
Zira menatap wajah Kahiyang yang tampak pucat, anak sekecil itu harus merasakan di infus, rasanya hancur Melihat putri nya terus menerus menangis karena kesakitan.
"sabar ya sayang, Kahiyang pasti kuat...."
ujar ali merengkuh zira yang tergugu.
"kamu harus kuat ya cinta nya bunda..."
Nadia dan Reza masuk ke ruangan di ikuti oleh Sri dan Wisnu yang ingin melihat kondisi Kahiyang.
"kamu harus sabar ya....!"
ucap kakek Wisnu memberikan kedua nya semangat.
Wisnu kemudian menemui dokter untuk membicarakan keadaan kahiyang, Wisnu meminta dokter untuk memberikan pelayanan yang terbaik untuk cicitnya itu.
Sri lebih banyak diam memperhatikan cucunya yang terbaring lemah, lama kelamaan ia pun bicara.
"maka nya anak sekecil ini jangan di tinggal kerja, uang Ali kan banyak saya pikir kamu itu enggak perlu kerja dan urus Kahiyang saja...."
ucapan Sri langsung menohok hati zira.
"udah mi jangan memperkeruh suasana.... Lebih baik mommy pulang karena mommy juga kurang sehat....!"
sahut Ali memeluk pundak zira.
"ya ayo kita pulang saja....."
ajak Wisnu lalu mendorong kursi roda milik Sri.
"kamu jangan pikirin yang mommy bicarakan ya...."
Zira menoleh menatap wajah suaminya.
"tapi benar apa yang di katakan mommy mu... kenyataan seperti apa pun aku, mommy mu tetap saja tidak bisa menerima aku...dan aku Merasa semua itu percuma...."
Zira duduk di kursi dengan tergugu menggenggam tangan kahiyang.
"kamu harus berjuang melawan penyakit itu, bunda tahu kamu kuat nak....."
ucap zira sambil terisak.
Nadia yang melihat itu merasa pilu, gegas menghubungi rumi dan Ahmad untuk memberi tahu keadaan Kahiyang.
*
wajah Rumi langsung pucat membaca pesan dari Nadia, tubuh nya langsung lemas mengetahui cucunya terkena demam berdarah.
gegas Rumi menghubungi Ahmad meminta nya untuk segera pulang, ia juga meminta pekerja nya untuk segera menutup toko karena Rumi akan berangkat ke Jakarta.
"ya Bu aku langsung pulang, siap siap saja kita langsung berangkat ke Jakarta...."
jawab Ahmad saat Rumi menelpon memberi tahu keadaan Kahiyang, gegas Ahmad melajukan mobilnya menuju rumah.
tak berapa lama Ahmad sampai di rumah terlihat Rumi sudah menutup toko dan membereskan baju baju yang hendak ia bawa karena mereka akan menginap beberapa hari.
"pak ibu khawatir dengan Kahiyang, zira pasti sedih..."
ujar Rumi masuk ke dalam mobil sambil membawa ransel nya.
__ADS_1
"ya bapak juga, kita doakan saja ya Bu"
Rumi mengangguk lalu berdoa untuk cucunya itu.
*
Wisnu tahu zira pasti menghubungi orang tua nya untuk datang ke Jakarta, Wisnu berpikir untuk mengajak sri kembali ke rumah karena Wisnu tahu kalau Sri juga belum sepenuhnya menerima zira dan keluarga nya, lebih baik sri tinggal bersama nya dan menghindari perdebatan yang Selalu Sri hadir kan.
"loh kita kemana?"
tanya Sri karena supir melaju kan mobil bukan ke jalan yang menuju rumah Ali.
"kita pulang ke rumah dulu, di rumah ali Juga hanya ada pembantu.... mereka di rumah sakit, kalau di rumah ada ayah, Sri..."
Sri mengangguk tanda setuju, dari pada ia kesepian di rumah lebih baik ia pulang saja dulu.
**
Alena masuk ke dalam Melihat Zira yang tampak sendu, mengaji di hadapan Kahiyang yang terbaring lemah, Ali sendiri pulang dulu untuk mengambil pakaian ganti zira dan dirinya.
Wisnu mengirim pesan pada ali kalau ia membawa Sri kembali ke rumah.
"kamu sabar ya Ra....kamu harus terus kasih semangat untuk Kahiyang"
zira mengangguk lalu merengkuh tubuh Alena yang berdiri di samping nya.
Alena Juga memberi tahu Wijaya dan indah kalau Kahiyang masuk rumah sakit.
kemungkinan esok mereka akan datang menjenguk Kahiyang.
"tidak ada yang baik baik saja di dunia ini, semua di uji dengan ujian masing-masing...kamu harus sabar Ra..."
ujar Alena mengusap punggung zira yang tergugu, dokter bilang kondisi Kahiyang kemah.
Ali tertegun melihat kedua perempuan yang ia sayangi tengah saling menguatkan, sebenarnya hal seperti yang ali harapkan dari mommy nya bukan malah hujatan yang membuat zira semakin down.
"bang Ali sudah kembali?"
tanya Alena menoleh.
Ali tak banyak bicara ia hanya menghampiri zira lalu memeluknya, mengusap kepalanya memberikan ketenangan.
"kamu harus sabar dan semangat, hal itu yang membawa aura positif untuk Kahiyang..."
ujar Ali.
"Abang juga sedih, Abang juga tidak tega melihat Kahiyang seperti itu... tapi kita sudah berusaha dan berdoa untuk kesembuhan Kahiyang, kita tinggal menunggu hasilnya dengan sabar...."
sambung Ali dan di anggukan oleh zira.
"assalamualaikum..
gimana keadaan Kahiyang Al?"
tanya Toni yang baru saja tiba untuk menjemput Alena pulang.
"dokter bilang trombosit nya turun, keadaan Kahiyang lemah.....!"
jawab Zira dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Kamu yang sabar ya, aku yakin dokter pasti memberikan penanganan terbaik..."
ujar Toni berusaha menguatkan keduanya.
Reza juga sudah menghubungi Arjun untuk meminta izin beberapa hari karena Kahiyang masuk rumah sakit, Arjun dan Anita besok berencana untuk menjenguk Kahiyang di rumah sakit.
"ya udah, aku pulang dulu ya!"
pamit Alena dan Ali.
"sabar ya....!"
ucap Toni pada Ali.
setelah itu keduanya pamit dan keluar dari ruangan.
"sayang kamu makan dulu ya...!"
ucap Ali mengajak zira untuk duduk di sofa, namun zira menolak untuk jauh dari Kahiyang.
"ya sudah Abang suapin ya, Abang enggak mau kamu sakit, kita harus sehat karena Kahiyang butuh kita di sini de....!"
zira mengangguk lalu menerima suapin dari Ali dengan air mata yang berkaca-kaca.
"zira takut bang....."
ucap Zira menunduk mengusap air mata yang mengalir di pipi nya.
"takut apa? kamu harus sabar, kuat karena apa pun keadaan nya sudah Allah rencana kan dengan sebaik mungkin...
kamu enggak boleh berpikiran buruk..
Abang juga sedih....!"
Ali merengkuh zira menghapus air mata yang mengalir tanpa jeda.
"sabar ya, lihat Kahiyang juga tidak menangis...tadi ibu telpon mengatakan kalau mereka sedang berada di perjalanan menuju Jakarta....!"
"siapa yang kasih tahu ibu.....!"tanya zira.
"Paman yang kasih tahu karena khawatir dengan kondisi Kahiyang, ibu dan bapak langsung berangkat!"
jawab Ali mengusap kepala zira.
Ali memangku wajah istrinya lalu menciumi nya.
"kamu istirahat dulu, kemungkinan bapak dan ibu tiba akan tiba nanti malam..."
Zira mengangguk lalu kembali menatap wajah putri nya yang lemah.
zira menggenggam tangan Kahiyang lalu menelungkup Kan wajah nya yang basah di tepi ranjang, seakan tak ingin jauh dari putrinya nya itu.
Zira bermimpi ia berjalan di sebuah lembah yang sunyi namun begitu indah dengan sungai yang mengalir dengan air yang begitu jernih.
"dadah bunda.... jangan nangis ya, Kahiyang sayang bunda dan ayah....!"
Zira langsung tertegun dengan air mata yang mengalir begitu saja saat mendengar kata yang di lontarkan putrinya, dalam mimpi Kahiyang sudah besar berumur sekitar empat tahun, begitu lucu dan cantik.
"Kahiyang..........!"
__ADS_1
teriak zira sambil terisak..
bersambung...