
Reza termenung menatap beberapa sapi yang tengah melahap rumput yang hijau, rumah yang ia bangun untuk Rosa seakan sia sia.
sakit bukan main saat Yuda memberikan Potret Rosa yang menikah meninggalkan Reza begitu saja tanpa putusan.
Reza menyeka air mata yang keluar dari sudut matanya, air mata itu paling tahu seberapa besar luka yang menganga di hati nya.
tabungan nya juga sudah cukup banyak untuk menggelar resepsi pernikahan, namun semua tinggal mimpi.
peternakan begitu sepi hanya suara binatang kecil yang dengan riang bersahutan meramaikan suasana dingin.
teringat seseorang yang beberapa waktu sering chat pada nya, memang hal biasa namun Reza tahu bahwa perempuan itu menaruh harapan besar akan tetapi Reza belum tahu rencana kedepannya, ia masih harus menata hati nya terlebih dulu agar tak ada yang tersakiti seperti dirinya.
Reza menghela nafas panjang lalu memejamkan matanya.
esok ia akan menunggu kepulangan zira dan Ali ke peternakan, Yuda sendiri kembali ke Malaysia karena harus mengurus pekerjaan nya.
***
Alena menghampiri ruangan zira yang terbuka dengan membawa beberapa paper bag berwarna coklat.
"hai sudah siap mau pulang?"
tanya Alena duduk di samping Toni yang langsung terpaku.
"ya, kamu mau ikut ke kampung?"
tanya balik Ali.
"mau bang, tapi nanti ya Alena nyusul deh.... ngurus cuti dulu!"
Toni terus memperhatikan dokter cantik adik sahabat nya itu, baru tersadar ada mutiara cantik di rumah sakit itu.
"biasa aja ton lihatin nya....!"
Ali terkekeh kecil melihat Toni yang langsung terperanga karena ketahuan tengah mengagumi adiknya itu.
Zira sendiri hanya tersenyum melihat hal itu, Rumi dan Ahmad sudah menunggu mereka di kosan.
"oh ya zira ini hadiah untuk mu, aku belikan khusus tapi jangan di buka sekarang ya nanti saja kalau sudah sampai peternakan!"
Alena menyodorkan paper bag tersebut, zira menoleh ke arah Ali yang menyuruh nya untuk menerima hadiah itu.
"Lena dengar Abang....mm.."
Alena menjeda ucapan nya khawatir zira tersinggung, Alena tahu Sri sudah mengambil semua milik kakak nya itu.
"ya, tidak apa apa zira Juga sudah tahu!"
jawab Ali dengan santai.
"ya sudah ambillah ini untuk keperluan Abang!"
Alena kembali menyodorkan sebuah ATM berwarna biru.
"ini punya Lena khusus, mami tidak tahu!
tidak banyak isinya tapi cukup untuk kalian membuka usaha di kampung!"
Ali tertegun mendengar hal itu, ia beruntung memiliki adik sebaik Alena.
__ADS_1
"ya terimakasih Len, Abang pinjam dulu nanti pasti Abang ganti!"
Ali juga langsung merengkuh adiknya itu.
"Abang harus sering telpon ya, Lena pasti rindu dan jangan terlalu memikirkan hal itu.
Lena ikhlas bantu....."
Alena sebenarnya ingin sekali ikut namun rumah sakit tengah membutuhkan nya.
*
setelah itu mereka bersiap untuk pulang dan menjemput Ahmad dan Rumi di kosan.
Alena tersenyum menatap punggung mereka yang menjauh, namun senyum nya tertahan saat melihat Toni membalikkan badannya tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya, Alena terpaku dengan jantung berdebar di sertai rasa senang yang membuncah.
"boleh deh gue jadi adik ipar Lo, Al..."
Tutur Toni saat mereka masuk ke dalam mobil.
"emang yakin Alena Mau sama Lo?"
Ali terkekeh saat zira menepuk pundak nya pelan menoleh ke arah Toni yang langsung manyun.
"kurang apa sih gue, ya meski sekarang gue pengangguran....!"
Toni terkekeh kecil mentertawakan diri nya sendiri.
"Maaf ya bang Toni jadi kena imbasnya?"
ucap zira tersenyum membuat Toni menarik bibir nya. tersenyum mendengar zira memanggil nya Abang.
"hm, kenapa?" tanya zira menoleh ke arah Ali.
"enggak boleh manggil nama, enggak sopan, bang Toni kan lebih tua.....!"
ucap zira membuat Toni tertawa melihat Ali yang langsung mendelik tak suka.
"ya sudah enggak apa-apa?!"
Zira menggeleng kan kepalanya saat Ali langsung merengkuh tubuh nya.
tak berapa lama mereka sampai di kosan, Ahmad dan Rumi sudah bicara dengan dela pemilik kosan tersebut.
Nadia juga menunggu kedatangan zira karena sahabat nya itu hendak pulang kampung.
"assalamualaikum....!"
zira masuk ke dalam ruangan besar dimana Ahmad dan Rumi sudah menunggu bersama dela dan Nadia.
"walaikumsalam......gimana udah sehat? maaf ya ibu enggak sempat ke rumah sakit karena kurang sehat!"
Tutur dela merangkul pundak zira.
"ya enggak apa-apa Bu, zira juga udah sehat!"
mereka mengobrol di ruangan tamu sebelum zira pamit.
"aku pasti rindu nanti sama Kamu Ra?"ucap Nadia dengan wajah sendu.
__ADS_1
"aku juga pasti rindu, main ya nanti ke kampung!"
ujar zira memeluk Nadia.
"semoga Allah menuntun langkah ku ke kampung kamu ya!"
harap Nadia mengingat seseorang yang beberapa waktu sering chat dengan nya.
Memang tak ada percakapan yang spesial namun Nadia menyukai pria itu sejak saat pertama kali bertemu meski sikapnya begitu dingin.
setelah itu zira pamit pada dela, di ikuti Ahmad dan Rumi yang juga berterimakasih pada dela, dela merasa senang dengan keberadaan zira yang sederhana dan tidak macam macam, Dela tersenyum memperhatikan Ali, suami zira.
dela tahu seperti apa zira, pantas pria itu seperti tergila gila pada zira.
cantik alami dan baik hati, sederhana juga ramah.
"selamat ya untuk pernikahan kalian, Bu enggak kasih hadiah apa apa, tapi ibu doakan ya semoga kalian cepat dapat momongan ya..."
"amin....!"
jawab mereka serempak ikut mendoakan kebahagiaan keduanya.
setelah itu zira dan yang lainnya pamit meninggalkan Nadia dan dela yang melambaikan tangannya berpisah dengan zira.
perjalanan cukup jauh, Toni dan Ahmad di depan, Rumi di tengah sendiri sementara zira dan Ali memilih duduk di belakang.
"tidur de kalau ngantuk....!"
Ali tersenyum merengkuh tubuh zira mengusap kepala nya agar bersandar pada nya.
"terima kasih ya bang!"
ucap zira lirih, zira tahu bukan sedikit biaya pengobatan nya di rumah sakit.
Alhamdulillah sekarang ia sudah sehat kembali berkat perawatan dan obat-obatan terbaik yang di berikan oleh pihak rumah sakit sesuai permintaan Ali.
Ali mengangguk pelan sambil tersenyum lalu mencium kening zira.
Ahmad tersenyum melihat keduanya terlelap dalam tidurnya, Ali juga tertidur sambil memeluk zira.
Ahmad termenung mengingat percakapan bersama sulung nya.
"nanti lusa mobil kol bak nya di kirim ke rumah, jadi nanti bapak bisa jual hasil panen langsung ke pasar...
nanti ada Ali yang ajarin bapak bawa mobil.."
ucap Yuda saat mereka berbicara berdua.
tanpa Rumi tahu rumah mereka pun tengah di renovasi, Yuda langsung meminta tukang untuk merenovasi rumah. semua bahan bangunan juga sudah di kirim langsung ke kampung.
beberapa waktu Jam berlalu, mereka sampai di kampung setelah beberapa kali rehat di rest area.
Rumi dan Ahmad tertegun menatap rumah mereka yang kini jauh berbeda.
"Yuda Bu anak kita yang sudah merenovasi rumah?"
ucap Ahmad merangkul pundak Rumi yang tergugu.
bersambung.....
__ADS_1
terima kasih yang sudah mampir