
Zira tidak percaya Dengan apa yang terjadi, bahkan zira melarang suster menutup semua bagian tubuh Kahiyang dengan selimut karena semua alat yang terpasang sudah di lepas Kan.
"enggak, jangan Kahiyang masih hidup..... kenapa kalian membuka infus nya...."
ucap Zira lalu tergugu memangku wajah Kahiyang yang sudah pucat dan tak bernyawa.
"bangun nak, jangan tinggalkan bunda...."
Ali menghampiri zira lalu memeluk nya.
"ikhlas kan sayang, kasihan Kahiyang....."
ujar Ali, ia juga hancur mendapati kenyataan bahwa Putri nya itu sudah tiada.
"enggak, jangan pergi Kahiyang.... maaf kan Bunda....."
Rumi dan indah berusaha untuk menenangkan zira yang terus meraung tak kuasa menerima kenyataan bahwa Kahiyang bidadari nya sudah pergi, ali juga menangis.
Alena langsung menitikkan air matanya saat tiba di ruangan melihat Zira langsung tak sadarkan diri.
"Zira......"
Ali langsung mengangkat tubuh zira yang tergeletak lemah.
"Al kamu harus kuat, dan menguatkan zira karena ini sudah jadi takdir, biarkan kami yang urus Kahiyang."
Ali mengangguk pasrah karena ia juga tidak bisa berbuat apa-apa jika menyangkut takdir Allah.
**
Wisnu langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit saat Alena memberikan kabar duka tersebut, Arjun dan Anita yang baru saja sampai juga terkejut dengan berita duka itu.
beberapa waktu berlalu...
"Zira........"
Ahmad menatap wajah cantik Putri nya, Ali meminta Ahmad menemani zira karena ia harus membawa Kahiyang pulang dari rumah sakit sementara zira belum sadarkan diri.
"mana Kahiyang pak.....!?"
Ahmad memeluk zira yang langsung menangis.
"ikhlas nak.... bukankah kamu sayang sama Kahiyang, Allah lebih menyayangi nya...."
"kenapa harus secepat itu pak.....Zira belum siap kehilangan pak, zira menyesal karena meninggalkan Kahiyang bekerja..... demi tuhan zira menyesal......!"
__ADS_1
Zira memeluk Ahmad dengan erat sambil menangis.
"jangan salah kan siapa pun karena semua sudah Allah tetap kan, apa yang terjadi dengan kehidupan kita sudah Allah tuliskan di lauful Mahfuz.... jodoh, rezeki, dan kematian...tak ada satu pun hamba Nya yang bisa lari atau bersembunyi dari kematian sekali pun ia seorang raja atau ratu....apa lagi kita, kamu itu anak bapak yang kuat, jangan seperti ini... ikhlaskan nak...!
tegar, Allah sedang menguji kamu dan Ali..."
Zira mengangguk sambil memeluk tubuh Ahmad, sosok yang selalu memberikan nya semangat dan kekuatan di saat dirinya hampir runtuh.
"ayo kita pulang....kita harus mengurus pemakaman untuk Kahiyang.... bapak minta Ali untuk ikut mengurusi karena dia ayahnya"
Zira mengangguk lalu beranjak mengikuti Ahmad Yang menopang tubuh nya.
semua sudah pulang, tinggal zira dan Ahmad Yang ada di rumah sakit karena zira pingsan cukup lama.
pandangan matanya kosong menatap lurus ke depan, perih dan sakit karena harus kehilangan sosok yang begitu ia sayangi.
"Kahiyang....
bunda merasa seperti musim penghujan tiba saat kamu pergi meninggalkan bunda, namun hujan air mata.... kenapa kamu pergi secepat ini nak, begitu deras nya air mata yang membasahi wajah ini....bunda belum siap menghadapi kenyataan ini, bagaimana cara bunda mengikhlaskan kepergian mu, semua begitu berat, bagaimana saat bunda merindukan mu....?"
Tutur zira sendiri dalam hati, tak lama ia sampai di rumah.
bendera kuning yang berkibar pertanda duka menyelimuti rumah itu, Ahmad terus merangkul pundak zira memasuki rumah semua kerabat sudah tiba, Kahiyang juga sudah di mandikan dan sedang di kafani.
Sri hanya diam termangu, ia juga berduka kenapa harus Kahiyang, cucunya yang pergi lebih dulu sementara dirinya lah yang sakit.
Ali memeluk zira yang menangis tanpa suara memeluk Ali, tidak ada kata yang mewakili betapa perihnya merelakan.
"Abang juga terluka tapi kita harus ikhlas..."
zira tak menjawab, ia duduk di hadapan Kahiyang yang tengah di bungkus kain kafan.
hanya air mata yang tahu sedalam apa duka hati nya.
zira benar benar tidak bicara, ia hanya terus menangis mengingat betapa lucunya putrinya itu.
"duniaku seperti hampir mau runtuh, aku seperti di berada di gurun pasir yang luas namun kehilangan arah, aku kelimpungan mencari keberadaan mu nak"
Zira tergugu saat Kahiyang sudah selesai di kafani dan siap untuk di sholat kan.
"biar Dady yang menjadi imam nya...."
ujar Wijaya ia pun menitikkan air mata nya, beberapa waktu yang lalu Wijaya sempat bermain dengan Kahiyang sebelum mereka pergi ke Berlin.
Sri memalingkan wajahnya saat indah berusaha untuk menenangkan zira yang tak berhenti menangis bahkan wajah nya terlihat sembab, matanya juga bengkak.
__ADS_1
"sabar ya zira, mama tahu kamu hancur tapi semua sudah menjadi ketentuan Tuhan...kamu ikhlas ya!"
"tapi kenapa harus secepat ini ma...zira belum siap kehilangan...!"
"tidak akan ada yang siap kehilangan, tapi kita harus sadar bahwa Tuhan lah yang memiliki kita dan segala nya....kamu harus sabar dan ikhlas...!"
Tutur Indah memeluk zira.
Sri hanya diam lalu memalingkan wajahnya melihat kedekatan mereka berdua, seperti nya mereka memang sudah akrab, hati nya semakin sakit saat melihat sikap Wijaya yang begitu manis pada indah.
Rumi menghampiri lalu memeluk putrinya, mata nya juga bengkak karena Rumi juga terus menangis, dari bayi merah Rumi yang mengurusi Kahiyang hingga dua bulan ia tinggal bersama zira karena tak ingin melewatkan kesempatan untuk mengurus Kahiyang, namun karena tuntutan hidup rumi harus pulang karena harus mengurus toko juga suaminya.
Rumi mempercayai Nadia mengurusi Kahiyang, namun Allah berkehendak lain.
Nadia juga terus menangis karena empat bulan ini ia yang mengurus Kahiyang jika zira pergi bekerja, ia merasa sudah berusaha semaksimal mungkin merawat Kahiyang namun takdir tak bisa di pungkiri semua terjadi begitu saja Tanpa di duga.
"maaf kan aku ya Ra...aku tidak bisa menjaga Kahiyang dengan baik....!"
Nadia memeluk zira.
"kamu enggak salah...aku ibunya yang harus nya merawat dan mengurus...!"
"Kamu sabar ya..... Aku minta maaf kalau gara gara aku kamu sibuk....! dan menyita waktu kamu dengan Kahiyang"
ujar Anita mengusap punggung zira.
"kamu enggak salah sebenarnya aku bisa nolak tapi karena sebuah ambisi aku melewatkan kesempatan itu, aku pikir semua usaha ku akan berbuah manis Tapi ternyata tidak, apa yang aku harapkan untuk bisa menerima ku namun kenyataannya sama saja,dan semua Rasa nya percuma..."
ujar zira, Anita paham maksud zira, Anita sendiri tahu kalau sri belum bisa menerima nya menjadi istri Ali.
Arjuna dan Toni duduk berdampingan setelah menyolatkan Kahiyang.
"Sabar ya Al... gue harap tuhan segera kasih karunia-Nya untuk kalian...."
Ali mengangguk lalu mengais Kahiyang untuk segera di bawa ke pemakaman.
ia harus sabar, ikhlas, tabah menghadapi ujian ini.
keduanya duduk kursi belakang kemudi, Kahiyang berada dalam pangkuan nya.
"dia akan menjadi bidadari surga yang akan menjemput Kita nanti di alam yang abadi...."
ujar Ali mencium kepala zira yang kemudian terisak.
"ikhlas ya sayang......!"
__ADS_1
zira mengangguk sambil tergugu.
bersambung.