
Alena turun dari mobilnya lalu tertegun melihat Dady nya memasukkan koper besar ke dalam mobil.
"Dad.....!"
Alena berjalan cepat menghampiri Wijaya yang langsung menoleh.
"Alena?"
"Dady mau kemana?"
tanya Alena menatap wajah Wijaya tampak sendu.
"maafkan Dady, Alena!"
Wijaya menunduk lalu meraih tangan putri bungsu nya itu.
"Dady tidak bisa lagi tinggal di rumah ini? Dady dan mommy mu akan bercerai?"
Alena terhenyak mendengar penuturan Wijaya yang begitu menyakitkan untuk nya.
keluarganya seketika terpecah belah, tak seperti dulu yang rukun tanpa ada perseteruan.
"apa karena perempuan itu Dady meninggal kan kita? Lena sama mommy?"
tanya Alena menitikkan air matanya.
"kamu tahu?"
tanya Wijaya.
Alena mengangguk pelan.
"maafkan Dady Alena tapi semua terjadi juga karena Dady merasa tak di hargai berada di kediaman ini....kamu tahu seperti apa mommy, banyak yang membuat Dady merasa tak berarti untuk mommy mu....."
Wijaya memeluk Alena yang langsung tersedu.
Toni yang baru sampai di rumah itu, bergegas turun dari mobil saat melihat Alena terisak di pelukan Dady nya.
"maafkan Dady, percaya lah bahwa Dady akan selalu ada kalau kamu butuh Dady!
apa itu calon menantu Dady?"
tanya Wijaya saat melihat Toni berjalan menghampiri.
Wijaya sendiri belum pernah bertemu dengan zira, karena ia juga sibuk dan belum sempat menemui Ali tetapi Wijaya tak mempermasalahkan soal pernikahan Ali dan gadis desa itu, Wijaya tahu yang Ali butuhkan sama seperti dirinya yaitu istri yang mengurus nya dengan sepenuh hati, bukan wanita yang selalu sibuk dengan pekerjaan nya.
bahkan dulu Wijaya memohon dengan sangat pada Sri untuk program hamil hingga Sri mengandung Ali kemudian selang berapa tahun kemudian lahirlah Alena.
setelah itu Sri kembali sibuk dengan pekerjaan nya, selama beberapa tahun mereka mempekerjakan baby sitter untuk merawat anak anak nya hingga besar.
Ali sendiri lebih dekat dengan sang kakek yang juga begitu menyayangi Ali, karena sejak lama Wisnu mendambakan putera laki laki.
Toni menghampiri kedua nya, tersenyum serasa mengucap salam lalu mencium tangan Wijaya.
"kamu kenapa? sakit de?"
tanya Toni.
Alena menggeleng kan kepala pelan.
"apa kalian berpacaran?"
tanya Wijaya, namun Alena diam menanggapi.
"saya berniat serius dengan Alena, saya ingin menikahi putri pak Wijaya!"
Alena terperanga menatap Toni yang langsung melamar nya, padahal selama ini mereka hanya dekat.
"saya memang bukan pengusaha sukses tapi saya janji akan membahagiakan putri Anda!"
Toni menoleh ke arah Alena yang terpaku.
"saya terserah Alena saja, Ali juga sudah menikah... maafkan istri saya yang sudah memecat kamu dari kantor, padahal kamu memiliki kinerja yang baik..."
Tutur Wijaya..
__ADS_1
"enggak, mommy enggak setuju!"
Sri tiba tiba datang menghampiri mereka bertiga.
"kenapa tidak, Alena sudah dapat restu dari orang yang akan menjadi wali nikah Alena dan bang Toni, maafkan Alena mi!"
Sri membuang nafas berat karena Alena juga kini membantah nya.
"terserah kamu, silahkan pergi dari rumah ini karena saya tidak menerima pemberontak!"
Sri bukan hanya mengusir Wijaya tapi juga Alena.
Sri melenggang Pergi meninggalkan mereka dengan nafas memburu, kecewa karena Tidak ada yang berpihak pada nya.
"tinggal lah bersama Dady di rumah mama indah...dia akan menerima kamu!
biarkan mommy Sri reda dulu!"
Alena mengangguk lalu menoleh ke arah Toni untuk ikut dengan nya.
"kamu satu mobil dengan Daddy atau Toni..?"
tanya Wijaya.
namun Alena hanya diam, hatinya sakit karena sikap mommy nya yang selalu seperti itu.
"Alena dengan Abang atau Daddy?"
"bang Toni saja dad!"
Wijaya mengangguk lalu masuk ke dalam mobil, melajukan mobilnya keluar dari rumah besar itu.
"kamu sedih ya?"
tanya Toni menoleh sekilas karena ia juga harus fokus menyetir.
"entahlah tapi aku juga kasihan sama mommy...kita balik lagi aja bang?"
Alena tak tega membiarkan Sri sendiri setelah Dady dan Ali pergi meninggalkan rumah.
tanya Alena menyeka air mata yang mengalir di pipinya.
gegas Toni menghentikan laju mobil nya menepi ke pinggir jalan.
"aku tidak suka keadaan ini bang, aku...."
Toni langsung merengkuh tubuh Alena yang menangis tersedu-sedu.
"ya Abang paham, kamu sabar ya!
Abang pernah mendengar nasihat bijak, apabila sesuatu yang kamu senangi tidak terjadi maka senangi lah apa yang terjadi.
semua yang terjadi tak lepas dari ketentuan nya, kamu harus sabar de!"
Toni mengusap punggung perempuan yang masih menggunakan jas putih kebesaran nya.
"kita ke kafe ku saja ya, setelah tenang aku antar kamu pulang!"
Alena mengangguk serasa tersenyum menggenggam tangan Toni.
"terima kasih bang....!"
Toni mengangguk sambil tersenyum lalu kembali melajukan mobilnya.
di kampung...
Reza dan Darmi lebih tahu kabar bahagia itu, keduanya memberikan selamat serta mendoakan kebaikan untuk calon bayi mereka berdua.
"oh ya, nanti mau ada Nadia kemari!"
ujar Reza membuat zira tersenyum.
"nanti paman jemput dia di terminal..."
"ya dong, kita dukung za.
__ADS_1
gue senang Lo udah bisa menentukan masa depan!"
"ya, aku juga mau seperti kalian!"
"ya, kita doakan juga kebahagiaan untuk Paman!"
ucap zira lalu pamit untuk pergi ke rumah Ahmad.
zira terus memeluk suaminya sepanjang jalan menuju rumah Ahmad, raut wajahnya penuh dengan binar kebahagiaan.
Rumi tersenyum saat sebuah motor memasuki halaman rumah nya.
Ahmad sendiri langsung keluar dari rumah saat melihat zira turun dari motor.
"Assalamualaikum..."
"walaikumsalam......"
Ahmad langsung merentangkan kedua tangannya menyambut putri nya itu.
zira langsung memeluk Ahmad yang langsung mencium kepala zira.
"kamu bawa kabar gembira untuk kami?"
tanya Ahmad, Ali dan Rumi tersenyum memperhatikan keduanya.
"ya, zira hamil pak, Bu!"
Zira menghampiri Rumi lalu memeluk nya sayang.
"Alhamdulillah...!"
Ahmad mengusap kepala zira seraya mendoakan putrinya itu.
"kalian jaga baik-baik ya!"
Ali dan zira mengangguk..
di kota.....
Alena mengirim pesan pada Wijaya bahwa ia akan tetap tinggal di rumah mereka karena tak tega meninggalkan Sri sendiri di rumah, Wisnu juga belum kembali dari wisata religi nya.
"ayo Abang antar kamu pulang!"
ujar Toni beranjak dari duduknya.
keduanya baru saja selesai makan, tiga Minggu yang lalu Toni membuka kafe tersebut cukup ramai dan banyak pengunjung pada akhir pekan juga hari hari biasa.
"ya bang....!"
"oh ya, soal yang tadi Abang serius de!
Mau kan menikah dengan Abang?"
tanya Toni lagi membuat Alena kembali tertegun.
"nanti Alena bicarakan dengan bang Ali?"
jawab Alena.
"tapi kamu enggak nolak Abang kan de?"
tanya Toni lagi meminta kepastian.
"ya, Alena mau menikah sama kamu bang!"
jawab Alena dengan wajah Merona.
"terima kasih ya de..."
Toni menggenggam tangan Alena, perempuan itu tersenyum menatap wajah tampan Toni.
Alena tahu seperti apa Toni karena pria itu Akrab dengan Ali, Toni merupakan Pria baik juga lembut.
bersambung...
__ADS_1
terimakasih yang sudah mampir 😍