terpikat pria tampan amnesia

terpikat pria tampan amnesia
pembantu.


__ADS_3

Zira menghentikan langkahnya saat masuk ke kamar yang besar nya dua kali lipat kamar di peternakan.


"ayo masuk!"


ajak Ali menyeret koper mereka berdua.


"maafkan mommy ya de, Abang yakin lambat laun mommy pasti bisa menerima kamu?"


ujar Ali, ekpresi wajah wanita itu tak terbaca.


"aku tidak yakin mommy mu mau menerima ku, sedang keadaan ini kembali membuat Ku bimbang....!"


gumam Zira menatap wajah Ali yang juga menatap nya.


"kamu marah ya de sama Abang?"


tanya Ali melihat zira yang sejak tadi membisu, zira bahkan menolak saat Ali mengajak nya untuk makan.


"enggak......!"


jawab zira singkat menoleh ke arah kaca besar.


"ya udah kita mandi dulu ya, nanti Abang bawa makanan untuk kita ke kamar.."


ajak Ali masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


keduanya menunaikan shalat Maghrib berjamaah, Zira menatap punggung kokoh yang tengah menjadi imam nya.


Ali memang bukan orang biasa, dia seorang CEO dari perusahaan besar yang tak sembarang orang bekerja di perusahaan tersebut.


orang tua nya memiliki kekayaan yang berlimpah serta memiliki cabang perusahaan di luar kota juga negeri.


sedangkan dirinya, siapa dirinya?


"apa salah aku terpikat padamu bang?"


tanya zira dalam benaknya.


betapa hina nya aku masih saja merisaukan tentang urusan dunia dalam keadaan menghadap Robb ku.


"assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh..."


Ali mengucap salam lalu menoleh ke arah istri nya yang seketika lebih banyak diam.


"sayang?"


Ali memangku wajah zira yang tampak sendu.


"dengarkan Abang, jangan memikirkan perbedaan di antara kita, karena sesungguhnya yang membedakan adalah tingkat keimanan dan ketakwaan kita di hadapan Allah."


zira tersenyum mendengar penuturan Ali yang memang benar tapi tetap saja tidak bagi mereka yang sang penguasa.


"kamu enggak minder kan?"


tanya Ali.


"wajar kalau aku minder, kamu dan aku...."


zira menjerat ucapan nya saat ali menyentuh bibir nya dengan telunjuk. "bukan aku tidak bersyukur dengan apa yang Tuhan berikan untuk ku tapi aku merasa tidak tahu diri karena terpikat sama kamu...!


aku benar benar bingung menghadapi mommy mu"

__ADS_1


jawab zira mengingat tatapan kebencian Sri terhadap nya.


"jangan bicara seperti itu, Abang cinta sama kamu dan yang mau kamu ada di sini.."


jawab Ali merengkuh tubuh zira.


"kalau besok Abang kerja, terus aku ngapain dia sini....!"


tanya zira, tidak mungkin ia ongkang kaki seperti di peternakan.


"ya istirahat aja, kamu kan lagi hamil de!"


"kalau aku ngajar gimana?"


"zira? apa sih yang kamu khawatir kan...? kamu takut sama mommy? belum apa apa kamu udah suudzon...."


ucap Ali membuat zira langsung mendongak.


zira terdiam tak ingin memperpanjang perdebatan mereka, zira memilih beranjak dari duduknya naik ke atas ranjang empuk itu.


pagi....


pagi itu ke-tiga nya melaksanakan shalat subuh Berjamaah, Alena senang karena ia tidak lagi melaksanakan shalat subuh sendiri.


"Abang lihat mommy dulu, kamu mau ikut?"


tanya Ali pada zira yang langsung mengangguk.


ketiga nya beranjak menuju kamar Sri, Ali menuntun tangan zira masuk ke kamar besar itu.


"maafkan Abang ya de, semoga di rumah ini kamu bisa mengambil hati mommy, Abang tahu istri Abang ini tulus, jadi bukan hal yang sulit kan untuk kamu bersikap baik pada mommy, apa lagi sekarang dia lagi sakit...."


ujar Ali semalam memeluk istrinya dari belakang.


Ali tersenyum dan duduk di tepi ranjang, Sri sendiri sudah bangun.


ia tengah duduk bersandar di ranjang.


"gimana keadaan mom?"


"walaikumsalam......alhamdulilah udah mendingan, tapi mommy belum bisa ke kantor Al.... kamu mau kan balik ngurusin perusahaan lagi"


"ya, mom. biar Ali yang urus perusahaan.


nanti ada zira yang temani mommy di Rumah!"


ucap Ali merengkuh pinggang Zira untuk mendekati.


Sri hanya diam menanggapi senyum dari zira.


sesuai permintaan Ali, zira berusaha bersikap baik pada Sri meski Sri selalu bersikap acuh padanya.


setelah itu kedua nya kembali ke kamar, Zira membuka lemari dan menyiapkan pakaian untuk Ali ke kantor.


"makan siang di rumah atau mau bawa bekal bang?"


tanya zira, terlihat Ali tengah memainkan ponselnya.


"Abang makan siang di luar aja, tadi pengacara keluarga Abang telpon, Abang di minta ke kantor polisi untuk memberi keterangan lanjut perihal kasus penganiyaan yang dilakukan oleh Niko..."


"belum selesai kasus nya?"

__ADS_1


tanya zira membantu Ali mengancingkan kemeja yang Ali pakai.


"Udah tinggal nunggu sidang putusan aja.... Abang diminta hadir nanti!"


zira mengangguk, lalu menatap wajah tampan Ali yang terlihat gagah dengan kemeja dan jas Hitam nya.


"kamu baik-baik ya di rumah, jangan melakukan pekerjaan apapun karena di rumah ini ada banyak pembantu!"


ucap Ali lalu menciumi wajah istri nya kemudian berjongkok beralih mencium perut zira yang masih rata.


"hai utun ayah kerja dulu, enggak boleh rewel ya kasihan bunda nya ya!"


zira tersenyum melihat Ali berbicara dengan calon bayi mereka.


Ali mengusap kepala zira lalu merengkuh nya.


entah kenapa dirumah itu zira tak merasa mual seperti di kampung, semalam juga zira makan dengan normal meski sedikit karena zira tidak suka dengan makanan yang tersaji di rumah yang hampir seperti makanan restoran.


"kita sarapan dulu yuk!"


ajak Ali menuntun tangan zira.


Ali dan Alena mengenal kan zira pada semua pembantu di rumah, Sri sendiri meminta untuk sarapan dikamar karena ia masih lemas, ada yang berdesus tidak suka, ada yang biasa saja dan ada yang mengagumi kecantikan istri Ali itu.


"Rahel, saya perintahkan kamu untuk khusus melayani istri saya."


perintah Ali dan di anggukan oleh Rahel yang langsung tersenyum pada zira.


"sayang nanti kalau kamu ada perlu apa apa bilang sama Rahel ya!"


"ya non nanti bilang aja kalo butuh sesuatu!"


sahut Rahel sembari senyum.


Setelah itu mereka bertiga sarapan bersama.


"kamu enggak mual sayang?"


tanya Ali yang duduk di hadapan zira.


"enggak...utun enggak boleh manja ya!"


ucap zira mengusap perut nya.


"mual muntah sering terjadi pada masa trimester satu tapi nanti juga akan berkurang pas udah trimester kedua..."


ucap Alena menjelaskan.


Zira mengangguk paham karena bidan juga berbicara seperti itu.


setelah selesai sarapan Ali pamit untuk pergi ke kantor, dan Alena pergi ke rumah sakit.


tinggal lah zira dengan Sri dan pembantu di rumah.


Zira masuk ke dalam rumah setelah mobil Ali keluar dari gerbang rumah besar itu, langkah nya terhenti saat melihat Sri ke luar dari lift dengan tatapan tajam mengarah ke arah Zira berdiri.


Sri melangkah bersama ketua pembantu di rumah itu, membawa pakaian yang di sodorkan pada Zira yang tertegun.


"jangan bermimpi untuk menjadi nyonya di rumah ini, karena keberadaan kamu tak jauh beda dari pembantu!"


ujar Sri membuat zira melebarkan matanya.

__ADS_1


bersambung..........


__ADS_2