terpikat pria tampan amnesia

terpikat pria tampan amnesia
nasi kuning.


__ADS_3

Seperti hari hari biasanya, Ali mengantar jemput zira ke sekolah. keduanya semakin dekat dan berita pertunangan keduanya sudah terdengar oleh tetangga terdekat.


sementara Rumi masih saja bersikap tak ramah, pakaian yang Ali belikan pun tak mampu membuat Rumi luluh.


"ibu enggak mau pakai"


ucap Rumi menyimpan kembali dress batik tersebut.


"jangan seperti itu, gamis nya bagus. kalau kamu tidak bisa berterima kasih setidaknya kamu bisa menghargai, bapak enggak ngerti kenapa ibu masih saja berkeras hati...


doa orang tua itu paling mustajab untuk anak anak nya, ibu tahu kenapa Abang nya zira memilih merantau ke negeri orang, itu karena ibu selalu banyak menuntut...!"


ucap Ahmad meninggalkan Rumi yang mematung sendiri.


mengingat anak sulung nya yang kini berada jauh di tanah orang bersama istri nya, pernah berkirim kabar, Yuda anak sulung nya itu kini sudah memiliki dua orang anak.


sudah hampir dua tahun Yuda tak pernah pulang ke tanah air karena sibuk dengan pekerjaan dan berat di ongkos.


"Bu Rumi. saya dengar zira akan bertunangan dengan pria amnesia itu? kok zira mau sih, kaya beli kucing dalam karung enggak jelas asal usulnya...!"


ucap salah satu tetangga membuat Rumi semakin geram.


"jangan urusi urusan orang kalau kehidupan sendiri belum benar, mau menikah dengan siapa itu urusan zira. toh kami tidak merugikan Anda. saya sebagai orang tua hanya mendoakan yang terbaik. jangan terlalu sering mengomentari urusan orang!"


ucap Rumi tersenyum getir, ia pun berpikir sama tapi mau bagaimana lagi. zira sudah mantap dengan pria asing itu.


Hampir enam bulan mengenal pria asing itu, ia memang menunjukkan kesungguhan nya pada zira, Rumi sendiri mengakui hal itu dalam diamnya.


hanya ia belum yakin jika pria itu masih belum mengingat siapa dirinya, walau bagaimanapun ia khawatir jika kelak zira kecewa.


Rumi memperhatikan beberapa Mobil mewah melewati jalanan depan rumah nya, selain pemilik peternakan tak ada yang memiliki mobil mewah seperti itu.


kenapa akhir akhir ini terlihat beberapa mobil mewah nampak di kawasan kampung, seperti tengah mengamati seseorang.


Rumi masuk ke dalam rumah dan melihat gamis cantik yang tergeletak di meja, Lusa nanti zira akan bertunangan dengan pria asing itu, pria itu juga memberikan uang belanja untuk keperluan acara tersebut.


sore......


Beno membonceng seorang wanita cantik dan melewati zira yang satu sepeda dengan pria itu.


zira tersenyum lega karena semenjak dekat dengan pria asing, Beno tak pernah lagi mengganggu nya. zira juga tak pernah pulang sendirian karena pria itu selalu menyempatkan waktu untuk mengantar jemput kekasih nya itu.


"enggak mau peluk?"


tanya Ali tersenyum menoleh ke belakang.


Kanan kiri sawah yang tengah menguning menghampar membuat sore itu tampak teduh.


"Abang bau ya de?"


ujar Ali membuat zira terkekeh lalu memeluk tubuh Penuh peluh itu.


"enggak, Meski berkeringat tapi Abang enggak bau. zira juga aneh seperti sebelumnya Abang suka ke salon!"


ucap zira.


hal itu memang benar sebelum nya pria itu memang rajin merawat tubuh nya hingga tubuhnya selalu wangi, terkadang ia membutuhkan waktu lama hanya untuk sekedar mandi.


Ali menghentikan laju sepeda nya di tengah jalanan dimana kanan kiri sawah menghampar.


"sawah ini menjadi saksi kita sehari hari, Abang bahagia bisa dekat dengan mu zira.."

__ADS_1


ucap Ali tersenyum menatap wajah cantik kekasih nya itu, keadaan yang dulu begitu ia dambakan bukan hanya sekedar melihat gadis itu dari jauh.


zira Hanya tersenyum mendekap erat tubuh penuh peluh itu.


"ayo kita lanjutkan, Abang khawatir ibu marah lagi!"


ucap Ali kembali mengayuh sepedanya, membawa zira kembali ke rumah dengan selamat.


"bang, mampir. kita makan dulu!"


ucap zira turun dari sepeda nya.


"lain kali saja, Abang harus bantu Reza masukin domba?!"


ucap Ali melihat ke arah rumah tampak sepi.


"ya sudah, hati hati ya bang!"


Ali mengangguk lalu pergi meninggalkan zira sendiri, saat itu juga risky melewati nya menggunakan motor seorang diri. terdengar selentingan kabar tentang pertengkaran yang justru kerap terjadi pada rumah tangga mereka, padahal keduanya menikah baru dua bulan tapi keadaan nya tak seromantis pengantin baru.


zira tersenyum kecil lalu berbalik masuk ke dalam rumah, ia tak pernah ingin tahu atau mengurusi urusan orang.


"Bu, zira sudah pulang!"


kata zira masuk ke dalam rumah, terlihat Rumi tengah membersihkan rumah.


"ya..!"


ucap Rumi singkat.


"Bu, Zira bantu ya!"


"tidak usah, kamu baru pulang. istirahat saja..


ucap Rumi tanpa menoleh.


"ya, Bu. terima kasih karena mau ngurusin zira....!"


Rumi Hanya mengangguk lalu melintasi zira dengan membawa sampah.


***


"gimana? apa kalian sudah bertindak...?"


tanya Niko pada orang suruhan nya itu.


"belum, tenang saja bos. kita culik saja dulu kita siksa setelah itu kita habisi..."


ucap pembunuh bayaran tersebut.


"oke, bawa saja ke kota...aku tak ingin ada cerita di kampung itu, dengan itu aku bisa berbicara dengan nya dulu"


ucap Niko tersenyum lebar, ia tak ingin ada lagi yang menyaingi nya.


esok....


pagi itu Ali mengantar zira menggunakan motor Reza, zira duduk menyamping memeluk pinggang Ali.


"sudah sarapan belum?"


tanya Ali menoleh.

__ADS_1


"sudah tadi ibu bikin nasi kuning, bungkus juga untuk Abang....dari ibu!"


ucap zira tersenyum, merasa bersyukur karena Rumi sedikit luluh dan mau menerima keputusan nya.


"Alhamdulillah....!"


ucap Ali menghentikan laju motor nya di depan sekolahan.


menatap bangunan tua itu, kelak setelah ia kembali ke kota ia yang akan merenovasi bangunan itu, miris kehidupan jauh dari pemerintah sedikit terabaikan namun beruntung karena ada guru cantik seperti zira.


"kenapa bang?"


tanya zira lalu menyodorkan bungkusan nasi kuning tersebut.


"enggak apa-apa..terima kasih ya de, pasti enak...!"


"ya, zira kasih sambel sedikit..!"


"oh gitu, kamu jangan kebanyakan makan sambel nanti sakit perut...!"


ucap Ali.


"enggak enak kalau enggak pakai sambel, enggak ada sensasi...!"


"oh gitu, mau nya yang ada sensasi nya, tunggu nanti ya..."


tanya Ali melihat zira gemas.


"apa......!"


tanya zira lalu keduanya terkekeh, setelah itu zira pamit pada Ali untuk masuk ke dalam bangunan itu.


Ali tersenyum menatap nasi kuning yang berada di hadapan nya, ia sudah berada di peternakan.


"wah, enak tuh!" ucap Reza menghampiri.


"ya ini dari ibu nya zira..."


"wah, udah baikan ternyata....!"


"ya, Alhamdulillah za aku enggak sia sia terus berdoa...!"


ucap Ali senyum simpul.


"ya aku juga senang dengar nya, semoga besok acara lancar...aku udah enggak sabar lihat kalian bahagia..."


"terima kasih za, kami sudah berjasa banyak membantu ku...!"ujar Ali.


"ya lah, zira kan keponakan ku. mana mungkin aku tidak membantu kalian...!"


ucap Reza.


"ayo makan bersama za..."


"enggak ah.... emang aku zira..."


ucap Reza membuat Ali terkekeh.


bersambung.....


terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


..😍😍😍


__ADS_2