
Ali termenung menggigit jari nya sendiri, seperti biasa ia selalu terjebak macet, jalanan yang tak memadai dengan kapasitas mobil yang berjibun.
Ali tidak tahu apakah sikapnya sudah keterlaluan pada Sri tadi.
"Mom sakit?"
Sri hanya menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan dari Ali.
"kenapa mommy enggak cerita sama kita?"
tambah Ali.
"kamu sibuk sama perempuan itu, mana ada waktu kamu memikirkan mommy!"
jawab Sri memalingkan wajahnya dari Ali.
"jangan berkata seperti itu mom, Ali dan zira sebenarnya peduli sama mommy, kenapa sih mommy enggak mau terima dia? seperti kakek....dan Alena!"
ujar Ali menatap wajah penuh angkuh.
"sudahlah mommy tidak ingin membicarakan hal itu, sebentar lagi juga mommy akan mati!"
sahut Sri membuat Ali menghela nafas.
"jangan bicara seperti itu mi, Ali sayang mommy!"
"sayang, kamu mau mewujudkan impian mommy? kalau sayang kamu harus nurutin permintaan mommy, al!"
ali kembali tertegun.
"permintaan apa?"
"tinggalkan perempuan itu dan menikah lah dengan pilihan mommy....!"
Ali menghela nafas panjang.
"maaf mi kalau soal itu Ali enggak Bisa, Ali dan Zira saling mencintai.... Ali rasa mommy tahu bagaimana rasanya jauh dengan orang yang kita cintai"
Sri terkekeh mendengar penuturan sulung nya.
"maksud mu Wijaya, mommy tidak mencintai nya.....!"
"bohong kalau mommy sudah tidak mencintai Dady, Ali tahu mommy masih mengharapkan Dady!"
"terserah kamu Al, yang pasti mommy tidak bisa menerima keberadaan istri kamu!"
"ya tapi Ali juga tidak Bisa meninggalkan zira apa lagi sekarang ada anak....!"
ujar Ali mencoba untuk sabar menghadapi Sri.
"kamu bisa bawa anak mu dan tinggal kan perempuan kampung itu..... kalau kamu sayang sama mommy!"
"kenapa mommy berpikir sepicik dan Setega itu, padahal kalian sama sama perempuan... sekarang Ali tahu kenapa Dady meninggalkan mommy.....Ali minta maaf kalau Ali enggak bisa memenuhi keinginan mommy, karena zira dan Kahiyang menjadi tanggung jawab Ali di Dunia dan akhirat....Ali sangat mencintai zira,dan enggak mau Pisah sama dia mi.."
Ali langsung pergi meninggalkan Sri yang membisu.
__ADS_1
Alena dan Toni langsung pergi Meninggalkan pintu saat mendengar Ali hendak keluar dari kamar itu, keduanya tak sengaja mendengar percakapan anak dan ibu itu.
bukan tak ingin berbakti tapi permintaan Sri begitu berat, Ali tidak akan sanggup jauh dari istri dan anaknya.
**
tak berapa lama Ali sampai di rumah, keadaan sudah sepi. seperti nya si cantik Kahiyang sudah tidur.
gegas Ali masuk ke dalam kamar untuk bertemu dengan istri nya.
"assalamualaikum..."
sapa Ali menyembul masuk, terlihat Zira tengah berada di dekat bok bayi si cantik Kahiyang.
"walaikumsalam......kok aku enggak dengar kamu pulang"
ujar zira menghampiri Ali yang menatap nya lekat, zira meraih tangan Ali lalu mencium nya berulang kali.
"capek ya...?"
tanya zira senyum lalu mengambil tas yang berada di tangan kiri Ali.
Zira tersenyum memperhatikan Ali yang terus menatap nya hingga ia malu dan merona.
"mau aku bantu buka baju nya?"
tanya zira pada Ali yang langsung mengangguk.
Zira membantu Ali melepaskan jas hitam nya, lalu membuka satu persatu kancing kemeja nya, hingga kemeja itu terlepas dari tubuh nya yang atletis dan wangi.
"kamu mandi dulu ya bang, aku ambil makanan untuk kamu ya!"
"kenapa bang?"
"HM, Abang rindu sekali sama kamu!"
Zira memejamkan matanya saat bibir pria itu menyisir leher jenjangnya.
Ali membalikkan tubuh istri nya hingga menghadap nya, mencium bibir singkat.
"bang.....!"
zira menunjuk bibir Ali dengan jari nya, khawatir suaminya itu tidak bisa mengontrol diri karena ia masih dalam masa nifas, mungkin setelah beberapa hari lagi ia tidak akan menahan hasrat suami nya itu.
"ya Abang ingat, tapi kalau cium boleh kan de!"
zira mengangguk dan mengajak Ali untuk duduk di ranjang, seperti biasa Ali selalu meminta zira untuk duduk di pangkuan nya.
zira menyentuh dada bidang milik Ali saat bibir Ali bermain di bibir nya, memejamkan matanya saat Ali terus memperdalam ciuman nya.
"mana mungkin aku bisa berpaling dari sosok perempuan yang begitu aku cinta dan menjadi candu dalam hidup ku...aku bisa gila!"
gumam Ali dalam hati lalu melepaskan bibir ranum milik istri nya saat nafas keduanya terengah.
"sebenarnya enggak mandi juga tetap wangi tapi seharian kamu beraktivitas, jadi sebaiknya kamu mandi dulu ya!
__ADS_1
Zira bawa makanan untuk kamu ke dalam!"
Ali mengangguk lalu membiarkan zira beranjak dari Pangkuan nya.
niatnya Arjun akan datang hari ini namun karena masalah itu,Ali meminta Arjun untuk datang Weekend nanti.
"yang, kamu mau enggak jadi model!"
tanya Ali sambil menyuap makanan nya.
"jadi model apa bang, kamu tuh ada ada aja!"
jawab zira terkekeh duduk di hadapan Ali yang tengah makan.
"Abang serius, sebenarnya Abang enggak mau tapi ini kesempatan yang bagus juga untuk nambah pengalaman kamu...jadi teman Abang itu punya perusahaan fashion, hijab lovers... kemarin dia lihat video kamu yang lagi melawan empat orang penjahat itu de...
dia tertarik jadiin kamu model nya....!"
Zira mengangguk.
"weekend ini orang nya kesini untuk bicarakan soal itu sama kamu, sama kita!"
"oh gitu bang, tapi zira enggak bisa dan bukan model!"
"belajar aja, teman Abang itu istri nya seorang Poto graper handal, nanti di ajarin kamu!"
Ali berpikir sama seperti Toni, mungkin ini bisa jadi peluang untuk zira meraih kesuksesan dan mungkin dengan itu mata Sri akan sedikit terbuka.
Ali tidak bisa jika harus berpisah dengan zira apa lagi memisahkan ibu dan anak.
"ya udah nanti coba ngobrol aja sama teman Abang....!"
"ya de... nanti kita ngobrol bareng ya!"
"terus tadi Abang ada urusan apa ke rumah?"
tanya zira.
"oh itu, mommy sakit... Abang abis tengok...!"
jawab Ali sekena nya, ia tidak ingin bercerita tengah percakapan nya dengan Sri.
"oh sakit apa? gimana keadaan nya bang?"
"ya biasa lah de, dia kan sibuk kurang istirahat....!"
Zira mengangguk, seperti pinta nya pada Ali untuk tetap bersikap baik seperti apapun sikap Sri terhadap mereka.
"Udah malam, istirahat yuk... Abang pengen peluk kamu!"
ucap Ali mengajak zira naik ke ranjang lalu merebahkan diri bersama melupakan hal yang membuat jiwa lelah dan sesak karena Sri terus mendesak.
Ali mencium rambut istri nya yang wangi dan panjang, zira sosok istri yang shalihah, baik dan juga sabar mana mungkin Ali tega menyakiti nya.
"tidur yuk, soalnya bentar lagi si cantik pasti ngajak melek....!"
__ADS_1
Ali dan Zira terkekeh kecil mengingat beberapa waktu ini mereka kurang tidur karena Kahiyang selalu terjaga di malam hari.
bersambung...