
Ali mengikuti suster mendorong brankar rumah sakit dimana kekasih nya itu terbaring tak sadar kan diri.
Ali dan Nadia berusaha untuk menyadarkan zira namun naas zira tetap dalam keadaan pingsan. tanpa pikir panjang Ali langsung membawa zira ke rumah sakit, tentu banyak yang mempertanyakan kejadian itu dan sampai di telinga Wisnu.
Zaki tak percaya jika istrinya mendatangi langsung zira, dan setelah kejadian itu dia takut dan menyesal karena mungkin saja setelah ini Zaki akan di pecat.
"tunggu di luar kami Akan memeriksa pasien"
titah suster saat mereka tiba di ruang pemeriksaan.
"saya ikut suster?!"
pinta Ali masih dengan wajah cemas nya.
"tidak bisa pak, mohon tunggu sebentar!"
suster langsung menutup pintu tersebut, tinggal lah mereka bertiga yang mematung menatap pintu tertutup.
"Lo yakin itu zira Lo, Al?"
tanya Toni masih tak percaya.
"maksud Lo apa? Lo kira gue rabun enggak bisa mengenali calon istri gue!"
jawab Ali dengan nafas tersengal, ia benar benar khawatir dengan kekasihnya itu.
kondisi nya benar lemah...
Toni hanya diam mendengar jawaban itu, ia tidak percaya bahwa perempuan yang ia sukai adalah kekasih Ali di kampung.
"kalau dari kemarin dia enggak pakai masker mungkin gue udah mengenal nya, gue juga enggak perlu jauh-jauh ke kampung?"
Ali memangku wajah nya sendiri, entah apa yang dilakukan perempuan tadi pada kekasih nya itu.
"katakan apa yang selama ini terjadi dengan zira, siapa wanita tadi?"
tanya Ali pada nadia yang membeku menatap wajah Ali tampak kesal.
"cerita kan sekarang....aku mau dengar!"
perintah Ali pada Nadia yang masih sok dengan kejadian ini.
"m....zira memang sakit, beberapa hari ini dia demam pak....!"
ucap Nadia terhenti saat melihat pintu terbuka, gegas Ali beranjak dan menghampiri dokter.
"bagaimana dokter!?"
tanya Ali langsung....
"nona zira mengalami usus buntu dan harus melakukan operasi....!"
Ali langsung tercengang mendengar hal itu.
"lalu apa zira sudah bangun!"
tanya Ali semakin cemas.
"sudah sadar, salah satu boleh masuk dan segera urus administrasi untuk tindakan operasi!"
"Ton, Lo urus sekarang!"
perintah Ali lalu masuk ke dalam ruangan dimana zira berada.
"sayang.......!"
panggil Ali menghampiri zira yang langsung membeku karena Ali langsung menciumi wajah nya.
__ADS_1
zira menghentikan Ali yang hendak mengecup bibir nya, kedua pandangan mereka bertemu.
zira dan Ali sama sama tertegun seperkian detik.
"i Miss you....!"
sampai kata itu lolos dari bibir Ali.
namun zira malah memalingkan wajahnya.
"Jangan seperti ini! maafkan Abang!"
Ali menyatukan keningnya dengan kening zira, jantung nya seakan terhenti menatap wajah Ali berada di dekat nya, hingga air mata lolos dari pelupuk mata nya.
"kita enggak bisa seperti dulu lagi bang?"
zira memalingkan wajahnya dari Ali namun cepat Ali memangku wajah kekasihnya itu.
"siapa yang bilang seperti itu, kita akan tetap menikah seperti niat kita sebelum nya...aku sudah janji akan membahagiakan mu....!"
zira tertegun mendengar penuturan Ali, membiarkan Ali mendekap erat tubuh nya.
ia pun merindukan sosok Ali yang hangat dan wangi, seakan tak menggubris permintaan Wisnu karena ia pun mencintai Ali.
Toni dan Nadia tertegun karena pemandangan itu jelas terlihat, pintu terbuka lebar.
Toni memalingkan wajahnya, apa yang di maksud zira sudah bertunangan itu adalah ia bertunangan dengan Ali.
"mana yang sakit hm?"
tanya Ali menatap zira penuh kasih.
"kata dokter kamu harus operasi?"
zira tertegun mendengar penuturan Ali.
"operasi.....?"
"ya kamu kena usus buntu dan harus operasi..."
Ali memperhatikan zira yang langsung membeku.
"jangan Takut zira, aku akan selalu ada di samping kamu!"
zira tak menjawab ia terus menatap wajah kekasih nya itu.
pria itu kini lebih tampan dengan rambut yang tertata rapih, dan pakaian mahal yang Ali pakai.
hal itu semakin menyadarkan zira bahwa mereka jauh berbeda namun ia tidak berdaya saat cinta mengharapkan kebersamaan.
"ternyata kamu itu orang kaya, aku enggak pantas untuk kamu..... kita begitu jauh berbeda!"
zira menguatkan hati nya, ia harus sadar sesadar sadar nya seperti apa keadaan mereka berdua.
"cinta itu tidak melihat perbedaan, aku mencintaimu jauh lebih dulu sebelum kejadian itu terjadi.....aku memang sengaja datang untuk mencari kamu de!"
ucap Ali menggenggam tangan zira.
"tapi aku enggak bisa seperti dulu lagi, kamu harus sadar bang bahwa kita itu beda dan enggak akan bisa bersama .....aku bahkan enggak tahu kemana kamu selama ini!"
zira mengingat waktu sembilan bulan yang ia lewati terombang ambing dalam kebimbangan seorang diri.
"permisi....!"
seorang suster masuk ke dalam menghampiri zira dan Ali.
"pasien akan di operasi dua jam yang akan datang, sebelum operasi pasien akan di pindahkan ke ruang rawat terlebih dahulu..."
__ADS_1
ujar suster lalu menarik brankar untuk berpindah ruangan.
sesuai instruksi zira di pindahkan ke ruang VVIP, Ali mengangkat tubuh zira saat mereka sampai di ruang perawatan. Toni dan Nadia mengikuti dari belakang.
jantung zira berdegup kencang menatap Ali yang begitu baik dan lembut pada nya, "bagaimana Bisa aku melupakan mu jika seperti ini...aku hampir tak bisa bernafas karena jauh dari kamu"
gumam zira dalam hati.
"terimakasih bang, aku......!"
Ali datang di waktu yang tepat, dimana ia membutuhkan pertolongan.
"zira aku sangat merindukan kamu!"
Ali mendekat kan tubuh nya lalu mencium kening zira yang memejamkan matanya.
"saat aku hampir mati, hanya nama kamu yang selalu aku sebut... aku berjuang untuk tetap bernafas karena aku begitu mencintaimu zira, aku beristirahat begitu lama... tapi aku tidak pernah beristirahat untuk mencintai kamu..."
Zira langsung memeluk tubuh Ali, tersentuh mendengar penuturan pria itu.
"hati ku sudah terpikat sebab itu aku juga mencintaimu..."gumam zira terisak dalam dekapan hangat dada bidang milik pria itu.
"tapi aku tidak yakin keluarga mu bisa menerima aku yang tidak sama seperti kamu bang?!"
ujar zira, ia masih ragu dengan keinginan nya untuk memperjuangkan cinta nya.
Nadia merogoh ponsel zira yang berdering terlihat Reza melakukan panggilan telepon.
gegas ia menghampiri zira yang tengah bersama Ali.
"Ra...maaf...!"
zira dan Ali langsung menoleh.
"Reza telepon!"
Nadia menyodorkan ponsel milik zira.
gegas zira menggeser tombol hijau pada layar tersebut.
Nadia sendiri kembali keluar mendudukan tubuh nya di ruang tunggu bersama Toni yang sejak tadi sibuk dengan handphone nya.
*
"halo assalamu'alaikum Paman..."
kata zira.
"walaikumsalam...zira paman sudah berada di kosan kamu"
satu jam yang lalu Reza sampai di Jakarta, ia menunggu zira namun keponakan nya tak kunjung pulang.
"Zira di rumah sakit Paman..."
"kamu sakit Ra?"
"ya, paman kesini ya. nanti zira kirim alamat rumah sakit nya!"
"ya sudah, cepat Paman akan datang!"
perintah Reza lalu beranjak dari duduknya.
"Abang ke peternakan cari kamu de..."
Ali mengamati wajah zira yang tampak biasa saja.
"pasti paman udah kasih tahu kamu ya?"
__ADS_1
zira membisu memperhatikan Ali yang juga tengah menatapnya, mengingat kejadian tadi di kantor, zira yakin setelah ini semua tidak akan baik baik saja.
bersambung.