
Ali dan Wijaya bergegas membawa Sri ke rumah sakit saat kondisi nya semakin melemah, padahal esok mereka berencana akan pulang ke tanah air, namun seperti nya akan tertunda melihat keadaan Sri yang langsung tidak sadarkan diri.
"kamu harus kuat dan sabar.... kita berdoa sama sama untuk kesembuhan mommy?!"
ujar zira duduk di samping Ali.
Ali menghela nafas lalu memeluk zira meluapkan kesedihan nya, semalaman bahkan mereka berbincang dan bercanda bersama di meja makan, keadaan Sri bahkan jauh lebih baik, tapi pagi ini tiba tiba Sri mengalami penurunan besar hingga langsung menyebabkan sri tak sadarkan diri.
"apa kita enggak bawa mommy pulang aja dad...?"
ucap Alena duduk di samping Wijaya.
"Mommy mu ingin di sini, bersama ibunya...!"
Wijaya menghela nafas panjang mengingat percakapan nya semalam dengan Sri.
"kalau besok Aku pulang, aku ingin di makamkan di sini....!"
"jangan berbicara tentang perpisahan...kamu akan sembuh!"
jawab Wijaya menunduk kan wajah, sadar bahwa selama ini ia belum menjadi imam yang baik untuk istri nya.
"aku harap kamu ridho!"
balas Sri menggenggam tangan Wijaya yang langsung memeluk nya, tubuh nya begitu kurus, Sri memang sangat lemah.
hingga pagi hari Wijaya tidak meninggalkan nya, terus memeluk Sri hingga tersadar bahwa Sri sudah tidak sadar kan diri dan dokter mengatakan bahwa Sri mengalami koma.
Sri pernah mengatakan bahwa ingin seperti ibu nya yang meninggal dunia di tanah suci, ia juga sudah bertobat dan mengakui semua kesalahan serta menyesali semua nya.
*
"kamu harus ikhlas, apa pun yang terjadi Ali, Alena...."
__ADS_1
seketika itu pecah tangis Alena dalam dekapan Toni.
Ali sendiri hanya bisa menyeka air matanya, berusaha untuk kuat dan ikhlas seperti dulu ia kehilangan Kahiyang.
tak berapa lama Wisnu datang lalu masuk ke ruang ICU bersama Wijaya untuk melihat kondisi Sri.
semua menunggu dengan wajah murung, apa Lagi saat dokter dan beberapa suster masuk ke dalam ruangan ICU, lalu Wijaya keluar meminta Ali dan Alena untuk masuk.
Ali menggenggam tangan Alena masuk ke dalam ruangan itu, Alena menghentikan langkahnya saat melihat kondisi jantung Sri semakin lemah.
Alena menangis memeluk Ali dari belakang, karena saat itu Wisnu tengah membisikkan kalimat syahadat seakan menuntun Sri untuk pulang.
Ali sendiri menghampiri sambil memegang tangan Alena yang memeluk nya dari belakang.
"kamu ikhlas Al..?" tanya Wisnu, Wijaya sendiri sudah terisak.
"ya, Ali dan Alena ikhlas...."
jawab Ali menunduk sambil menitikkan air mata nya dan saat itu pula Sri menghembuskan nafas terakhir nya.
ujar dokter.
"mommy....!"
ujar Alena menangis memeluk Sri yang sudah tidak bernyawa, semua menitik kan air mata nya namun mereka juga harus ikhlas melepas kepergian sang ibu yang sudah melahirkan mereka.
**
Ali menatap gundukkan tanah yang mengubur mommy nya, sempat berpikir untuk memakam kan Sri di tanah air namun seperti keinginan Sri, Ali tidak bisa membantah.
"Doa kan terus..... kamu harus ikhlas.."
ujar Ahmad menepuk pundak Ali.
__ADS_1
"ya pak... terimakasih..."
zira terus berada di samping suaminya, berdoa untuk mertuanya yang sudah tenang di sana.
"seperti rencana sebelumnya, kita akan pulang dan mengadakan pengajian di rumah sampai tujuh hari mommy, dady Juga sudah menugaskan Tante mu untuk mengurus semua nya di rumah untuk hari ini...."
ujar Wijaya yang berusaha tegar, ia bersyukur meski sempat berpisah dengan Sri namun saat saat terakhir ia bisa menemani dan memeluk Sri, bersyukur memiliki istri seperti indah yang mau menerima keadaan itu, ia juga yang terus mensupport Wijaya juga Sri.
"ya sudah kita pulang sekarang Al... hari juga sudah panas, kasihan zira sedang hamil..."
sambung Wijaya lalu pergi, Ali juga beranjak meninggalkan pemakaman tersebut bersama zira.
"kamu memaafkan mommy kan de?"
tanya Ali saat mereka berada di dalam mobil.
"tentu saja, zira juga sudah tidak mengingat hal itu lagi.... insa Allah mommy pulang dalam keadaan yang baik, kita semua sudah memaafkan mommy, kita bahkan sudah melupakan semua hal menyakitkan di masa lalu.... yang saat ini harus kita lakukan adalah terus mendoakan mommy"
Ali mengangguk lalu memeluk zira.
tak lama mereka sampai di hotel, Rumi dan Nadia tengah membantu membereskan barang-barang Sri yang hendak di bawa Pulang.
Alena hanya meringkuk sambil menangis bersama Esa yang sudah terlelap.
zira menghampiri lalu mengusap punggung Alena.
"Harus kuat ya....aku juga pernah merasakan kehilangan, namun semua sudah menjadi ketetapan... kamu harus ikhlas.."
Alena mengangguk lalu menghapus air matanya.
Rumi sendiri tidak menyangka kalau kedekatan mereka berujung perpisahan namun Rumi merasa lega karena hubungan kedua nya berada dalam kondisi yang baik.
bersambung....
__ADS_1
terima kasih yang sudah mampir,😍😍😍