terpikat pria tampan amnesia

terpikat pria tampan amnesia
mantap.


__ADS_3

Zira menunduk saat Ali terus menatap nya, ia tak memiliki kemampuan untuk kembali menatap wajah tampan kekasih nya itu.


"maaf kan Abang ya de, Abang melewatkan waktu yang sudah kita rencanakan untuk menikah... saat tersadar dari koma Abang harus menjalani terapi untuk bisa kembali berjalan. apa kamu tahu hal apa yang membuat Abang semangat untuk sembuh?"


tanya Ali mengusap pipi zira yang merona.


gadis itu melirik sekilas ke arah Ali lalu kembali menatap ke arah yang lain nya, banyak hal yang saat ini zira pikirkan.


"de....!"


Ali duduk di tepi ranjang berhadapan dengan zira.


"apa bang?"


tanya zira menepis tangan Ali pelan.


"kamu tuh bang, mentang mentang di sini cuma kita berdua, kamu peluk aku cium aku...kita itu belum menikah!"


Ali tersenyum mendengar apa yang zira lontarkan.


"kamu dengar kan Abang bicara enggak sih?"


tanya Ali karena zira malah mengalihkan pembicaraan nya.


"apa? Abang juga sama malah mengalihkan pembicaraan..."


Tutur zira lalu cemberut membuat Ali terkekeh.


"Ya karena itu Abang mau menikah sama kamu....!"


Ali mendekat namun tak jadi karena mendengar pintu terbuka.


"assalamualaikum....!"


Reza tertegun melihat Ali yang bersama zira.


"walaikumsalam......masuk za!"


Ali beranjak membuka pintu lebih lebar.


"kalian langsung bertemu...?"


tanya Reza tak percaya keduanya kini sudah bersama.


"ya, aku kan sudah bilang kalau hari ini aku akan menemukan zira.. meski itu sekedar ucapan biasa namun hal itu seperti doa yang langsung Allah kabulkan...!"


Ali melirik sekilas ke arah zira.


"tolong Restui kami seperti dulu, aku janji akan membahagiakan zira!"


pinta Ali pada Reza yang langsung tertegun.


tak selang berapa lama suster masuk ke dalam ruangan.


"Apa sudah ada keluarga yang datang untuk menandatangani persetujuan untuk operasi?"


tanya suster.


"ya saya Paman nya, orang tuanya tengah berada di perjalanan menuju ke Indonesia!"

__ADS_1


Tutur Reza membuat zira tertegun.


Bapak dan ibunya akan segera pulang, entah apa tanggapan mereka nanti tentang Ali.


"silahkan....!"


suster langsung memberikan kertas Untuk Reza tanda tangani.


"terimakasih, tunggu setengah jam lagi saya akan kembali!"


ujar suster lalu pergi meninggalkan ruangan.


"kamu harus tenang ya!"


Ali tahu raut wajah zira tampak pucat saat suster mengatakan hal itu.


"za.... tolong dukung aku ya sama zira!"


pinta Ali untuk kedua kalinya.


"aku terserah zira saja karena jujur aku sendiri bingung jika keadaan nya seperti ini, aku dukung kalian...!"


Reza tidak tahu harus berbuat apa lagi karena keduanya saling mencintai.


"terima kasih za...!"


Ali langsung memeluk Reza yang juga mendekap nya, keduanya memang dekat.


meski keadaan tak lagi sama namun pertemanan itu sudah terjalin erat.


Zira tersenyum melihat hal itu lalu meminta Nadia untuk masuk ke dalam ruangan.


kata zira saat Nadia masuk ke dalam ruangan.


"ya Ra, ada apa?"


tanya Nadia, sungkan rasanya berada di dekat Ali yang merupakan CEO dari perusahaan nya bekerja.


"doain aku ya...!"


pinta zira menggenggam tangan Nadia.


"ya, itu pasti Ra. kamu harus tenang, untuk saat ini jangan pikirkan apapun. kamu harus fokus sama kesehatan kamu dulu!"


"ya nad, terimakasih kamu sahabat ku!"


zira merangkul pundak Nadia yang juga merangkul nya.


tak berapa lama suster datang untuk membawa zira ke ruang operasi.


"kamu harus tenang ya....Abang dan yang lainnya tunggu sampai operasi kamu selesai!"


zira mengangguk.


pria itu hadir di waktu yang tepat, zira tidak tahu apa pendapat Ahmad tentang Ali.


Ali terus mendampingi zira sampai di ruang operasi, Ali melepaskan genggaman tangannya.


membiarkan dokter menutup pintu ruang operasi, rasa khawatir terbesit dalam benak nya Namun Ali yakin Toni pasti meminta pelayanan terbaik di rumah sakit itu.

__ADS_1


"sabar... berdoa untuk kelancaran proses operasi nya!"


Toni menepuk pundak Ali yang masih berdiri tak jauh dari pintu.


"terimakasih ton..."


Ali menghela nafas lalu duduk di kursi tunggu bersama Toni.


"Bang Al...!?"


Ali menoleh pada Alena yang memanggil nya


Alena bergegas menghampiri Ali saat salah satu suster memberi tahu nya bahwa Ali membawa seseorang ke rumah sakit tersebut. ia sendiri baru selesai melakukan operasi.


"siapa yang sakit?"


tanya Alena di hadapan Ali yang beranjak dari duduknya.


"calon istri Abang?"


jawab Ali.


"Siva? kenapa?"


tanya Alena yang tak mengetahui apa apa!


"bukan, Siva itu bukan calon istri Abang, sebelumnya Abang udah punya calon istri?"


Alena tertegun mendengar penuturan Ali, ia tak paham maksud saudara nya itu.


"Nanti Abang kenal kan, tapi sebenarnya kamu udah kenal dia na...dia sakit usus buntu, dan sekarang lagi tindakan operasi!"


Ali kembali menoleh pada ruangan dimana kekasih nya itu tengah tak berdaya.


"lalu bagaimana siva?"


tanya Alena, ia paling tahu bagaimana mommy nya tak bisa di bantah.


Ali tak menjawab ia hanya mengedikan bahunya.


Ali tak perduli, apapun yang terjadi Ali akan tetap dengan keinginan nya, selama ini ia sudah banyak menurut dan soal pendamping hidup Hanya dia yang berhak untuk menentukan dengan siapa ia menghabiskan waktu.


"Abang hanya akan menikah dengan orang yang Abang cinta... apapun resiko nya Abang sudah siap!"


Alena kembali tertegun, kakak nya memang sama keras dan hal itu memang menurun dari mommy nya sendiri.


namun apa yang akan terjadi jika mommy nya tahu soal ini, Alena yakin setelah ini akan ada masalah.


Wisnu sendiri hanya diam mendengar orang kepercayaan memberikan informasi tentang zira dan Ali.


Wisnu sudah berusaha menjauhkan Mereka berdua, bahkan keadaan hanya berselang dua hari namun secepat itu juga semesta mempertemukan mereka berdua.


"Ali enggak peduli dengan perbedaan yang ada, Ali cinta sama zira sudah sejak lama... selama ini Ali sudah banyak menurut pada keluarga ini dan tentang pendamping hanya Ali yang berhak menentukan dengan siapa, siapa pun tidak berhak mengatur Ali karena selama ini aku juga sudah mengabdi untuk keluarga ini, jadi tolong kakek jangan larang Ali dengan zira...."


Wisnu termenung mengingat percakapan nya dengan Ali, cucunya itu sudah benar benar mantap dan siap dengan segala resiko yang ada, selama ini Ali memang tak pernah banyak menuntut dengan Sri yang tak pernah ada waktu untuk nya atau pun Alena, kedua nya sibuk dengan pekerjaan tak pernah ada kebersamaan seperti keluarga lainnya, Ali juga menurut saat Sri menyuruh nya kuliah di Amerika dengan jurusan sesuai keinginan Sri dan yang lainnya.


Ali juga sudah membantu meningkatkan kualitas perusahaan meski hal itu memang menjadi kewajiban nya sebagai seorang anak, dan saat ini Ali pikir ia memiliki hak untuk menentukan siapa yang akan menjadi istri nya.


Sri sendiri sudah mendengar informasi dari seseorang tentang kejadian di perusahaan, namun ia belum bisa pulang karena terkendala oleh pekerjaan yang masih harus ia urus bersama suaminya.

__ADS_1


bersambung.....


__ADS_2