
zira termenung sendiri mengingat ucapan Rumi yang meminta nya untuk menerima lamaran risky, meski belum di sampaikan secara langsung namun risky sudah mengungkapkan keinginannya itu pada Ahmad ataupun Rumi Hanya tinggal menunggu jawaban dari zira saja.
"cepat menikah supaya si Beno enggak gangguin kamu terus, risky nunggu jawaban kamu!"
ucap Rumi saat mereka berdua.
"tapi zira enggak ada rasa sama bang risky Bu...!"
"kamu suka sama pria asing itu?"
tanya Rumi.
Zira mengangguk tanpa menatap ke arah Rumi yang tertegun.
"apa kamu enggak salah? dia memang tampan tapi kan enggak jelas asal-usulnya..."
ucap Rumi lagi duduk di samping zira.
"zira tahu Bu, tapi zira enggak bisa mengingkari perasaan sendiri... biarkan waktu yang menerangkan siapa dia?"
"tapi sampai kapan?"
"entah lah, kalau pun ia tidak bisa mengingat semua nya. zira mau menerima dia apa adanya Bu!"
ucap zira membuat Rumi kembali tertegun.
**
cinta tidak pernah memilih pada siapa ia singgah, cinta datang dan hadir dengan sendirinya tanpa di minta.
semoga cinta yang hadir dapat berlabuh pada pernikahan...
zira menoleh ke arah pria asing yang tengah membantu Ahmad membersihkan saluran air yang berada di depan rumah, pria itu tak sedikitpun merasa jijik. ia membantu Ahmad hingga saluran air kembali lancar, mengangkat sampah yang menghambat saluran air tersebut.
"pak, bang...ayo ngopi dulu.."
ucap zira membawa dua gelas kopi hitam dan singkong goreng yang masih panas.
gegas keduanya mencuci tangan sebelum menghampiri zira di kursi memanjang.
"terima kasih...."
ucap pria asing itu mengambil kopi dan satu buah singkong goreng kemudian duduk di samping Zira, Ahmad sendiri mengambil kopi lalu berjalan ke arah saluran air tersebut.
"enak enggak bang?"
tanya zira memperhatikan pria itu mengunyah singkong goreng yang ia masak sendiri. lalu mengelap keringat yang mengucur pada tangan kekar milik pria asing itu.
"gurih.....!"
ucap pria asing itu tersenyum melihat zira mengelap keringat nya, kalau tak ada Ahmad ingin sekali mencium pipi tembem milik zira.
"kita nikah yuk de.... Abang enggak kuat kalau begini terus!"
ucap pria itu tersenyum membuat zira terpaku.
__ADS_1
"kita nabung dulu ya bang, m... tiga bulan bagaimana?"
"kamu serius mau nikah sama Abang?"
Zira mengangguk tersenyum.tentu hal itu menjadi hal yang membahagiakan untuk pria asing itu, ia memang tidak tahu siapa dirinya tapi cinta hadir begitu saja di saat ia kehilangan jati diri nya, namun hal itu justru membuat nya semangat menjalani kehidupan meski tanpa identitas diri nya.
"ya sudah, nanti Abang akan cari kerjaan. supaya bisa nabung dan nikah sama kamu!"
ucap pria asing itu dengan antusias.
*
*
Sore itu sepulang dari ladang pria asing itu menjemput zira di sekolah nya, Ahmad sendiri tak mempersoalkan kedekatan putri nya dengan pria asing itu, dia mau membantu Ahmad di ladang dan yang lainnya, tentu saja Ahmad juga memberikan upah meski pria asing itu menolak namun Ahmad tahu kalau pria asing itu memiliki niat untuk meminang Putri nya, pria asing itu juga tak segan jadi kuli panggul di ladang. Ahmad Melihat pria itu memiliki kemauan, ia juga rajin dan pekerja keras.
"harta dari orang tua itu bukan hasil jerih payah sendiri, bapak juga paham kalau ibu ingin yang terbaik untuk anak kita, tapi mau bagaimana lagi, zira terlihat bahagia dengan pria itu, dia juga menunjukkan kesungguhan nya dengan bekerja apa saja untuk melaksanakan niatnya. ayah lihat zira selalu murung jika kita membicarakan risky tapi berbeda saat bersama pria itu, wajah nya berbinar..."
ucap Ahmad pada Rumi yang tidak menyutujui hubungan mereka berdua.
"ya sudah terserah bapak saja, ibu pasrah semoga zira enggak salah pilih...."
ucap Rumi masuk ke dalam kamar.
***
"hai bang......."
ucap Zira menghampiri pria yang tengah duduk di motor menuggu nya.
beberapa wanita melewati mereka berbisik memperhatikan pria asing itu.
sesekali mencuri pandang dan bersikap mencari perhatian pria asing itu, namun sebagian yang mengetahui tentang kedekatan pria itu dengan zira merasa kecewa karena pria tampan itu sudah ada yang memiliki.
"hm.... senang ya banyak fans nya...."
ucap zira cemberut membuat pria asing itu terkekeh.
"aneh kenapa harus ngefans sama aku?
item, jelek lagi.....!"
ucap pria asing itu memperhatikan wajah nya di cermin.
"enggak apa-apa kan kalau sekarang aku item...?"
tanya pria asing itu meraih tangan zira yang terkekeh mendengar penuturan pria tampan itu.
"enggak apa-apa, zira suka karena kamu pekerja keras. semakin dewasa semakin paham bukan tentang dia yang tampan tapi tentang tanggung jawab nya..."
ucap zira senyum tersipu.
"bukan item sih lebih ke eksotik....!"
ucap pria itu senyum, tak seperti hari kemarin yang terus saja memikirkan siapa diri nya, kini ia seakan tak perduli tentang semua itu, pria itu menjalani semua nya dengan lapang dada.
__ADS_1
saat ini hanya ingin mewujudkan niatnya untuk mempersunting guru cantik itu.
"eksotis apaan, item ya item aja!"
ucap Zira tertawa kecil.
"jangan seperti itu de, kamu bikin Abang frustasi... gemes tahu enggak?"
ucap pria itu membuat zira kembali terkekeh.
"ayo pulang de....!"
ucap pria itu menarik tangan zira untuk naik ke motor.
meski pakaian pria itu basah oleh keringat, tapi sedikit pun tak tercium bau justru tubuh pria itu tercium wangi, kalau tak malu rasanya ingin sekali memeluk tubuh penuh peluh keringat itu, namun zira juga ingat bahwa mereka berdua belum halal, sekuat tenaga menahan diri untuk menjaga jarak.
"udah makan belum de?"
tanya pria asing itu.
"belum bang, makan tadi siang!"
"beli mie ayam mau enggak?"
"emang punya uang?"
tanya zira menoleh ke arah wajah tampan itu.
"ada, aku dapat banyak pikulan tadi.. lumayan lah untuk ngajak kamu makan....!"
ucap Pria itu menghentikan motornya di sebuah kedai mie ayam yang mangkal di pinggir jalan.
"ayo..... kita makan!"
ucap pria itu mengajak zira duduk lalu memesan dua mangkuk untuk nya dan zira.
"emang dapat berapa pikulan bang...?"
tanya zira memperhatikan wajah pria itu tampak lelah.
"sepuluh mungkin....!"
ucap pria itu tersenyum namun berbeda dengan zira yang tertegun mendengar hal itu, pria itu pasti lelah.
"jangan terlalu di forsir bang, kita santai aja...aku enggak mau kamu sakit?"
ucap zira menyentuh tangan kekar itu, memang benar pria itu kini lebih kurus dan hitam karena banting tulang di ladang.
"mau nya santai tapi takut kamu berubah pikiran untuk menerima aku, aku tidak punya apa-apa dan tidak tahu diri karena menginginkan kamu tapi aku janji aku akan berusaha membahagiakan kamu dan soal materi aku juga akan bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan kamu de...."
"masa Allah bang, kamu jangan berpikir seperti itu zira enggak akan berubah pikiran..."
ucap zira tersenyum menggenggam tangan pria asing itu.
"aku memang tidak tahu siapa kamu, tapi entah kenapa aku seperti pernah berada di masa ini sebelumnya tapi aku lupa......"
__ADS_1
ucap zira bergumam dalam hati menyantap mie ayam bersama pria asing itu.
bersambung.