terpikat pria tampan amnesia

terpikat pria tampan amnesia
keras.


__ADS_3

Zira terenyuh mendengar Ali mengadzani putri mereka, suaranya yang lirih namun terdengar syahdu pria itu mengadzani putri Nya sambil menyeka air matanya.


Ali menilik betapa cantiknya putri mereka, mata yang indah, bulu matanya lentik dan hidung nya yang mancung seperti dirinya.


"namanya siapa pak Ali?"


tanya suster hendak menandai bayi tersebut.


"nama nya Kahiyang Bestari..."


Kahiyang Bestari artinya anak perempuan dari surga dengan pengetahuan luas.


"cantik seperti namanya...."


ujar suster lalu mencatat nama tersebut.


"bagus enggak nama nya?"


tanya Ali, zira sendiri menyerahkan pemberian nama pada Ali.


zira mengangguk sambil tersenyum meminta Ali mendekati nya.


"terima kasih ya sayang...."


Ali mencium kening zira lama.


"pak Ali boleh bawa bayi nya keluar sambil menunggu kami membersihkan ibu zira!"


suster memberikan Putri cantik mereka dengan bando pita berwarna merah muda.


"wah, Putri ayah tambah cantik...."


Ali tersenyum menatap Kahiyang yang langsung menggeliat membuat Ali gemas.


"Abang keluar dulu ya sayang...."


zira mengangguk.


Rumi langsung beranjak dari duduknya saat melihat pintu terbuka, Ali menyembul dari pintu membawa bayi mereka.


"Alhamdulillah...cucu ibu Masya Allah cantik..."


Rumi meminta untuk menggendong bayi mereka.


"cantik sekali...."


Alena mendekati Rumi yang menggendong bayi tersebut.


"aku juga mau!"


tambah Alena tersenyum mengandeng tangan Toni.


"ya itu juga kan lagi hamil, mudah mudahan sama seperti......"


Toni menghentikan ucapan karena tidak tahu nama bayi tersebut.


"nama nya Kahiyang....!"


sahut Ali membuat netra Alena berbinar.


"bagus banget Nama nya.....sini sama Tante!"

__ADS_1


pinta Alena pada Rumi yang langsung memberikan Kahiyang pada Tante nya.


"cantik......"


ujar Alena tersenyum.


***


Ali masuk ke dalam ruang perawatan mengikuti langkah suster yang membawa Zira masuk, sementara bayi mereka sudah masuk ruang bayi.


"gimana keadaan kamu Ra?"


tanya Rumi sambil mengelus rambut zira yang panjang.


Zira senyum menatap wajah sang ibu yang sudah melahirkan dan membesarkan nya hingga ia bisa seperti sekarang ini.


rasa sakit melahirkan membuat zira merasa bahwa selama ini ia belum jadi anak yang baik di banding dengan apa yang sudah Rumi pertaruhkan untuk nya.


"peluk Zira bu....!"


pinta zira merentang kan tangan nya memeluk Rumi yang langsung mendekap putri nya.


"dari hal ini zira mengerti bagaimana pengorbanan seorang ibu, maaf kan Zira Bu karena udah bandel....!"


Zira menoleh ke arah Ali, teringat Sri yang Ali tinggal demi dirinya, zira berpikir harus bisa membuat keduanya rukun kembali.


"kenapa sayang?"


zira menggelengkan kepalanya pelan masih dalam dekapan Rumi.


"makan dulu, ibu suapin ya!"


zira mengangguk menerima suapan dari Rumi, entah kapan terakhir Rumi menyuapi nya, Zira sendiri sudah lupa.


***


malam itu Sri merasakan dada nya begitu nyeri, tangan nya membuka laci nakas untuk mencari obat yang selama ini menjadi kebutuhan sehari-hari nya.


"Anda menderita kanker payudara dan harus segera dilakukan operasi..."


ujar dokter menjelaskan kronologi penyakit yang di deritanya, Sri tertegun sendiri tak ingin kehilangan salah satu payudara nya.


"mungkin lebih baik mati daripada harus kehilangan salah satu nya, hal itu tidak akan mengurangi rasa sakit..."


Sri teringat akan teman nya yang juga menderita penyakit yang sama, beliau tetap meninggal meski telah melakukan operasi.


Sri mendengar obrolan Alena dan Wisnu Juga Toni yang mengatakan bahwa zira sudah melahirkan, bayi mereka perempuan.


namun ego nya masih saja tinggi, Sri memalingkan wajahnya tak ingin mengingat tentang sosok sulung yang sebenarnya begitu ia rindukan, jika keadaan seperti ini. Ali lah tempat ia bersandar setelah Wijaya tapi sulung nya lebih memilih bersama seorang wanita yang belum lama di kenal nya namun dengan mudah mengganti nya.


mengingat rasa sakit nya Sri semakin benci pada zira, ia tidak mau menerima wanita kampung itu. bagi Sri akan memalukan memiliki menantu perempuan kampung.


Sri pun memejamkan matanya menahan rasa sakit yang menggerogoti dadanya.


ke esok kan hari nya...


siang ....


Zira dan Ali sudah bersiap siap untuk pulang setelah tadi dokter memeriksa dan mengatakan sudah boleh pulang.


Rumi menggendong bayi cantik mereka sambil sesekali mengajak nya bicara, Ahmad dan Rumi begitu bahagia dengan kehadiran si cantik Kahiyang.

__ADS_1


"ayo sayang duduk di sini....kita pulang sekarang"


Ali menyodorkan kursi roda di hadapan zira, supir sudah membawa barang bawaan mereka ke dalam mobil.


Zira beranjak dari duduknya di bantu oleh Ali, sementara Rumi menggendong bayi mereka berjalan keluar bersama Ahmad.


"Alhamdulillah udah bisa pulang..."


ujar zira.


"ya sayang, kamu enggak betah ya dirumah sakit...?"


tanya Ali.


"siapa sih yang betah di rumah sakit, meski kamarnya mewah tapi tetap saja banyak penyakit...!"


Zira senyum mendongak menatap wajah tampan suaminya.


"ya sih Abang juga berpikir seperti itu, lebih baik di rumah!"


langka nya terhenti saat melihat Sri berjalan di koridor seorang diri, "mi...."


refleks Ali memanggil ibu nya itu.


Sri menoleh lalu netra nya menatap ke arah zira yang tengah duduk di kursi roda.


Ali mendorong kursi roda menghampiri Sri yang terlihat jengah, sementara Rumi berdiri di tempatnya bersama Ahmad.


"mi, zira sudah melahirkan... bayi kami perempuan!"


Ali melangkah ke arah Rumi mengambil bayi mereka, Sri menatap tajam ke arah zira yang sedikit menunduk, ia harus banyak mengalah.


"ni cucu mommy!"


ujar Ali memperlihatkan si cantik Kahiyang.


"cucu saya hanya berasal dari perempuan yang sederajat dengan saya...."


jawab Sri langsung membuat zira terperanga.


lagi lagi kata kata Sri menyakitkan terdengar, namun zira memilih diam tak ingin menjawab penuturan Sri yang langsung beranjak meninggalkan kedua nya.


"sayang.. maafkan mommy ya de?"


Ali menunduk dengan wajah sendu, tergurat kesedihan dari raut wajah nya sementara zira bersikap biasa saja karena dari awal zira sudah membentengi dirinya sendiri perihal sikap Sri yang belum bisa menerima keberadaan nya.


Rumi menghela nafas menghampiri kedua nya, mengusap pundak zira lalu tersenyum.


"sabar ya...ayo bawah Kahiyang pulang!"


"ya biar bapak yang dorong zira....!"


Ali melangkah tanpa menjawab apa apa, ia begitu kecewa dengan penolakan Sri terhadap si cantik Kahiyang, Ali berpikir mungkin dengan kehadiran Kahiyang bisa meluluhkan hati Sri yang keras tapi ternyata tidak, Sri masih tetap pada pendiriannya.


tak berapa lama mereka sampai di rumah, Zira memperhatikan ali yang terus memandangi bayi mereka, zira juga sebenarnya merasa sedih tapi ia bisa apa jika Sri masih sekeras itu.


"sini sama bunda, ayahnya pegal tuh...!"


Ali tersenyum memberikan Kahiyang pada zira.


"jangan sedih ya bang, kita masih bisa berusaha dan banyak berdoa semoga Allah meluluhkan hati mommy Abang!"

__ADS_1


Ali mengangguk lalu mencium kepala zira.


bersambung...


__ADS_2