terpikat pria tampan amnesia

terpikat pria tampan amnesia
tak ingin berlarut larut.


__ADS_3

pagi...


keduanya menikmati keindahan pantai Lombok yang begitu indah, Ali mengajak zira menyurusi pantai dengan jalan beriringan.


"duduk sana yuk....!"


ajak zira berjalan ke arah kursi panjang yang kosong.


"kamu capek ya de?"


tanya ali menyandarkan tubuh zira pada tubuh nya.


"bang, kelak kalau zira hamil dan punya anak lagi, zira enggak mau kerja...zira enggak mau hal yang sama terulang lagi"


ucap zira menatap wajah Ali yang langsung termenung.


"bagaimana pun zira berusaha kenyataan tetap sama.... apa zira sehina itu?"


Ali langsung merengkuh tubuh zira yang langsung terisak, ia mengingat bagaimana sikap Sri yang semakin dingin setelah kepergian Kahiyang.


bukan hanya tentang kehilangan tapi juga Sri yang tidak pernah menerima keberadaan nya sebagai menantu.


"kita tidak perlu lagi memikirkan hal itu, yang terpenting adalah kebahagiaan kita....Abang tidak mau melihat kamu bersedih lagi.


lepaskan apa yang membuat kita sedih atau stress.... jalani apa yang ada di depan mata.... Abang enggak mau lihat kamu sedih terus de, untuk Abang kamu itu perempuan terbaik yang harus Abang perjuangan kan kebahagiaan nya.... jangan sedih lagi ya!"


zira mengangguk lalu mendekap erat tubuh Ali.


setelah itu keduanya beranjak dari duduknya dan kembali menyusuri pantai, zira mengajak Ali berenang namun Ali menolak karena ia tidak terlalu pandai berenang.


"main air saja, Abang enggak berani!"


ucap Ali membuat zira terkekeh, lalu datang reza dan Nadia menghampiri mereka.


"ayo Ra kita renang, kapan lagi renang di air yang jernih begini....!"


ajak Nadia mengajak Zira ke tengah.


"jangan jauh-jauh de.....!"


pesan Ali lalu duduk di tepi pantai bersama Reza yang melambaikan tangan nya ke arah Nadia.


"ibu sama bapak dimana?"


tanya Ali pada Reza.


"ada di restoran lagi Makan berdua....!"


jawab Reza memperhatikan kedua perempuan yang tengah bermain air.


"syukur lah Zira tidak lagi bersedih....!"

__ADS_1


sambung Reza di anggukan oleh Ali.


"ya aku berusaha keras untuk membuat nya bangkit, karena sebanyak apapun kita menangisi kepergian Kahiyang, hal itu tidak membuat Kahiyang kembali!"


ujar Ali.


"ya benar Al, kalian sabar....mudah mudahan aja zira cepat hamil lagi... dengan itu kalian akan cepat dapat ganti Kahiyang yang sudah tenang di sana!"


"ya aku juga berharap seperti itu za...."


jawab Ali tersenyum lalu keduanya menghampiri kedua perempuan yang tengah bercanda di atas air yang jernih.


beberapa hari berlalu, mereka memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Ali juga sudah menyelesaikan pekerjaan...Ali pikir zira juga sudah puas bermain.


"kita pulang.....?"


tanya zira sedikit murung karena jujur ia masih betah berada di pantai Lombok yang begitu indah.


"ya sayang, nanti kita atur rencana untuk berlibur ke tempat ini lagi ya....Abang kan harus kembali ke kantor, kamu juga kan harus kembali kerja untuk selesaikan kontrak kerja..."


zira mengangguk, mengingat hal itu. walau bagaimanapun ia harus profesional dalam hal itu karena ia juga terikat kontrak.


di rumah juga ia akan terus mengingat Kahiyang, lebih baik menyibukkan diri dengan pekerjaan agar ia tidak terus meratapi kepergian Kahiyang.


"ya sudah.... kita pulang!"


jawab zira senyum pada suaminya itu.


bukan hanya zira, tapi Rumi dan Nadia juga sudah bersiap untuk pulang.


***


malam itu mereka sampai di Jakarta, Ali langsung meminta Toni menjemput mereka di bandara.


"gimana liburan nya?"


tanya Toni saat mereka sudah berada dalam mobil.


"ya gitu seneng deh pokoknya...!"


jawab zira senyum menatap wajah Ali yang juga tersenyum ke arah nya.


Toni merasa senang karena kini Zira sudah kembali ke diri nya yang dulu, tak lagi meratapi kepergian putri tercinta nya.


tak berapa lama mereka sampai di rumah, Toni sendiri langsung kembali tanpa turun dari mobil karena malam Juga sudah larut.


"langsung istirahat ya .....!"


ujar ali masuk ke dalam kamar bersama zira, Rumi senang karena perlahan raut kesedihan itu mulai berangsur hilang.


"alhamdulillah ya pak, ibu senang karena perlahan zira sudah mulai bisa mengikhlaskan kepergian Kahiyang."

__ADS_1


ujar Rumi pada Ahmad Yang duduk di ranjang.


"ya Bu, bapak juga merasa lega.... kita bisa pulang kalau seperti itu, karena kita sudah lama menutup toko..."


jawab Ahmad, bukan tak ingin berlama-lama berada di rumah itu tapi mereka juga memiliki aktivitas yang harus diperhatikan.


"ya nanti kita lihat besok ya pak...."


ujar Rumi lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


ke esok kan hari nya..


Rumi tersenyum saat melihat zira sudah ada di dapur bersama pembantu.


"masak apa kamu ra?"


tanya Rumi mendekati.


"bang Ali minta nasi kuning....!"


jawab zira sambil mengeksekusi ayam yang akan ia goreng.


"sini ibu bantu.....bibi ngurus yang lain saja!"


titah Rumi yang pandai memasak.


"baik Bu....!"


jawab pembantu lalu beranjak meninggalkan mereka berdua, tak lama Nadia datang dan ikut membantu menyiapkan sarapan.


"rencana kamu selanjutnya apa Ra?"


tanya Rumi sambil memasak.


"zira mau selesai kan kontrak kerja terlebih dahulu.... setelah itu mungkin zira akan kembali mengajar di sekolah nya Mama indah!"


jawab zira dan di anggukan oleh Rumi.


"nanti Nadia yang temani zira karena paman Reza akan kembali ke kantor bantu bang Ali yang lagi banyak kerjaan...!"


"ya sudah, atur saja bagaimana baiknya...ibu dan bapak juga akan kembali ke kampung karena sudah lama toko tutup"


ujar Rumi menatap wajah zira yang tampak berpikir.


"ya sudah Bu, untuk hari ini zira mau beresin kamar Kahiyang, zira mau masukin semua pakaian Kahiyang ke lemari agar tertata rapih..."


zira ingin menyimpan rapih semua karena zira tak ingin berlarut larut dalam kesedihannya.


"ya sudah panggil ali, nasi kuning nya sudah siap... kita sarapan sama sama!"


titah Rumi dan di anggukan oleh Zira yang langsung beranjak dari tempatnya melangkah ke kamar untuk mengajak Ali sarapan...."

__ADS_1


bersambung.....


__ADS_2