
Pagi....
zira membuka matanya dan melihat Ali, kedua orang tua nya serta Yuda juga Reza tengah berjamaah shalat subuh di ruangan yang cukup besar itu dan Yuda yang menjadi imam nya.
Zira menitikan air mata nya menatap punggung pria tampan yang dulu mengalami amnesia, air mata ini paling tahu sedalam apa rasa cinta nya.
*
Ali terbangun lebih dulu sebelum yang lain nya, ia pergi ke luar untuk membeli beberapa makanan karena di ruangan itu tak ada makanan apapun.
Ahmad membuka matanya dan melihat Ali tak berada di Sofanya.
tak lama terdengar seseorang membuka pintu dan Ali menyembul masuk dengan senyum tersungging di bibirnya menghampiri Ahmad Yang juga tersenyum pada Ali.
"Alhamdulillah kamu baik baik saja!"
ujar Ahmad keduanya berpelukan.
Ahmad mengusap punggung yang dulu penuh luka.
"Maafkan Ali terlalu lama pergi,nama saya Ali pak...!"
Ahmad mengangguk sambil tersenyum.
"ya, apapun yang terjadi bapak bersyukur kamu baik baik saja nak...maaf bapak tak bisa berbuat banyak!"
Ali mengangguk mengerti karena memang keadaan cukup mengkhawatirkan.
setelah itu Ali menghampiri Rumi dan juga berkenalan dengan Yuda.
Rumi sendiri lebih banyak diam karena ia sendiri merasa bingung jika Ali anak orang kaya.
"saya ingin melanjutkan apa yang menjadi niat saya pak, seharusnya Ali dan zira sudah menikah kan"
Ahmad dan Rumi tertegun sementara Yuda dan Reza diam menanggapi.
"tapi bagaimana dengan keluarga nak Ali, sementara kami hanya orang biasa!"
Ahmad tak menampik bahwa ia juga menginginkan Ali namun bukan karena Ali orang kaya tapi pada perilaku baik nya terhadap zira.
"Ali paham tapi Ali benar benar menginginkan zira menjadi istri Ali pak, Bu. Ali cinta dan sayang sama zira!"
ucap Ali dengan serius.
"ya sudah bapak sendiri bagaimana keputusan zira, bapak tidak bisa menolak atau menyuruh kalian karena kalian sudah besar dan tentu tahu mana yang terbaik!"
Percakapan terhenti saat adzan subuh berkumandang, mereka memutuskan untuk berjamaah di ruangan tersebut.
zira memejamkan matanya saat mereka mengucapkan salam, Ali juga langsung menoleh pada zira yang masih terlelap padahal tidak zira sudah bangun.
tok tok...
terdengar seseorang mengetuk pintu, gegas Reza beranjak dari duduknya.
"biar aku...."
Reza membuka pintu dan terlihat seseorang membawa bungkusan plastik.
"ini pesanan pak Ali..."
ucap pria itu membawa beberapa bungkus bubur ayam.
"terima kasih...."
Ali beranjak lalu membayar makanan tersebut.
"Ayo ajak bapak sama ibu makan za!"
ucap Ali lalu menghampiri zira.
"makasih Al... kita jadi ngerepotin kamu"
__ADS_1
Reza duduk bersama yang lain nya.
"enggak apa apa tadi sekalian ke supermarket, soalnya di sini enggak ada makanan apa apa!"
Ali kembali menoleh menghadap zira.
"bangun ini sudah pagi, apa kamu enggak laper de!"
Ali mengusap tangan zira yang sedikit dingin.
"hm... apa bang!"
Zira tersenyum menatap wajah kekasih nya Itu, rasanya begitu sedih dan takut jika esok tak bisa lagi memandang wajah tampan itu.
"makan ya, Abang beli bubur yang lain nya juga tengah makan...."
Ali menoleh ke arah Yuda yang tersenyum mengangkat mangkuk yang berisi bubur.
"Abang suapi ya"
zira tersenyum teringat dulu saat Ali sakit, kini giliran Ali yang menyuapi nya makan.
"gimana kalau kita menikah hari ini de?"
tanya Ali membuat zira termangu.
"Abang enggak mau menunda waktu lagi karena Abang tahu seperti apa Mommy, dan Abang enggak mau kehilangan kamu lagi"
Zira menoleh pada Ahmad dan Yuda, ia tidak tahu harus menjawab apa karena ini terlalu cepat dan begitu mendadak.
"kamu yakin bang? gimana tanggapan mereka nanti!"
ujar zira mengingat Sri dan juga Wisnu.
"ya, asal kamu yakin sama aku.. kita hadapi semua nya bersama!"
Ahmad dan Rumi mendekati mereka berdua.
hal itu memang benar, Ali sendiri sebenarnya khawatir dengan Sri yang bisa melakukan apa saja untuk memisahkan mereka berdua.
"boleh kan bang Yuda?"
tanya Ali pada Yuda yang termenung sejenak.
"Abang sih bagaimana zira saja!"
jawab Yuda menatap wajah zira.
"zira Abang sayang sama kamu, sebenarnya sebelum kejadian itu Abang memang ingin mencari kamu ke peternakan?"
ujar Ali membuat zira menautkan alisnya.
"maksudnya? Zira enggak ngerti?!"
"Abang jatuh cinta sama kamu sejak lama, dulu Abang selalu datang ke peternakan untuk mengistirahatkan tubuh dan di situ Abang melihat gadis yang pagi dan sore hari menjual susu.
Abang seketika mengagumi kamu dan jatuh cinta sama kamu zira?"
zira tertegun mendengar penuturan Ali yang tak pernah ia sangka.
"Abang enggak punya keberanian untuk mengungkapkan perasaan Abang, hingga Abang hanya mampu mengagumi dari jauh, memperhatikan kamu dari jauh!"
ucap Ali senyum mengingat masa itu.
"sampai waktu dimana Abang harus lanjut kuliah di Amerika sampai S2... Abang pernah pulang hanya waktu itu kamu enggak ada, kata Bu yati kamu kuliah di Jakarta..."
tutur Ali senyum.
"bu Yati tahu soal kamu....?"
tanya zira, rasanya semakin yakin untuk menerima cinta pria ini.
__ADS_1
"ya, kamu juga pasti bertanya tanya tentang gelang yang tiba tiba ada di tangan kamu?"
zira menoleh kearah Yuda yang mengetahui hal itu.
"itu dari kamu bang?"
tanya zira tak menyangka gelang cantik itu dari Ali.
"ya Abang kasih gelang itu pas kamu lagi tidur di rumah Bu Yati... waktu itu Abang mau pergi ke Amerika!"
ucap Ali berhasil membuat zira kembali terpikat.
"Abang enggak pernah merasakan sesuatu yang Abang rasakan sama kamu, di Amerika itu banyak perempuan cantik tapi enggak tahu kenapa kamu betah di sini!"
Ali Menunjuk dada bidang nya.
"kamu mau kan menikah sama Abang!" dengan cepat zira mengantuk mengiakan.
tak ingin lagi berpisah seperti yang Ali katakan bahwa hadapi semua nya bersama.
"ya udah pak, enggak apa-apa kan Bu kalau acara nya di sini... Ali akan hubungi Toni untuk bawa penghulu kemari!"
ucap Ali kembali meminta pada Ahmad.
"ya sudah bapak restui kalian...."
"terima kasih pak...."
Ali langsung menghubungi Toni untuk mengurus semua nya.
Nadia yang baru saja datang Merasa senang mendengar hal itu, tentu saja ia mendukung niat tersebut.
Rumi dan Nadia mendadani zira sambil menunggu penghulu datang.
Toni berjalan beriringan bersama seorang penghulu, pagi pagi sudah di buat repot oleh sahabat nya itu, bukan hal yang mudah mencari penghulu yang nganggur pagi pagi begini namun saat uang yang berbicara semua langsung mudah.
Alena yang baru sampai mengikuti langkah Toni di belakang dengan tergesa, ia baru saja sampai di rumah sakit.
"assalamualaikum....!"
Toni menyembul masuk ke dalam ruangan bersama seorang penghulu dan assiten nya.
"walaikumsalam......!"
mereka menjawab dengan seperempak.
sebelumnya Ali juga sudah menghubungi pihak rumah sakit meminta izin acara saklar tersebut.
"hm, pagi pagi udah bikin gue repot lo.."
ucap Toni membuat Ali terkekeh.
"kita langsung saja ke acara inti ya, soal nya saya juga buru buru...!"
ucap penghulu sambil mengurus berkas berkas pernikahan tersebut.
"bagaimana sudah siap saksi dan wali...!"
tanya penghulu.
"tunggu!"
semua menoleh kearah Alena yang menyembul masuk.
"Alena yang akan jadi saksi Abang!"
ucap Alena tersenyum menghampiri mereka.
"Alhamdulillah....!"
Ali begitu lega mendengar hal itu hingga acara akad pun di mulai.
__ADS_1
bersambung.....