
Hari hari berlalu, keduanya semakin mesra.
dimana ada zira di situ pasti ada Ali.
pagi ini Ali tengah memantau semua sapi dan kambing yang berada di kandang.
Ali berpikir untuk berternak ikan, manfaat kan lahan kosong yang tak jauh dari Padang rumput.
"gimana za kalau kita ternak ikan juga?"
saran Ali berbincang dengan Reza yang sedikit berpikir.
"boleh Al, itu ide yang bagus!"
jawab Reza menanggapi saran dari Ali.
Ali tersenyum memperhatikan zira yang berjalan menghampiri nya.
istri nya itu kini semakin cantik dan anggun dengan gamis cantik yang di kirim Alena beberapa hari yang lalu.
Alena sudah kembali ke Jakarta karena ia harus bertugas, tentu ia semakin dekat dengan Toni apa lagi mendapat izin dari Ali.
Alena begitu baik beberapa kali mengirim kan barang barang untuk kakak ipar nya itu.
"kopi nya bang!"
zira menyodorkan sebuah nampan berisi kopi dan beberapa cemilan.
"terima kasih....!"
Ali mengambil satu gelas lalu meminum nya sambil menatap istrinya.
"manis banget.....!"
ucap Ali senyum membuat zira tersipu.
"masa aku coba!"
Reza mengambil kopi tersebut lalu meminum nya.
"ah pait....!"
zira terkekeh kecil melihat ekspresi wajah Reza.
"emang belum di aduk, bang Ali di dengar!"
Zira duduk di samping Ali.
"mau kemana sih cantik banget!?"
tanya Ali merengkuh pundak zira.
setelah malam itu keduanya tak pernah melewatkan malam indah tanpa bercinta, dan saat ini zira sudah telat satu Minggu tentu Ali berharap kalau istri nya itu hamil.
"ke Rumah ibu yuk bang?"
ajak zira dan di anggukan oleh Ali yang langsung menuntun zira beranjak meninggalkan Reza yang tengah membersihkan kandang.
zira menghampiri motor besar yang dikirim oleh Toni untuk hadiah pernikahan mereka, tentu Ali sangat berterima kasih pada sahabat nya itu.
"ayo naik sayang?"
titah ali pada zira yang langsung naik ke atas motor besar itu.
semua warga kampung kini kagum pada zira yang memiliki suami seperti Ali.
__ADS_1
dulu zira yang tak memiliki apa apa bahkan banyak di hina kini Allah merubah hidup keluarga nya, Rumi bahkan kini semakin sibuk dengan Toko kelontong nya, toko nya seperti agen jadi warung kecil banyak yang berbelanja ke toko nya.
tentu saja ali dan zira ikut membantu Rumi dan Ahmad.
Ali juga membeli lahan untuk berladang namun bukan ia bercocok tanam, Ali memperkerjakan mereka yang tidak memiliki pekerjaan.
tak berapa lama mereka sampai di rumah Ahmad, toko terlihat ramai.
"assalamualaikum Bu?"
zira turun dari motor lalu menghampiri Rumi yang tengah melayani pembeli.
"walaikumsalam......!"
jawab Rumi tersenyum, Ali tersenyum mencium tangan Rumi.
"Alhamdulillah rame ya Bu?"
tutur Ali.
"Alhamdulillah, ibu kerepotan jadi mempekerjakan satu orang untuk bantu ibu!"
Rumi menunjuk ke salah seorang perempuan yang tengah membereskan barang-barang dagangan.
perempuan itu sepertinya seumur dengan Yuda.ia butuh pekerjaan dan Rumi butuh tenaga kerja.
"ya sudah enggak apa-apa Bu itu ide yang bagus kalau butuh bantuan ya kita cari tenaga bantuan..."
jawab Ali dan di anggukan oleh zira.
"laper Bu, kangen makan disini!"
ujar zira sambil nyengir, Rumi tersenyum lalu merangkul pundak putri nya itu untuk masuk ke rumah di ikuti oleh Ali.
"ayo makan, ajak Ali juga.
Zira awal nya senang namun saat mendengar tidak boleh makan sambal wajah nya langsung berubah masam.
"zira udah sembuh, ya kan bang?"
tanya zira pada Ali yang langsung menggeleng kan kepala nya.
"yah ... enggak enak Bu!"
"Emang sakit enak....jangan bandel harus nurut!"
titah Rumi lalu meninggalkan Ali dan zira karena beberapa pembeli kembali datang.
"sedikit boleh ya bang?"
Ali menggeleng kan kepalanya membuat zira langsung manyun sementara Ali terkekeh kecil gemas melihat Tingkah manja istri nya itu.
"sini duduknya dekat Abang!"
Ali menepuk pahanya.
"enggak ah malu ada ibu...!"
Zira tersenyum dengan wajah merona.
"enggak, ibu di toko!"
Ali tetap memaksa.
"enggak Abang.... jangan aneh-aneh ya ini di rumah ibu!"
__ADS_1
sahut zira menoleh ke arah Rumi yang terlihat tengah menghampiri mereka.
"ayo makan kok belum mulai...ini ibu bawa kerupuk nya!"
Rumi meletakkan kerupuk udang kesukaan zira.
"makasih Bu, sedikit ya Bu!"
zira kembali memelas.
"enggak boleh Solehah..."
zira langsung kalah jika mendengar kata itu, kata yang selalu menjadi senjata ampuh namun tidak saat zira meminta Ali, Rumi lupa dengan kata pamungkas itu.
Ali terkekeh lalu menyuapi zira makan meski sedikit Manyun.
setelah itu zira dan Ali membantu Rumi sampai sore lalu memutuskan untuk pulang.
"pulang ya Bu?"
Zira menghampiri Rumi lalu mencium tangan nya.
"ya hati hati ya sudah mendung?"
pesan Rumi pada keduanya yang langsung mengiyakan.
setelah itu kedua nya pulang tak menunggu Ahmad yang tengah pergi ke pasar mengantarkan sayuran.
Zira memeluk erat tubuh Ali yang selalu wangi, zira tertegun teringat malam dimana ia melihat beberapa bekas luka tembak yang membuat pria itu menghilang.
mengingat hal itu zira semakin mengeratkan pelukannya, seakan tak ingin lagi kehilangan. Ali tersenyum sesekali menggenggam tangan yang memeluk tubuh nya.
"hujan nih de, gimana?"
tanya Ali, tiba tiba hujan turun deras membuat pakaian mereka basah, Ali membelokkan motor nya di sebuah ruko kosong tak jauh dari peternakan, terlihat beberapa orang juga tengah berteduh.
"berteduh dulu ya!"
zira mengangguk membiarkan Ali mengelap wajah zira yang basah karena air hujan.
Tanpa sadar seseorang memperhatikan kemesraan mereka berdua, seperti itulah harus nya pengantin baru, bukan seperti dirinya yang justru sering bertengkar.
"ada yang jual wedang jahe, mau enggak de?"
tanya Ali membuat zira langsung menoleh dimana Risky tak jauh dari pedagang tersebut, risky tampak menatap air hujan dengan pandangan kosong menyilang kan tangan nya di dada.
Ali langsung merengkuh tubuh zira saat angin berhembus kencang.
"aku tidak suka kamu menatap pria selain aku?"
ucap Ali di telinga zira hingga membuat perempuan itu termangu.
"tiga ya pak, untuk kita berdua dan satu lagi untuk teman kami!"
Ali memesan wedang jahe untuk Risky Juga.
zira menurut untuk memalingkan wajahnya dari risky, suaminya itu ternyata cemburu.
Risky menoleh ke arah Ali yang tersenyum mengangkat mangkuk nya saat pedagang itu menyodorkan mangkuk kecil pada Risky.
zira tak berani menoleh karena Ali juga menghalangi pandangan nya.
mau tidak mau risky menerima makanan hangat itu, ingin menolak namun ia tidak enak menerima kebaikan keduanya.
mereka memang pasangan serasi, keduanya baik, Ali bahkan menyumbang dana untuk pembangunan sekolah SD di kampung itu.
__ADS_1
bersambung.....