kau seperti ini.... dasar nenek lampir, aku harap kau cepat mati!"
ucap Siva mencabut Selang pernapasan yang berada di hidung Sri.
"Siva kau gila...!"
umpat Sri merasakan sesak.
gegas zira keluar lalu mendorong Siva agar menjauh dari Sri.
"berani kau menyakiti mertua ku!"
ujar zira menatap tajam ke arah Siva yang terkekeh kecil.
"mengaku mertua, bukan kah dia tidak pernah menganggap mu menantu?"
balas Siva tertawa kecil mengejek zira.
__ADS_1
"mertua itu orang tua dari suamiku tak perlu mendapatkan pengakuan karena sesungguhnya ikatan itu nyata adanya..."
jawab zira senyum penuh kemenangan, ia harus segera membongkar kebohongan Siva.
"terserah tapi sekarang aku hamil.."
ucap Siva dengan percaya diri padahal semua orang sudah tahu kebohongan nya.
"benar kah, kamu bukan hanya pandai bersandiwara tapi kamu berani mencelakai orang lain. apa yang terjadi jika Ali tahu"
jawab zira lalu menoleh ke arah pintu yang terbuka.
"ada apa ini... Siva sedang apa kamu di sini?"
tanya Ali menatap tajam ke arah Siva yang berdiri tak jauh dari zira.
"dia hendak mencelakai mommy!"
Jawab zira menoleh ke arah Sri yang termenung sendiri menatap Siva yang terlihat geram.
"berani sekali kamu Siva?"
ujar Ali menarik tangan Siva untuk keluar dari ruangan itu di ikuti oleh Zira yang ikut keluar.
"lepas Al sakit....!"
ujar Siva melepaskan cengkraman tangan Ali pada tangan nya.
sambung Siva menatap Ali yang langsung terkekeh.
"perempuan mandul mana bisa hamil, HM..?"
tanya Ali membuat Siva tercengang karena Ali sudah mengetahui kebohongan nya.
"siapa yang bilang aku mandul, aku sungguh sungguh hamil Al... apa kau lupa!"
elak siva tak mau kalah.
"benar kau hamil, ayo ikut dengan ku ke dokter kandungan!"
ajak Ali menarik tangan Siva yang langsung mundur.
"bang, dia mau celaka kan mommy!"
ujar zira membuat Ali mengepal kan tangan nya, sementara Siva menggeleng dengan raut wajah takut.
"bohong....!"
Siva kembali mengelak lalu pergi berlari kecil menjauh dari Ali dan zira namun ia tidak melihat kalau ada brankar yang melaju dengan cepat membawa pasien dan langsung menabrak Siva hingga terhempas, gegas Ali menghubungi keamanan untuk mengamankan Siva.
__ADS_1
"Ali lepas kan aku!"
ucap Siva sambil meringis, waktu menjelang malam Siva malah membuat keributan, Ali tak mempedulikan Siva dan menyuruh keamanan untuk mengurusi Siva.
"maafkan mommy ku Siva... Lebih baik sekarang kamu bertaubat dan menyadari tidak semua keinginan bisa terpenuhi...."
Tutur Ali lalu pergi meninggalkan Siva yang kemudian menangis.
Ali mengajak zira kembali ke kamar, sebelumnya zira sudah meminta suster menuggu Sri.
keduanya melangkah beriringan di koridor rumah sakit, Ali bersyukur karena masalah dengan Siva sudah selesai.
ia tidak perlu menemui Siva untuk membongkar sandiwara nya, ia datang sendiri menghampiri kandang nya.
gegas Ali masuk ke dalam ruangan, terlihat Sri membuka mata dengan pandangan kosong.
"suster bagaimana keadaan mommy saya!"
ali cemas mengingat Siva yang hampir mencelakai Sri.
"Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa..."
jawab suster senyum lalu pamit keluar.
Sri tidak menyangka kalau Siva bisa senekat itu dan semua terjadi karena kesalahannya, untung ali dan zira tidak terpengaruh oleh tindak tanduk buruk Siva yang berbohong demi sebuah ambisi.
"mommy baik baik saja kan?"
tanya Ali, Sri langsung mengangguk lalu kembali memejamkan matanya.
Ali mencium kening Sri lalu membenarkan selimut nya.
"Siva tidak berbuat apa apa kan sama kamu de?"
tanya Ali menghampiri zira yang menyiapkan makanan untuk mereka berdua.
"Siva doang mah kecil, aku bisa atasi!"
jawab zira senyum lalu keduanya makan bersama.
tak lama Nadia datang membawa pakaian ganti untuk Ali dan zira namun keduanya langsung pamit karena tidak ingin mengganggu istirahat Sri.
Sri membuka mata nya saat melihat Ali dan zira tengah solat berjamaah di ruangan itu, hati nya terenyuh saat mendengar Ali berdoa untuk kesembuhan nya, betapa tulusnya rasa sayang itu namun Sri selalu membalas nya dengan kekangan.
setelah itu kedua nya mengaji bersama, Sri kembali terenyuh mendengar suara zira mengaji, kedua hal itu membuat Sri sadar bahwa selama ini ia Kurang bersyukur dan tidak menyadari Tuhan memberikan ujian itu untuk menyadarkan nya agar kembali ke jalan nya yang lurus karena selama ini ia sudah jauh dari Robb nya.
"harusnya aku bersyukur memiliki menantu seperti zira!"
gumam Sri mulai sadar bahwa zira merupakan menantu yang baik.
__ADS_1
bersambung