terpikat pria tampan amnesia

terpikat pria tampan amnesia
percaya.


__ADS_3

Zira terus menghubungi nomor Ali namun tidak bisa, hingga zira memutuskan untuk membawa Kahiyang ke rumah sakit bersama Nadia dan Reza. karena sejak tadi panas nya tidak turun turun.


"apa Ali marah karena aku pergi makan siang sama bang Arjun dan Anita!?


enggak jelas banget sih cemburuan nya..."


gumam zira sambil memangku Kahiyang yang terpejam dengan suhu tubuh tinggi.


"cepat ya paman, zira khawatir banget sama Kahiyang....!"


titah zira pada Reza yang tengah fokus menyetir.


"ya kamu sabar ya Ra, tenang!"


ujar Nadia mengusap pundak zira.


seharusnya saat seperti ini Ali lah yang berada di sisi nya namun entah kenapa Ali tidak bisa di hubungi.


tak berapa lama kedua nya sampai di rumah sakit, gegas zira keluar dari mobil di ikuti oleh Nadia dan Reza.


"suster tolong anak saya demam...."


ujar zira langsung membawa Kahiyang ke ruang pemeriksaan.


zira terus berada di samping Kahiyang yang langsung menangis saat dokter memeriksa.


"anak ibu terkena demam berdarah, dan harus dirawat di rumah sakit....!"


ujar dokter.


"astaghfirullah.......!"


Zira mengusap kepala Kahiyang, pantas panas nya tidak turun turun, anak sekecil itu harus terkena demam berdarah sontak hal itu langsung membuat zira menangis.


"kamu harus kuat ya anak bunda....!"


zira terisak menatap wajah Kahiyang yang tampak pucat.


"kamu tenang Ra, telpon Ali sekarang...!"


zira mengangguk lalu kembali menghubungi Ali, namun tidak ada jawaban.


"kamu tuh kemana sih bang, Kahiyang tuh sakit.....!"


zira mengirim pesan suara sambil terisak.


"kamu tenang Ra......"


ucap Nadia di samping zira yang memperhatikan dokter memasang infus.


"ya Allah kasihan sekali kamu nak.... maaf kan bunda!"


zira merasa menyesal dengan semua kesibukan nya hingga membuat Kahiyang sakit, seharusnya zira yang memantau perkembangan nya.


"maaf kan bunda ya Kahiyang....!"


Zira menyeka air matanya.


tak lama Alena masuk ke ruang pemeriksaan saat mendengar Kahiyang Masuk rumah sakit.


"kenapa Ra?"


tanya Alena.

__ADS_1


"dokter bilang kena demam berdarah....."


jawab zira terisak.


"bang Ali mana?"


Alena tidak melihat Abang nya di ruangan itu.


"aku enggak tahu, susah di hubungi...."


Jawab zira.


"sebentar Alena hubungi bang Ali....!"


ujar Alena keluar dari ruangan.namun tidak bisa, Alena mengalihkan telpon nya pada Toni namun Toni mengatakan ia tengah di luar, Alena lalu menghubungi Nindy namun tidak di angkat.


"Kamu sabar dulu ya Ra, mungkin bang Ali sedang meeting....!"


ucap Alena mengusap punggung zira dengan tatapan iba Melihat keadaan Kahiyang.


malam......


Ali membuka matanya perlahan, rasa pusing masing ia rasakan,Ali melebarkan matanya saat melihat jam yang menunjukkan pukul sembilan malam.


"astaga.... apa yang terjadi?"


tanya Ali sendiri mengingat terakhir kali ia terjaga, gegas Ali beranjak dari duduknya meski sedikit sempoyongan.


ruangan juga gelap karena semua karyawan juga sudah pulang, Ali mengecek ponselnya.. terlihat beberapa panggilan dari zira, Alena juga Reza.


Ali melebarkan matanya saat mendengar pesan suara dari zira, gegas Ali keluar dari ruangan karena sudah beberapa jam ia tertidur.


dengan cepat Ali melajukan mobilnya menuju rumah sakit dimana Kahiyang di rawat.


"Al kamu dari mana sih?"


tanya reza memperhatikan Ali yang sedikit berantakan.


"aku ada urusan tadi, handphone ku tertinggal di kantor....!"


Reza menghela nafas lalu menggeleng kan kepalanya.


"ayo cepat temui zira di kamar Kahiyang...."


Ali mengangguk lalu pergi meninggalkan kedua nya yang hendak pulang.


Ali membuka pintu perlahan, terlihat zira duduk menelungkup di tepi ranjang sambil menggenggam tangan Kahiyang.


"sayang......"


Ali mengusap kepala zira hingga membuat zira mendongak.


"maafin Abang ya.....!"


zira membisu menatap wajah Ali yang tampak seperti baru terbangun dari tidur.


"kamu dari mana sih bang, Kamu boleh marah tapi enggak seperti ini caranya, Kahiyang itu sakit........!"


ujar zira lalu terisak.


Ali menghela nafas lalu memeluk zira yang langsung membeku mencium wangi parfum lain di pakaian suaminya.


"kamu dari mana bang?"

__ADS_1


masih pertanyaan yang sama, zira menatap Ali dengan Alis bertaut.


"dari kantor?"


jawab Ali singkat sedikit heran dengan sikap zira.


"Kamu bohong ya sama aku bang!?"


tanya zira lagi.


"bohong apa sih de, demi tuhan.... untuk apa Abang bohong?"


jawab Ali menggeleng kan kepala nya saat melihat zira menitikan air mata nya.


"terus wangi farpum siapa yang ada di kemeja kamu bang?"


Ali mencium wangi tubuhnya yang memang sedikit berbeda dengan wangi biasa nya.


zira menatap wajah Ali dengan intens berharap kalau perkiraan nya salah, Ali tidak mungkin berbuat curang dibelakang nya.


"aku juga enggak tahu, tadi siang kepala aku pusing banget zira, aku ketiduran dan pas bangun udah malam..."


ujar Ali membuat zira semakin tak mengerti.


"lantas bau siapa yang ada di tubuh kamu bang....apa sih yang kamu lakukan di belakang aku?"


"enggak ada demi tuhan aku enggak berbuat apa apa yang, untuk apa aku bohong!"


Ali terus melakukan pembelaan.


"maaf kan Abang de, sumpah Abang enggak berbuat macam-macam di belakang kamu!"


sambung Ali mendekati zira yang mematung.


Zira beranjak lalu duduk di kursi menghadap Kahiyang.


"Abang minta maaf kamu jangan marah sama Abang, demi tuhan de Abang enggak bohong!"


ujar Ali berjongkok di samping Zira.


Zira menoleh ke arah Ali yang mengiba, zira juga tidak akan percaya kalau Ali berbuat curang pada nya tapi kenapa ada bau wanita lain di pakaian nya, apa Ali baru saja memeluk perempuan lain, tapi mana mungkin seperti itu sementara ali bilang ia baru saja bangun tidur.


"Kamu enggak percaya sama Abang?"


tanya ali masih berjongkok.


"Abang tahu Abang salah dan sudah lalai karena membiarkan kamu mengurus Kahiyang sendiri tapi demi tuhan Abang enggak sengaja..... Abang minta maaf!"


tutur Ali meraih tangan Zira lalu mengajak nya untuk duduk di sofa.


"kamu mau kan maafin Abang de?"


zira mengangguk lalu membuka kemeja yang Ali pakai seakan tak ingin lagi mencium bau tersebut.


Ali senyum memperhatikan tangan zira yang membuka satu persatu kancing baju nya hingga terbuka dan menanggal kan kaos putih yang membalut tubuh atletis nya.


Zira tertegun sambil menatap wajah tampan suami nya, rasa takut kehilangan menghampiri. zira takut diam diam Sri merencanakan hal untuk memisahkan mereka berdua, mungkin terkesan suudzon tapi zira tidak bisa mempercayai seseorang yang masih bersikap ketus pada nya.


Zira meraba tubuh suaminya lalu memeluk nya erat, sebelumnya ia tidak pernah merasakan kerisauan seperti ini.


"maafkan Abang ya de.....kamu percaya kan sama Abang?"


Zira mengangguk lalu kembali memeluk Ali.

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2