
Setelah selesai makan, keduanya ngobrol panjang lebar sampai Ali tertidur pulas di sofa, ia memutuskan untuk menginap di rumah sakit menuggu Ahmad dan Rumi datang sampai waktu menunjukkan pukul setengah dua belas malam seseorang mengetuk pintu.
Reza yang belum tertidur membuka pintu, Reza tersenyum saat melihat Ahmad dan Rumi juga Yuda sudah tiba.
"assalamualaikum...!"
Ahmad mengecilkan suaranya saat melihat Ali dan zira yang sudah terlelap.
"walaikumsalam.......!"
jawab Reza senyum, Rumi dan Yuda masuk memperhatikan kedua nya.
"dia pacarnya Zira Bu?"
tanya Yuda menoleh kearah Ali.
"ya dia itu pria amnesia yang langsung memikat adikmu...!"
Rumi menghampiri zira di ranjang, zira membuka matanya saat mendengar suara ibunya.
"ibu.....?"
Tutur Zira senyum melihat Ahmad dan Yuda mendekati.
"kalian kapan datang?"
tanya Zira sedikit beranjak, memegang selimut tebal yang menutupi bagian tubuh nya.
"baru sampai, bagaimana keadaan mu nak?"
tanya Ahmad masih dengan raut cemas nya.
"Alhamdulillah udah baikan pak...!"
Ahmad mengangguk memperhatikan sekeliling ruangan tersebut.
"ruangan nya mirip hotel Ra!"
ucap Ahmad melirik ke arah Ali yang terlelap di sofa.
"ya, bang Ali pak....."
Ahmad mengangguk, sementara Rumi dan Yuda diam sembari memperhatikan Ali.
seperti nya pernah bertemu namun Yuda lupa dimana bertemu dengan pria itu.
"ya sudah istirahat saja kak, ini juga sudah malam, dekat TV ada permadani..."
Reza paham mereka pasti lelah.
"ya Bu, pak sama Abang istirahat saja dulu.
enggak ada makanan...."
zira menghela nafas.
"ya udah enggak apa-apa, besok saja ibu juga mau nya tidur"
ujar Rumi lalu duduk di permadani yang tergelar di hadapan tv di ikuti yang lain nya, sementara Ali tertidur pulas di sofa samping zira.
__ADS_1
Zira mengamati wajah Ali yang tampak lelah, Reza bilang sejak tadi Ali dan Toni mengurusi perawatan nya di rumah sakit itu, tentu saja Ali meminta ruang VVIP.
Ali membuka mata nya dan tersenyum pada zira yang membeku melihat Ali tersenyum.
Ali terbangun di saat yang lain nya tertidur.
"kamu bangun? laper hm?"
tanya Ali beranjak dari duduknya lalu menoleh kearah mereka yang sudah terlelap.
"kapan ibu dan bapak datang!"
tanya Ali duduk di tepi ranjang.
"belum lama tapi mereka langsung terlelap, seperti nya mereka lelah seperti kamu bang?!"
zira menatap wajah tampan Ali yang baru terbangun dari tidurnya, Tampan'
"oh gitu, ya sudah biarkan saja mereka istirahat dulu....kamu laper de? udah bisa makan kok?!"
ujar Ali menoleh ke arah jam.
"Abang tahu Abang emang tampan!"
Zira tertegun mendengar penuturan Ali sambil terkekeh.
"biasa aja kali lihatin nya, mau Abang cium!"
ucap Ali membuat zira tercengang.
Dan pria itu malah terkekeh kecil melihat ekspresi wajah zira yang juga langsung memerah.
"Apa sih bang, ada mereka jangan aneh aneh ya!"
"kalau enggak ada mereka boleh aneh-aneh?"
sahut Ali terkekeh lagi.
"apa sih bang?"
Zira tertegun saat Ali berpindah duduk di sampingnya merengkuh tubuh zira agar bersandar pada nya.
"kita menikah secepatnya ya, Abang mau siang dan malam dekat sama kamu!"
zira semakin tertegun dengan keinginan Ali, kenapa semua terasa enteng bagi nya, apa Ali tidak memikirkan yang lain nya.
"kamu yakin bang mau nikah sama aku?"
tanya zira menatap wajah Ali.
"Ya Abang serius, Abang akan minta Toni urus pernikahan kita nanti!"
Jawab Ali, ia Memang berniat mempercepat pernikahan nya, tak ingin lagi menunda waktu seperti dulu. Ali bahkan tak menghiraukan pendapat mommy nya nanti.
"kenapa sih kamu anggap enteng semua nya bang, sementara kamu tahu seperti apa mommy mu!"
zira menghela nafas panjang.
"ya, Abang tahu.... tapi Abang mau kita tetap menikah de, kita kan sudah bertunangan"
__ADS_1
ya itu memang benar tapi keadaan tak lagi sama, zira juga belum tahu pendapat Ahmad tentang kelanjutan hubungan mereka.
"sebaiknya kamu kembali tidur bang, zira ngantuk!"
Zita merebahkan tubuhnya di ranjang. tak ingin membahas itu lagi karena ujung ujungnya selalu seperti itu Ali tetap pada keinginan nya tanpa memperdulikan keluarga nya, sementara Zira sendiri masih bingung dan belum bisa mengambil keputusan.
"ya udah, Abang selimuti ya!"
Ali tersenyum tak sedikitpun Ali kecewa dengan jawaban nya.
"tidur ya!"
ucap Ali mencium kening zira singkat lalu kembali ke sofa, keadaan hening tak ada yang bicara Ali juga kembali memejamkan matanya.
"kalau boleh aku memilih aku lebih baik kamu tanpa identitas bang karena keadaan ini membuat ku bingung!"
Zira kembali memejamkan matanya.
*
malam itu Wisnu masih terjaga dari tidurnya, percakapan nya dengan Alena membuatnya tak bisa tertidur.
"bang Ali tuh udah mantap kek mau nikah sama zira, tak sedikit pun bang Ali memikirkan mommy..."
Alena berbincang dengan Wisnu saat ia tiba di rumah, memberi tahu Wisnu bahwa Ali tidak akan pulang.
"bang Ali tuh kayak orang lagi di mabuk cinta kek, dia bahkan enggak mengkhawatirkan mommy dan tetap kukuh dengan keinginan nya itu..."
ujar Alena, Wisnu sendiri merasa seperti itu, Ali begitu mencintai gadis itu dan ternyata gadis itu sudah menetap lama di hati nya sebelum ia berangkat ke Amerika dan Ali semangat karena cintanya berbalas, entah apa yang akan terjadi jika Ali tidak mengalami kejadian amnesia itu.
"kamu setuju Abang mu dengan perempuan itu?"
tanya Wisnu pada adiknya Ali.
"Alena enggak berhak ikut campur karena menilik bang Ali yang begitu besar cintanya pada zira, Alena tidak masalah karena zira wanita yang baik, dia seorang guru di kampung... Alena tidak tahu kenapa ia mau menjadi OB di perusahaan bang Ali..."
"ya padahal sebelumnya kakek sudah berusaha untuk mencegah pertemuan mereka, tapi tak di sangka mereka secepat itu bertemu!"
Wisnu menceritakan tentang pagi dimana ia berbicara dengan zira agar menjauhi Ali.
"ya sekarang apa yang akan kakek lakukan?"
tanya Alena setelah mendengar cerita itu.
"biarkan saja mommy mu nanti, Kakek sendiri sebenarnya tidak mempermasalahkan soal itu karena nenek juga dari desa,,"
jawab Wisnu mengingat seseorang yang kini sudah tiada.
Sri sendiri tengah mengatur kepulangan nya esok hari, ia dengar dari orang kepercayaan nya Ali bahkan tak pulang dari rumah sakit menunggu perempuan itu, Sri tidak habis pikir apa yang ia sangka kan dulu menjadi kenyataan Ali benar benar terpikat pada gadis desa yang tidak ada apa apanya di banding Siva yang cantik dan smart.
"kamu udah beresin semua nya yang?" tanya Wijaya, ia baru saja tiba di hotel setelah beberapa waktu pergi entah kemana.
"kamu dari mana sih, bukan nya bantu aku"
sahut Sri sedikit kesal.
"maaf aku ada urusan sebentar!"
ucap Wijaya lalu membantu Sri mengepak baju baju nya.
__ADS_1
Wijaya memperhatikan Sri, istri nya itu cantik namun keras dan kerap ingin menang sendiri selama ini rumah tangga juga seakan dia yang memimpin, Wijaya kehilangan sosok Sri yang lembut dan manis.
bersambung......