
beberapa hari berlalu....
pagi ini zira merasa mual dan ingin sekali muntah, Ali memperhatikan wajah zira tampak pucat.
"sayang kamu kenapa?"
tanya Ali mengusap pucuk kepala Zira yang masih betah dengan selimut tebalnya.
setelah shalat subuh zira meminta izin untuk kembali ke ranjang.
"enggak tahu bang, rasanya mual dan pusing!"
Zira bersandar pada dada bidang milik Ali.
"kita periksa ke dokter ya, kamu kan udah telat satu bulan ini....?"
Zira mendongak menatap wajah tampan suami nya, ia memang sudah telat satu bulan ini.mungkin kah ia hamil?
"kita beli taspack aja dulu bang? kalau udah pasti kita periksa ke bidan ya!"
Ali mengangguk lalu mencium kening istrinya itu lama.
"kamu tunggu di sini ya, biarkan Abang yang beli sendiri?!"
Zira mengangguk lalu Ali beranjak pergi meninggalkan zira yang kembali merebahkan tubuh nya di ranjang.
Ali mengendarai motor nya dengan hati yang gembira, kemungkinan istri nya itu hamil dan sebentar lagi ia akan menjadi seorang ayah.
"Al......?"
panggil seseorang membuat Ali menghentikan laju motor nya.
terlihat Ahmad turun dari mobil dan menghampiri Ali yang masih duduk di motor nya.
"bapak?"
Ali tersenyum saat Ahmad semakin dekat.
"kamu mau kemana? kok sendiri?"
tanya Ahmad, biasa nya mereka akan pergi berdua.
"Ali mau ke apotek pak?"
jawab Ali.
"mau beli obat? siapa yang sakit?"
tanya Ahmad menilik wajah Ali.
"enggak, Ali mau beli taspack....Zira mual muntah terus pak!"
Ahmad langsung tersenyum mendengar kata itu.
"Alhamdulillah bapak senang dengar nya Al, pantesan kemarin telpon minta di belikan mangga muda di pasar?"
"oh ya zira telpon bapak?"
tanya Ali senyum.
"ya al, ini kebetulan ada.... bapak beli untuk zira!"
ucap Ahmad menyodorkan plastik berisi mangga muda.
"terima kasih pak, zira pasti senang!"
"ya sudah lanjut kan Bapak juga mau pulang!"
ucap Ahmad lalu kembali ke dalam mobil.
Ali sendiri langsung melajukan motornya menuju apotek.
__ADS_1
Saat sampai di rumah Ahmad langsung menceritakan tentang percakapan bersama Ali, raut bahagia langsung terpancar dari wajah Rumi.
"kemarin juga telpon sama bapak, minta di belikan mangga muda....!"
"terus bapak belikan enggak?"
tanya Rumi.
"ya udah Bu langsung bapak belikan, udah bapak kasih ke Ali tadi!"
jawab Ahmad.
"Alhamdulillah ya pak, semoga zira beneran hamil!"
"amin......!"
jawab Ahmad penuh harap.
tak berapa lama Ali kembali dan Langsung masuk ke kamar, Darmi sendiri tengah masak di dapur.
"sayang.....!"
terlihat zira masih meringkuk di ranjang nya.
"coba lihat Abang bawa apa nih?"
ujar Ali menunjukkan plastik berisi buah mangga.
"apa itu bang? dari wangi nya zira kenal?"
zira beranjak dari tempat nya dan duduk bersandar pada kepala ranjang lalu meraih plastik bungkus tersebut.
"wah......!"
wajah nya berbinar seketika melihat mangga muda yang berbau harum.
"suka? kok minta nya sama bapak?"
tanya Ali.
jawab zira terkekeh lalu bersembunyi di dada Ali, wangi tubuh suaminya selalu menjadi penyemangat.
"sekarang coba cek nih....!"
ucap Ali menyodorkan taspack yang ia beli tadi.
"sekarang bang?"
tanya zira.
"ya sayang.....!"
Zira mengangguk lalu beranjak dari duduknya membawa taspack ke kamar mandi.
Ali merebahkan tubuhnya di ranjang sambil menunggu zira keluar dari kamar mandi, pernikahan nya menginjak dua bulan dan semoga tuhan memberikan anugerah indah nya.
senyum lebar tersungging di bibirnya saat zira melihat dua garis merah tercetak jelas pada taspack tersebut.
gegas zira keluar dari kamar untuk menunjukkan hal itu pada Ali.
Ali langsung beranjak dari ranjang saat mendengar zira keluar dari kamar mandi.
"sayang gimana hasilnya...?"
tanya Ali tak sabar melihat hasil taspack tersebut.
"Alhamdulillah....!"
Zira menunjuk garis dua tanda ia positif hamil.
wajah Ali langsung berbinar bahagia, gegas ia mendekati zira dan mengangkat tubuh zira lalu membawanya berputar.
__ADS_1
zira terperangah dengan perilaku manis suaminya itu, ia pun bahagia hingga meneteskan air mata.
"terima kasih ya sayang!"
Ali masih mengangkat tubuh zira yang menunduk menyatukan kening keduanya sambil tersenyum.
Ali melangkah lalu merebahkan tubuh zira di ranjang, mengusap perut istri nya pelan.
"Alhamdulillah...ada kehidupan di sini!"
ucap Ali lalu mencium perut zira.
"kita jaga sama sama ya sayang sampai tiba waktunya dia hadir di Dunia ini....ibu sama bapak pasti senang mendengar hal ini"
Zira mengangguk lalu tersenyum saat Ali mengecup bibir nya.
"kita nambah ya.....!"
Zira hanya tersenyum mendengar permintaan suami nya itu, rasa bahagia membuncah di hati kedua nya kala hadir buah cinta yang menjadi dambaan setiap pasangan yang baru menikah.
***
Sri melempar hasil kerja Wijaya yang baginya tidak bermutu, Wijaya mengepalkan tangannya melihat berkas pekerjaan nya di lemparkan ke sembarang arah.
Sri semakin tak menghargai nya sebagai seorang suami.
"aku enggak tahu kenapa kinerja kamu semakin buruk mas, sebenarnya kamu kenapa sih?"
tanya Sri menatap pria yang tengah ia curigai.
beberapa hari ini Wijaya semakin jarang pulang, hal itu membuat Sri berpikir kalau Wijaya ada main di belakang nya.
ia pun menyuruh orang untuk mencari informasi tentang suami nya itu, dan hasilnya adalah Wijaya selingkuh di belakang nya.
"bukan Kinerja ku yang menurun tapi kamu yang banyak menuntut tanpa menghargai jerih payah ku...."
"jerih payah yang mana hah?"
Sri semakin lantang.
"jangan berpikir kalau aku tidak tahu apa yang kamu lakukan di belakang ku?"
tanya Sri dengan tatapan geram, hatinya sakit saat orang kepercayaan nya memberikan informasi bahwa suami itu punya istri selain dirinya.
"kamu tahu? syukur lah kalau begitu....aku tidak perlu memberi tahu mu...aku jengah dengan semua ini!"
Wijaya hendak melangkah namun sri menahan nya
"kenapa kamu Setega itu sama aku mas?"
tanya Sri sekuat hati menahan air matanya.
"kenapa? kamu bertanya? coba introspeksi diri apa yang membuat ku penat dengan mu!
aku akan menceraikan mu ...!"
Sri langsung tertegun mendengar penuturan Wijaya yang begitu menyakitkan.
rumah tangga nya akan segera berakhir!
Wijaya menghela nafas berat lalu pergi meninggalkan Sri yang membeku sendiri.
**
Sri pulang mengendarai mobil nya seorang diri, tak ada lagi Wijaya yang dulu menjadi tempat nya bersandar.
satu jam kemudian ia sampai di rumah dengan langkah gontai, namun cepat Sri kembali pada dirinya yang selalu bersikap tegar dengan permasalahan hidup yang menimpanya.
Sri menatap potret keluarga yang terpampang di dinding, Wijaya telah pergi meninggalkan nya dan tentu saja Sri tidak akan tinggal diam.
pilihan nya saat ini adalah Ali, ia harus membawa Ali kembali ke rumah dan perusahaan yang terbengkalai karena ia mengurus seorang diri.
__ADS_1
bersambung..
terimakasih sudah mampir 😍😍