
Seminggu berlalu, keadaan Reza sudah lebih baik dan bisa di ajak bicara.
Reza menatap wajah zira tampak sendu, tak ada lagi Rona bahagia seperti dulu saat pria amnesia itu hadir menemani hari-hari nya.
"kamu baik-baik saja kan zi?"
tanya Reza menatap keponakan nya itu, Reza yakin Zira tak akan sanggup jika melihat langsung kejadian malam itu, orang orang itu menginginkan nyawa pria asing itu.
"harus nya zira yang tanya itu sama Paman?"
jawab zira menunduk, untuk pertama kalinya ia merasa lemah di hadapan Reza, sebelumnya gadis itu tak pernah menunjukkan hal itu bahkan ia selalu tampak tegar menjalani kehidupan nya yang apa adanya.
"kamu sabar ya!"
ucap Reza mengelus tangan zira, tubuh gadis itu bergetar menahan Isak tangis.
"apa semua terjadi karena zira selalu menentang ibu?"
tanya zira mencurahkan isi hati nya pada Reza.
"jangan bicara seperti itu, untuk mendapatkan hasil yang memuaskan perlu perjuangan dan pengorbanan, mungkin untuk saat ini kamu harus sabar dan korban perasaan....paman tahu zi kamu sedih, paman juga sudah berusaha mempertahankan si Abang tapi kita kalah karena mereka banyak, sementara kita hanya berdua...!"
ucap Reza lalu menceritakan kejadian malam itu pada zira.
"dia pesan untuk jagain kamu, kalau ada apa-apa kamu jangan sungkan ya!"
ucap Reza.
Zira mengangguk lesu.
dari balik pintu, Rumi mendengar kan percakapan mereka.
berita hilang nya pria asing itu menjadi perbincangan hangat di kampung, ada yang prihatin, dan ada juga yang menertawakan di belakang.
namun Rumi tak menghiraukan hal itu, bagi nya apa yang terjadi sudah menjadi ketentuan Tuhan.
sungguh Rumi iba melihat kondisi putri nya itu, tiap malam Rumi selalu mendengar zira menangis tanpa suara agar tak ada yang mendengar, hanya Rumi yang tahu betapa terluka nya anak gadis nya itu karena kehilangan sosok yang begitu ia cintai.
tapi Rumi atau Ahmad sendiri Bingung harus mencari informasi kemana,
rona bahagia itu seketika hilang saat pria itu tak lagi berada di samping nya.
"ya sudah zira pulang dulu ya....kata bapak nanti paman tinggal saja bersama kami sampai keadaan paman sembuh..."
Reza mengangguk...
"hati hati ya zi, paman sarankan kamu untuk belajar ilmu bela diri karena khawatir Beno nanti mengganggu mu, sekarang pria itu tidak ada, risky Juga sudah menikah...aku khawatir dengan mu zira..."
"ide yang bagus, akan zira pikirkan. paman jangan khawatir karena sungguh ada Allah yang menjaga zira...."
__ADS_1
ucap zira senyum lalu pergi meninggalkan Reza yang masih terbaring lemah.
Zira tertegun menatap beberapa angkutan umum yang berlalu lalang, teringat akan kenangan nya bersama Ali, kedua nya pergi ke pasar menggunakan angkutan umum untuk pertama kalinya.
"aku rindu bang, meski hal itu begitu menyiksa tapi aku candu...."
ucap zira lalu naik salah satu angkutan umum yang kosong dan hanya ada satu penumpang di dalam nya.
Zira masih ingat, sepanjang jalan pria itu terus menggenggam tangan nya, kemarin keadaan genap dan kini kembali ganjil. ia sendiri tanpa pria amnesia itu, pria yang dengan mudah nya memikat hati.
tak lama ia sampai lalu turun menghampiri sepeda yang ia titipkan ke warung yang berada di depan gang menuju rumah nya, cukup jauh jika berjalan kaki.
zira mengayuh sepedanya melewati jalanan panjang kanan kiri sawah Dimana malam itu merenggut kekasihnya.
jalanan itu juga menjadi saksi pagi dan senja kedua nya bersama, enam bulan waktu bersama serasa begitu singkat namun juga berkesan karena cinta terus tumbuh dan berkembang tiap detik nya.
namun kini semua tinggal kenangan, entah kemana mencari pria amnesia itu.
"aku rindu kamu bang, kenapa kamu belum juga pulang? apa yang sebenarnya terjadi?"
gumam zira menghapus air matanya.
***
sementara pria itu kini tengah berbaring dalam keadaan koma.....
mereka langsung membawa Ali ke rumah sakit dan memberi tahu Wisnu dan keluarga tentang keadaan Ali yang tengah kritisi.
malam itu juga Ali melakukan operasi karena beberapa peluru bersarang di punggung juga kaki nya belum keadaan tubuh nya yang bekas di pukuli.
malam itu juga Wisnu melaporkan Niko dan anak buahnya, namun Niko berhasil kabur dan kini tengah menjadi buronan polisi.
Gisel menghentikan langkahnya saat suster mengatakan bahwa tak ada yang bisa melihat keadaan Ali selain keluarga nya.
"Gisel....mau apa kamu kesini?"
tanya Sri saat Gisel hendak melangkah pergi.
"Tante, Gisel ingin melihat keadaan Ali!"
ucap Gisel menunduk, ia juga tidak menyangka Niko sejahat itu.
"ngapain, semua terjadi gara gara kamu.
saya tuh enggak ngerti, apa sih yang niko lihat Dari kamu sampai dia sejahat itu...saya juga akan laporkan kamu ke polisi.."
"jangan Tante, Gisel enggak tahu apa apa, Gisel mohon Tante!"
ucap Gisel memohon.
__ADS_1
Sri tidak menjawab ia langsung pergi meninggalkan Gisel yang mematung sendiri.
"kita Atur keberangkatan ke
Jerman, bawa Ali untuk pengobatan, dokter bilang ada gumpalan darah di kepala nya, seperti nya itu terjadi akibat pukulan keras hingga menyebabkan pendarahan."
ucap Wisnu membuat Sri terisak, separah itu keadaan putra nya.
"pokoknya cari Niko sampai ketemu, Dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya...!"
ucap Sri mengepal kan tangan nya.
"coba kamu bicara dengan Gisel, mungkin dia bisa cari tahu dimana Niko bersembunyi"
ucap Sri pada pengancara nya.
"baik Bu...!"
ucap pengacara tersebut.
Sri memperhatikan Ali dan cincin yang melingkar pada jari manis nya.Sri mencoba melepaskan cincin itu namun tidak bisa, entah cincin apa Sri bertanya tanya.
"maaf kan mommy ya sayang, kamu harus sembuh dan nanti kamu harus ikut mommy ke Amrik...!"
ucap sri mengelus rambut Ali yang gondrong.
**
"sel kamu kenapa?"
tanya bunga menatap Gisel tampak murung.
"Ali koma dan itu gara gara Niko, aku enggak tahu kenapa Niko Setega itu. semua terjadi karena aku menolak lamaran nya, aku...."
ucap Gisel menyeka air matanya, untuk pertama kalinya ia menangis. sebelumnya nya ia tidak pernah mau menangis hal apa pun namun kejadian ini begitu membuat nya terpukul, beruntung Ali di temukan oleh orang suruhan Wisnu, kalau tidak entah apa yang akan terjadi pada pria malang itu.
"sabar ya sel... semua pasti ada jalan keluar nya!"
"ya tapi gimana aku sendiri enggak bisa tenang karena mommy nya Ali ngancem mau laporin aku juga ke polisi.. padahal kan aku enggak tahu apa apa, kalau udah kayak gini bisa Ancur karir Ku...!"
ucap Gisel memijat pelipisnya.
"mudah mudahan enggak ya sel, banyak berdoa aja!"
ucap bunga mengusap punggung Gisel.
bersambung......
Terima kasih yang sudah mampir.,😍😍😍😍
__ADS_1