terpikat pria tampan amnesia

terpikat pria tampan amnesia
buih.


__ADS_3

Reza tertegun saat melihat potret besar di ruang tamu rumah besar itu, terpampang jelas Poto pria amnesia itu, selama ini Reza tidak pernah masuk ke dalam rumah besar itu, namun karena Darmi meminta Reza mengecek genteng yang bocor untuk pertama kalinya juga Reza melihat potret seseorang yang kemarin berada di peternakan itu.


"Bu darmi itu siapa?"


tanya Reza pada Darmi yang berada dekat nya.


"itu keluarga pak Wisnu, itu kedua cucunya...."


Darmi tersenyum menatap potret tersebut.


"coba Bu Darmi lihat Poto ini...."


ujar Reza memperlihatkan Poto pria amenesia itu.


"loh kok sama, jadi selama ini Ali ada di peternakan..."


Wisnu pernah bercerita pada Darmi bahwa cucu kesayangan nya hilang entah kemana.


"nama nya siapa Bu darmi?"


tanya Reza pada Darmi.


"tuan muda Ali, tuan besar pernah bercerita kalau cucunya hilang...tak menyangka selama ini dia ada dekat kita, kalau saja waktu itu aku ketemu sama tuan muda mungkin kejadian nya tidak akan seperti ini!"


Darmi sendiri mengetahui peristiwa perkelahian yang menyebabkan Reza dan pria amnesia itu hilang.


"ya ya Bu, ya sudah aku kasih tahu dulu zira soal ini....!"


gegas Reza merapikan peralatan pekerjaan nya lalu pergi meninggalkan Darmi yang masih tak percaya dengan kenyataan itu.


makan siang tak selera, zira berharap waktu segera berakhir agar ia cepat pulang.


Nadia memperhatikan zira yang sejak tadi memainkan ponselnya tanpa menyentuh sedikit pun makanan nya.


"Ra, makan enak loh, ayam bakar....!"


ujar Nadia duduk di hadapan zira yang membuka masker nya.


"Ra kamu harus cerita sama aku ya!"


zira tak menjawab ia hanya mengangguk dengan pandangan kosong ke depan.


sore...


zira menghela nafas saat jam pulang tiba, ia begitu menanti kan waktu itu.....


luka hati nya semakin bertambah dan berdarah saat melihat seorang wanita berjalan di samping Ali, bukan Nindy seperti nya wanita itu yang dijodohkan oleh orang tua Ali.


Ali sendiri merasa jengah karena Siva tak bosan terus mengikuti nya, sesuai instruksi dari Sri yang menyuruh Siva untuk terus mendekati ali.


besok Ali berencana untuk pergi ke kampung bersama Toni untuk menemui kekasihnya itu, tanpa tahu seseorang yang ia cari berada di dekat nya memperhatikan Ali dari jauh tanpa bisa menggapai nya karena sekat tak kasat mata yang menghalangi keduanya untuk bertemu.


"sekarang aku mau pulang, bisa kan kamu pulang sendiri?"


tanya Ali pada Siva yang berada di samping nya.

__ADS_1


"aku enggak bawa mobil, antar aku pulang ya!"


Siva tetap sabar menghadapi sikap Ali yang cuek dan dingin terhadap nya. Sri bilang ia harus sabar untuk mendapatkan hati Ali.


"aku Carikan kamu taksi saja!"


Ali langsung beranjak dari mobilnya melangkah ke depan meminta satpam mencari kan taksi.


zira memperhatikan hal itu, bagi zira itu adalah bentuk perhatian pria pada wanita nya.


pria amnesia itu kini menggunakan pakaian brand termahal, bahkan wanginya saja sampai pada posisi nya yang cukup jauh dari Ali, zira termenung memikirkan nama itu.


'Ali..... nama nya Ali...'


"Ra, ayo naik..maaf ya aku lama di toilet nya!"


zira menuggu Nadia yang meminta ke toilet sebelum pulang.


"ya sudah ayo!"


zira langsung naik ke atas motor melewati Ali yang mengantar Siva naik ke dalam mobil taksi.


zira tak menoleh sedikit pun, hati nya hancur berkeping keping melihat mereka berdua.


harapan itu pupus seketika.


'seharusnya aku tidak terpikat pada mu bang, seharusnya aku menurut apa kata ibu'


gumam zira dalam hatinya, pikiran nya benar benar kacau karena hal itu.


"terimakasih nad..."


zira langsung Turun dari motor, Nadia tertegun menatap zira yang langsung berlari kecil meninggalkan Nadia yang masih berada di motor.


gegas zira masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh wajah nya yang basah, namun air mata kembali membasahi pipinya.


"zira...kamu baik baik aja kan?"


tanya Nadia di depan pintu.jujur ia merasa khawatir dengan keadaan sahabat nya itu.


zira keluar dari kamar mandi dan membuka pintu dengan wajah sembab nya.


"kamu nangis Ra...?"


tanya Nadia duduk di dekat zira yang memeluk lutut nya sambil terisak.


"aku emang cengeng...."


Nadia langsung memeluk zira mengusap punggung nya yang bergetar menahan air mata nya.


"nangis sepuasnya kalau itu bisa bikin kamu lega, tidak ada perempuan yang tidak cengeng, air mata adalah senjata untuk kembali meraih kekuatan, lumrah seseorang menangis karena tersakiti..."


Nadia mengusap punggung zira hingga sahabat nya itu berhenti menangis.


"minum Ra, kamu boleh sedih dengan semua permasalahan yang ada tapi kamu harus bangkit dari keterpurukan..."

__ADS_1


Zira tersenyum simpul mendengar penuturan Nadia, ia memang merasa lebih lega setelah menangis.


"ada apa sih Ra!? cerita sama aku!"


ujar Nadia, keduanya menoleh ke arah ponsel zira yang berdering.


zira merogoh ponsel nya, terlihat Reza melakukan panggilan telepon, zira menarik nafas dalam-dalam sebelum mengangkat telepon Tersebut.


"halo paman....!"


ujar zira lirih tak ingin Reza mendengar suara pilunya.


"halo Ra, paman mau kasih tahu kamu sesuatu tapi kamu jangan kaget ya!"


zira tertegun ini pasti soal Ali, dari mana paman nya itu tahu.


"Ra, pria amnesia itu ternyata pemilik peternakan nama nya Ali....!"


ujar Reza menghela nafasnya.


"ya, zira sudah tahu...!"


"kamu sudah tahu, apa kamu sudah bertemu dengan nya?"


tanya Reza penasaran, Nadia mendengar kan zira yang bercerita pada Reza..dari situ Nadia paham apa yang tengah terjadi pada sahabat nya itu.


"tolong zira Paman?"


"apa itu Ra?" tanya Reza masih tak percaya dengan apa yang zira cerita kan, Sudah di pastikan bahwa saat ini keponakan nya itu terluka.


"jika ada pria itu datang dan menanyakan tentang zira, katakan saja paman tidak tahu..."


"mana bisa seperti itu Ra, dia Pasti maksa!"


ujar Reza bingung harus berbuat apa nanti saat Ali datang.


"zira enggak mau ketemu dia lagi, zira akan melupakan semua nya karena Zira cukup tahu diri, Zira hanya buih yang tidak pernah bermimpi jadi permadani"


Reza kembali tertegun mengingat Ahmad yang kini berada jauh seberang.


"katakan saja zira yang meminta paman untuk tidak memberi tahu nya, meski zira tidak yakin dia akan datang karena dia sudah punya seseorang yang jauh dari zira....."


Zira menyeka air matanya mencoba menguatkan hati untuk tidak lagi meratapi apa yang terjadi.


"jika mencintai mu suatu kesalahan maka aku akan melakukan hal yang benar dengan menanggal kan mimpi itu....."


gumam zira sendiri dalam hati nya.


"pekan ini Zira akan kembali ke kampung dan setelah nya zira akan susul bapak sama ibu ke Malaysia....!"


"ya sudah nanti aku jemput kamu ke Jakarta Ra... jangan sedih lagi, kamu harus kuat!"


ujar Reza lalu mematikan panggilan telepon nya.


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2