terpikat pria tampan amnesia

terpikat pria tampan amnesia
kekuatan cinta.


__ADS_3

kedua nya pergi keluar menggunakan motor, Zira ingin membeli martabak manis keju, Ali dengan pelan melajukan motornya menyusuri jalanan kota mencari pedagang martabak Bangka permintaan istri nya itu.


"kok pelan bang?"


tanya zira memajukan kepalanya hingga wajah nya sejajar dengan wajah Ali.


"biar lama jalan jalan nya.....!"


jawab Ali mengecup pipi zira yang merona.


"cantik nya istri Abang ini...."


ujar Ali menyentuh pipi zira.


tak lama mereka sampai di depan pedagang martabak manis, zira hendak turun namun Ali menahannya.


"kita tunggu di sini saja.....!"


ujar Ali.


"pak martabak keju coklat ya.... satu!"


ucap Ali memesan tanpa turun dari motor.


"kenapa enggak boleh turun?"


tanya zira menatap Ali yang menoleh ke belakang.


"banyak cowok....!"


jawab Ali lirih menggenggam tangan istri nya itu.sementara zira hanya terkekeh kecil mendengar penuturan suami nya.


ali memikirkan percakapan mereka tadi setelah makan, sebenarnya Ali tidak suka kalau zira kembali mengajar itu akan melelahkan namun ia juga paham bahwa zira tak betah tinggal di rumah itu, ia memang harus segera mencari rumah untuk mereka berdua.


"aku mohon bang, lagian utun baik baik aja...aku mau ngajar lagi?"


ucap zira memohon, mengatakan bahwa ia di tawari oleh teman yang dulu sekampus dengan nya.


"ya udah tapi kalau aku udah dapat rumah untuk kita, kamu berhenti ya!"


zira tertegun sambil berpikir apakah ia harus benar-benar berhenti?


"ya sudah......!"


tidak apa-apa lah yang terpenting saat ini ia bisa menghindari Sri, dengan itu ia tidak harus seperti pembantu meski sebenarnya hal itu sudah biasa baginya tapi tetap saja ia tidak suka dengan perlakuan Sri yang memandang rendah diri nya.


tak lama pedagang itu menyodorkan pesanan mereka. Ali mengambil lalu membayar nya dengan uang seratus ribuan.


"Ambil saja kembalinya pak...."


"terima kasih pak....!"


ucap pedagang itu tampak senang.


"Kita makan di rumah ya....!"


zira mengangguk lalu memeluk Ali yang langsung melajukan motornya.


Ali menggenggam tangan zira, terasa perut Zira yang menempel pada nya, sebenarnya apa yang terjadi selama zira tinggal? selama ini ia sibuk dan tak tahu apa saja yang istrinya lakukan di rumah.


tak berapa lama mereka sampai di rumah, zira turun dari motor dan naik ke teras menunggu Ali memarkirkan motor nya.


"ayo sayang....!"


karena malam sudah larut Ali mengajak zira untuk makan di dalam kamar.


Ali tersenyum memperhatikan Zira yang makan dengan lahap.


"enak.....?"

__ADS_1


tanya Ali mengambil satu potong.


"enak, tapi kebanyakan...... nanti siapa yang makan...!"


"nanti Abang kasih ke Bu vio atau Rahel...!"


zira mengangguk sambil tersenyum.


zira menghentikan makannya setelah mengambil tiga potong martabak.


"udah ah bang, kenyang...."


ujar zira beranjak ke kamar mandi.


"ya udah Abang ke belakang ya!"


ucap Ali lalu keluar dari kamar melangkah menuju kamar pembantu di belakang rumah.


"Bu vio......!"


panggil Ali saat sampai di dekat pintu, gegas vio keluar dari kamar nya di ikuti oleh Rahel.


"ada apa den?"


tanya vio langsung.


"saya ingin ngobrol dengan kalian berdua"


vio dan Rahel keluar dari kamar mengikuti langkah Ali menuju taman di pinggir dimana keberadaan mereka tak akan terlihat oleh Sri.


"katakan apa yang zira lakukan selama di rumah?"


tanya Ali, keduanya tertegun.


"kalian tidak boleh berbohong dan tidak usah takut dengan mommy....!"


"maaf den....... dua Minggu ini non Zira membantu kita membersihkan rumah, dan itu atas perintah nyonya tapi saya bantu kok ...."


ucap Rahel dan dianggukan oleh Vio yang menunduk.


"ya sudah, ini untuk kalian dan terima kasih sudah baik pada Zira....!"


ucap Ali setelah beberapa saat tertegun mendengar penuturan keduanya. ali beranjak pergi setelah memberikan uang dan martabak yang masih banyak.


"terimakasih den...."


ujar Vio dan Rahel tersenyum senang.


Ali kembali ke kamar, terlihat zira tengah menerima telepon dari seseorang entah siapa.


Zira membalikkan tubuhnya dan tersenyum menatap Ali yang mendekati nya.


"siapa?"


tanya Ali meraih pinggang istri nya.


"bapak sama ibu?"


ucap zira tersenyum lalu mematikan panggilan nya.


"apa kata bapak?"


tanya Ali menatap Zira yang memegang dada bidang nya.


"rindu....!"


jawab zira senyum lalu mengalungkan tangannya di leher Ali kedua nya saling menyelami netra masing masing.tak sedikitpun zira mengeluhkan tentang sikap Sri padanya, ia juga tidak mengadu tentang perlakuan Sri yang merendahkan nya.


Ali memeluk zira, mendekap erat tubuh yang selalu menjadi candu untuk nya.

__ADS_1


"maafkan Abang ya kalo Abang kurang perhatian Sama kamu, padahal Abang udah janji sama bapak dan ibu untuk jagain kamu..."


Zira tertegun mendengar penuturan Ali, mendongak menatap Ali yang langsung mengecup bibir nya.


"kapan mulai mengajar nya?"


tanya Ali.


"HM, lusa..... kenapa?"


"besok ikut Abang ke kantor ya, nanti kita akan cari rumah baru...!"


Zira mengangguk sambil tersenyum.


zira senang karena Ali mengajak nya pergi dari rumah itu mengingat sikap Sri, zira pikir lebih baik menghindar meski zira tahu Sri tengah berusaha memisahkan keduanya tapi zira yakin akan kekuatan cinta yang tak akan menggoyahkan keduanya.


"kita istirahat ya...."


titah Ali mengajak Zira naik ke ranjang.


*


pagi.....


Ali menuntun tangan zira keluar dari kamar, Ali berpikir untuk sarapan di luar saja. saat ini ia sedang tidak ingin berdebat dengan Sri.


"Len aku sarapan di luar ya, aku buru-buru... bilang sama mommy..."


ucap Ali pada Alena yang sudah mulai mengambil cuti karena sebentar lagi ia akan menikah, semua Persiapan sudah dilakukan tinggal menunggu waktu nya saja.


"zira ikut?"


tanya Alena.


"ya, kapan Kakek pulang?"


tanya Ali.


"kakek bilang lusa, Pokok nya sebelum aku menikah..... tapi keluarga Dady tidak akan datang kemari, Dady bilang mereka menginap di rumah Dady dengan perempuan itu dan akan hadir saat acara....!"


ucap Alena mengingat Wijaya dan Sri yang sudah berpisah.


"ya sudah tidak apa apa yang terpenting mereka hadir di acara nanti!"


jawab Ali lalu pergi menuntun zira keluar dari rumah itu.


Zira tersenyum bahagia melihat tangan yang begitu eratnya menggenggam nya.


"masuk sayang.....!"


titah ali membuka pintu mobil.


Zira masuk ke dalam mobil di ikuti oleh Ali yang memutar langkah nya Masuk ke dalam mobil.


tentu saja hal itu tak luput dari perhatian Sri yang berada di dalam kamar, teringat Sikap Wijaya yang dulu sebaik Ali.


Sri memalingkan wajahnya lalu menyeka air mata yang keluar dari wajah nya, kemarin ia melihat Wijaya menggandeng seorang perempuan bersama anak kecil.


"bab.... gimana kalau kita punya anak lagi, aku rindu anak kecil di rumah ini, Alena dan Ali sudah besar...."


delapan tahun yang lalu Wijaya pernah meminta itu namun dengan tegas Sri menolak dan memilih untuk berkarier.


tidak menyangka keinginan itu Wijaya wujudkan bersama perempuan lain, dan apa kah pantas jika ia marah sementara semua terjadi karena ia tidak bisa memenuhi kebutuhan dan keinginan Wijaya.


ingin seperti mereka yang melabrak perempuan yang sudah memalingkan suaminya namun Sri bukan lah seorang yang suka mengemis cinta apa lagi menangis di hadapan orang.


ia lebih memilih untuk tidak peduli dan melepaskan diri dari kesedihan.


bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2