terpikat pria tampan amnesia

terpikat pria tampan amnesia
menentang.


__ADS_3

Ali menghadap tangan Ahmad untuk mengucap ikrar suci pernikahan..


"saya terima nikah dan kawin nya, zira azkia Nisa binti Ahmad dengan mas kawin mas Dua puluh gram dan seperangkat alat sholat di bayar tunai...."


tutur Ali dengan lantang sekali hembusan nafas.


"bagaimana para saksi sah?"


"sah......!"


"Alhamdulillah.......!"


Zira tersenyum sembari menitikkan air matanya, tak menyangka rumah sakit menjadi saksi janji suci keduanya.


Zira memperhatikan Ali yang berdoa dengan khusyuk, pria itu kini telah menjadi suami nya.


Ali tersenyum mendekati zira meraih tangan istrinya untuk memakai kan cincin pernikahan mereka.


"Alhamdulillah....!"


ucapan Ali lirih mencium kening zira, lalu memeluk nya sayang.


Zira mendekap erat tubuh Ali sambil terisak, kini tak ada lagi rasa takut atau cemas karena keduanya sudah halal.


"kenapa menangis hm?"


tanya Ali memangku wajah istri nya.


"aku bahagia sekali bang, air mata ini yang paling paham bagaimana aku sama kamu!"


Zira tersenyum kembali mendekap erat tubuh Ali yang wangi.


"Alhamdulillah... selamat ya, nanti lah mesra mesranya....!"


ucap Alena membuat mereka terkekeh.


"selamat ya bang!"


ucap Alena senyum.


"terima kasih udah dukung Abang ya!"


Ali tidak menyangka Alena tak sungkan berbaur dengan keluarga zira.


"udah nih pengantin baru kita photo dulu!"


Toni mengarah ponsel kamera nya untuk berphoto bersama, penghulu dan Asisten nya sudah pulang karena memang mereka juga tengah sibuk.


"Al ..ini buku nikah nya, kalian simpan ya!"


Toni menyodorkan dua buku nikah pada pengantin baru itu.


"terima kasih ton....Lo emang sahabat gue paling oke!


nanti gue transfer....!"


Ali terkekeh menepuk pundak Toni yang tampak tercengang.


"ya sudah jadi kapan kamu keluar dari rumah sakit?"


tanya Nadia yang sejak tadi curi curi pandang dengan Reza.


"kenapa pria itu begitu dingin...?"


gumam Nadia sendiri.


"aku belum tahu, coba tanya ibu dokter?"


tutur zira senyum pada Alena.


"mungkin tiga hari setelah ini sabar ya pengantin baru....."


Alena senyum, dalam hati berpikir entah bagaimana tanggapan keluarga nya nanti, Wisnu sendiri sudah angkat tangan untuk permasalahan ini.


"ya sudah aku harus bertugas, sekali lagi selamat ya bang!"

__ADS_1


"terima kasih Alena....!"


ucap Ali memeluk adiknya itu.


setelah itu Alena pamit pada keluarga zira.


Tak lama dokter masuk untuk memeriksa keadaan zira, Juga memberikan selamat atas pernikahan tersebut.


"bagaimana keadaan nya dokter?"


tanya Ali.


"tidak ada masalah... semakin membaik?"


jawab dokter tersenyum lalu keluar.


"kita pergi keluar dulu ya!"


Yuda pamit pada mereka mengajak Reza untuk ikut dengan nya, Toni sendiri pergi ke kantor karena harus mengurus beberapa pekerjaan.


" ya sudah....!"


ucap Ahmad singkat.


"sayang, Abang pulang dulu ya! nanti Abang balik lagi....!"


zira mengangguk kecil.


terlihat Rumi dan Nadia tengah berbincang.


"Lama kah?"


tanya zira sedikit tersipu, dalam hati kenapa harus bertanya begitu?


"sebentar....Abang mau ambil baju dulu!"


Ali mencubit pelan pipi zira yang merona, ingin sekali rasanya mencium istri nya itu namun Ali tahan karena ada mereka di dalam ruangan itu.


"bagaimana kalau Kakek marah mendengar pernikahan ini bang?"


"nanti Abang yang Urus!"


jawab Ali.


"tapi Abang Janji akan kembali kan?"


tanya zira merasa risau dan takut kejadian dulu kembali terulang.


"ya, Abang akan kembali....kamu doakan ya"


ucap ali lalu mencium kening zira kemudian pamit pada Rumi juga Ahmad.


"hati hati nak....!"


pesan Ahmad pada menantu nya itu.


**


Yudha dan Reza kini duduk di kantin sambil menikmati kopi hitam yang mereka pesan.


"ini Poto pernikahan nya.... sudah lupakan kekasih mu Paman, carilah seseorang yang mau secepatnya di ajak menikah!"


Yudha memberikan bukti bahwa kini kekasih Reza benar benar sudah meninggalkan Reza.


"tengoklah teman nya zira, aku perhatikan beberapa kali ia mencuri pandang..."


Yuda tersenyum mengatakan hal itu.


"entahlah saat ini aku hanya ingin sendiri dulu mengobati lukaku....!"


"ya untuk mengobati luka kita butuh seorang dokter, dan dokter tersebut adalah seorang pengganti!"


Yudha mengamati wajah Reza yang tampak berpikir.


"aku pikirkan nanti saja!"

__ADS_1


jawab Reza lalu mengeguk kopi hitam nya.


*


Wisnu menghela nafas saat mendengar informasi tentang pernikahan Ali dan zira berlangsung di rumah sakit, entah harus bersikap bagaimana karena Ali sudah tak mengindahkan peringatan dari Sri.


semalam Ali memang mengirimkan pesan pada Wisnu perihal rencana pernikahan nya dengan zira, sejak semalam Ali memang sudah memikirkan hal itu, hingga sampai pagi tak ada jawaban dari Wisnu yang hanya membaca pesannya, tapi Ali yakin Wisnu tak mempermasalahkan zira karena nenek nya juga dari desa.


almarhum Haura Atmaja istri Wisnu juga merupakan kembang desa pada masanya.


"assalamu'alaikum...kek..."


ucap Ali masuk ke dalam rumah menghampiri Wisnu dan duduk di bawah menghadap Wisnu, saat ini hanya Wisnu yang ia miliki untuk mendukung nya termasuk Alena karena Ali tahu Sri pasti tidak akan menerima hal ini.


"maafkan Ali tak melibatkan kakek pada acara tersebut....Ali yakin kakek mau menerima zira kan?"


tanya Ali.


"mau bagaimana kamu juga tak menerima saran kami, kakek memang tidak mempermasalahkan soal itu meski kakek berpikir semua terlalu buru buru. kenapa kamu tidak berusaha untuk meraih Restu mommy mu dulu Al!?"


tanya Wisnu, Sri sendiri sebentar lagi sampai di rumah.


"Ali tidak yakin karena tahu seperti apa mommy, Ali tidak mau kehilangan zira kek!"


Wisnu terdiam sambil menghela nafasnya.


Sri mengepalkan tangannya mendengar percakapan keduanya, sejak tadi Sri sudah sampai dan mendengarkan semua dari luar.


Wijaya sendiri hanya diam karena percuma pendapat nya tak pernah Sri dengarkan.


"Ali.....!"


ujar Sri dengan tatapan tajam nya.


"bisa bisa nya kamu menikah dengan gadis kampung?"


Ali hanya diam membiarkan Sri bicara.


"perempuan itu enggak pantas berada di keluarga kita, tak sepadan dan tak sederajat dengan kita...kamu bikin malu, apa kata orang nanti!"


Sri kesal karena ia terlambat pulang dan tidak sempat mencegah pernikahan itu.


"Ali cinta Sama dia mi, dan Ali enggak peduli dengan omongan orang karena Ali yang menjalani semua ini. mereka memang bukan orang kaya seperti kita tapi mereka keluarga baik baik dan Ali tahu itu...!"


Wijaya memperhatikan sulung tampak teguh dengan pendirian.


"baik bagaimana? mereka hanya ingin numpang menikmati uang kita, kenapa kamu sebodoh itu memilih perempuan dan malah menolak Siva yang sempurna!"


Ali tersenyum kecil mengingat perempuan manja itu, tak sedikitpun Ali tertarik.


"sudah....!"


ujar Wisnu namun tidak dengan Sri yang tampak geram dengan kejadian ini.


"diam pah, jangan biarkan mereka menang!"


sahut Sri membuat Wisnu menggeleng kan kepalanya.


"Mommy tetap menentang pernikahan itu, dan sekarang kamu pilih keluarga ini atau perempuan itu?"


ucap Sri dengan menggebu.


"Ali pilih istri Ali mi, maafkan Ali!"


jawab Ali membuat Sri semakin geram.


"oke, silahkan kamu pilih perempuan itu tapi jangan bawa apapun dari rumah ini dan siapa pun orang yang ikut serta dalam acara itu sebaiknya hengkang dari hadapan ku!"


ujar Sri dengan gemeretak gigi nya masuk ke dalam rumah besar itu meninggalkan ketiga orang yang mematung menatap punggung nya dengan nafas memburu.


bersambung.


...


....

__ADS_1


__ADS_2