
Pagi itu Alena datang ke ruangan Sri dengan membawa bayi mungil nya menggunakan kursi roda, Sri senyum lalu menitikan air mata nya.
ia teringat Kahiyang yang sudah tiada, terkadang berpikir kenapa cucunya yang lebih dulu pergi padahal dia yang lebih dulu sakit.
"mommy.... lihat ini cucu mommy!"
ujar Alena mendekati ranjang dengan memajukan kursi roda nya.
"cucu mommy laki laki?"
tanya Sri lirih, ia bersyukur karena masih sempat melihat cucu nya di penghujung waktu nya.
Alena mengangguk lalu mendekatkan esa dan menidurkan nya dekat Sri.
Sri senyum lalu mencium pipi bayi tersebut sambil terisak." terimakasih tuhan karena kau memberikan ku kesempatan untuk melihat cucu ku...aku ikhlas jika harus pulang!"
mereka yang berada di ruangan itu tertegun melihat Sri yang terisak, gegas Ali mendekati lalu memeluknya erat.
saat ini hanya bersama anak lah Sri menumpahkan segala kesedihan nya.
"Terima kasih tidak meninggalkan mommy yang angkuh....!"
ucap Sri menatap orang orang yang berada di sekitar nya, hati nya pilu mengingat seseorang yang sudah meninggalkan nya meski itu salah nya sendiri.
"kami akan selalu ada untuk mommy, jangan sedih ya mi...!"
tutur Alena menggenggam tangan Sri.
rencananya siang ini mereka akan pulang, Ali terpaksa mengikuti keinginan Sri yang enggan tinggal di rumah sakit.
mereka sepakat untuk melakukan perawatan di rumah, nanti akan ada dokter yang memantau keadaan Sri.
Alena sudah meminta salah satu dokter untuk memeriksa keadaan Sri di rumah, zira membantu pembantu membereskan barang-barang yang hendak di bawa untuk pulang, namun zira menghentikan gerakannya saat merasa pusing dan mual kembali melanda nya.
"kamu kenapa sayang...?"
tanya Ali mendekat.
"enggak tahu rasanya mual sama pusing, laper juga bang!"
jawab zira sambil nyengir membuat Ali gemas.
"ya sudah kita beli makanan dulu ya...!"
ajak Ali dan di anggukan oleh zira yang langsung pamit pada yang lain nya untuk keluar mencari makanan terlebih dahulu.
langkah nya terhenti saat melihat Nadia dan Reza sampai di pintu.
"mau kemana?"
tanya Reza.
"cari makan dulu, lapar nih!"
jawab zira senyum lalu tertegun saat Nadia memberikan bungkusan plastik.
"apa nih?"
tanya zira menilik isi dalam kantong plastik Tersebut.
"itu sarapan untuk kamu, ketoprak....!"
jawab Nadia membuat zira langsung ceria.
__ADS_1
"terimakasih....tahu aja kalau kita laper..!"
balas zira duduk di kursi tunggu untuk menyantap makanan nya.
Reza dan Ali senyum memperhatikan zira yang terlihat lahap, Reza mengalihkan pandangan ke arah Ali lalu membicarakan soal Siva yang langsung di tindak lanjut oleh pihak kepolisian dengan kasus percobaan pembunuhan pada Sri dan juga kasus penipuan perihal kehamilan palsu nya itu.
****
siang itu mereka akhirnya kembali ke rumah karena kondisi Alena juga sudah membaik karena ia melahirkan secara normal, Rumah besar itu tampak ramai karena ada Ali, zira dan dari keluarga Toni yang melihat Esa.
Ali menugaskan Reza untuk ikut memantau kantor bersama orang kepercayaan Wisnu, kemungkinan besok Ali kembali ke kantor.
Zira merapikan kamar Sri di bantu oleh pembantu yang sudah biasa dengan nya, membuka semua jendela agar cahaya matahari masuk, Ali mendorong kursi roda milik Sri.
"apa kalian akan pulang?"
tanya Sri pada zira yang langsung menoleh.
"enggak kita akan menginap di sini sampai mommy sembuh!"
jawab Ali senyum dan dia anggukan oleh zira.
tak lama dokter dan suster masuk ke dalam kamar untuk memberikan perawatan pada Sri.
"Zira bantu ya mi....!"
ujar zira membantu Sri naik ke ranjang, Ali senyum memindai wajah Sri yang senyum pada zira.
seperti nya keadaan sudah lebih melunak.
"terimakasih zira....!"
untuk pertama kalinya Sri berbicara pada zira dengan nada lembut.
"assalamualaikum...!"
seseorang masuk ke dalam kamar membuat Ali dan zira langsung menoleh.
"walaikumsalam......"
Ali senyum menatap Wijaya yang mendekati mereka.
"Dady ke rumah sakit, Dady tidak tahu kalau kalian sudah pulang!!"
ujar Wijaya duduk di tepi ranjang tanpa sungkan, membuat Sri langsung terpaku.
indah sendiri menuggu di bawah mengobrol dengan Alena, untunglah saat itu Wisnu berada di Ruang kerja nya,karena indah merasa tidak enak dengan apa yang sudah terjadi, meski bukan sepenuhnya kesalahannya namun tetap saja Indah cukup tahu diri.
"enggak apa-apa Ko bang kalau misal Abang sama mba Sri mau rujuk..."
ujar indah malam sebelum mereka kembali dari luar kota.
"tidak indah, jangan berpikir seperti itu!"
jawab Wijaya.
"kenapa tidak, apa salahnya memberikan kebahagiaan di akhir hidup seseorang..."
balas indah yang juga prihatin dengan kondisi Sri yang semakin lemah.
"aku tidak tahu....!"
"tapi aku ikhlas....."
__ADS_1
jawab indah membuat Wijaya tertegun.
*
Ali dan Zira tertegun saat mendengar penuturan Wijaya pada Sri yang juga langsung terperangah tidak percaya.
"bagaimana kalau kita rujuk, aku minta maaf karena sudah menyakiti kamu"
ucap Wijaya.
"omong kosong macam apa? bukankah kamu sudah ada indah!"
jawab Sri memalingkan wajahnya.
"ya tapi indah lah yang meminta ku untuk rujuk dengan mu, kita tinggal bersama!"
Sri terkekeh kecil mendengar apa yang Wijaya lontar kan.
"aku serius, aku ingin berada di samping mu.... seperti Dulu meski kini ada indah tapi dia bersedia menjadi madu untuk mu!"
Sri hanya menitikkan air mata tak bisa menjawab penuturan Wijaya karena sesungguhnya ia pun berharap Bisa menghabiskan waktu terakhir nya bersama Wijaya.
"gimana mi? apa mommy mau rujuk dengan Daddy?"
tanya Ali.
"tidak tahu, mommy harus membicarakan hal ini dengan ayah..!"
"ayah terserah kamu nak..."
jawab Wisnu yang berada di ambang pintu.
"kalau itu bisa membuat mu bahagia kenapa tidak, ayah akan ikut bahagia!"
Ali dan Zira senyum dan bersyukur akan keadaan itu, indah dan Alena masuk ke dalam kamar, keduanya mendekati Sri yang terisak.
"maafkan indah ya Mba!!"
ucap indah memeluk Sri yang juga memeluknya.
***
hari hari berlalu, Sri dan Wijaya sudah rujuk.
bahkan kini indah tinggal bersama mereka.
Zira masuk ke kamar Sri untuk mengajaknya keluar untuk sarapan, bersyukur kondisi nya membaik setelah bersatu dengan Wijaya, mungkin hal itu juga memberikan kekuatan untuk Sri bertahan dari rasa sakit nya.
indah sendiri tengah menyiapkan sarapan untuk mereka.
"Ali sudah berangkat?"
tanya Sri pada Zira yang langsung menoleh.
"sudah pagi pagi sekali, tadi sempat ke kamar mommy tapi mommy masih tidur dan Ali tidak mau mengganggu!"
jawab Zira lalu mendorong kursi roda milik Sri untuk berkumpul di ruang makan.
"kita sarapan ya mi, nanti Zira ajak mom jalan jalan di halaman depan!"
Sri mengangguk menurut pada zira yang mendorong kursi roda nya.
bersambung..
__ADS_1