
Ahmad dan Rumi sama sama tertegun saat mendengar zira dan Ali mengatakan bahwa mereka akan pergi ke Jakarta.
"kamu yakin nak, ibu khawatir dengan kondisi kamu yang tengah hamil muda!"
Rumi tak bisa melepaskan zira dalam keadaan seperti itu tapi ia juga tidak bisa berkeras karena saat ini Ali berhak membawa zira kemanapun.
"Ali janji akan jaga zira Bu, dan secepatnya Ali akan cari rumah baru untuk kami berdua.
Ali tidak Bisa mengabaikan perusahaan karena saat ini kondisi keluarga ali tengah di uji.... Dady meniggalkan mommy!"
Rumi semakin tertegun, seperti nya Sri memiliki perangai buruk hingga suami nya pun tak tahan tinggal bersama nya.
"ya sudah, bapak percaya kan zira sama kamu Al.... karena saat ini kamu suami nya dan kamu berhak bawa zira kemanapun..."
Rumi menghela nafas tak setuju dengan pendapat Ahmad, ia khawatir Sri menyakiti zira.
"ya Bu... Ali janji akan jaga zira!"
ucap Ali kembali meyakinkan Rumi yang membisu.
"ya, ibu doakan agar zira baik baik saja di sana!"
Rumi tak menjawab ia malah menitikkan air matanya.
"jangan seperti itu Bu, restu orang tua itu paling ampuh loh untuk anak nya.
kita doakan saja yang terbaik..."
Ahmad merangkul pundak Rumi lalu mengusap punggung nya.
rasanya berat melepaskan zira pergi, kemarin saja saat zira di Jakarta kabar yang ia terima zira masuk rumah sakit.
dan sekarang zira hendak menemui seseorang yang tidak menyukai nya, bukankah sama saja ia membiarkan zira masuk ke kandang macan.
"jadi kapan rencana kalian pergi ke Jakarta?"
tanya Ahmad.
"besok, dengan Alena dan Toni.
Ali titip ladang dan peternakan ya pak!"
"ya nanti bapak urus..... tolong jaga zira nanti di sana ya Al...!"
pesan Ahmad pada Ali.
"ya, pak itu pasti!"
jawab Ali singkat lalu beranjak masuk ke dalam kamar bersama zira.
keduanya tetap bermalam di rumah Ahmad.
pagi....
sebuah mobil berhenti di depan rumah Ahmad, Alena dan Toni menyembul keluar dari mobil.
Nadia dan Reza juga berada di rumah itu, Nadia akan ikut ke kota bersama zira, awalnya Nadia menolak namun zira tetap memaksa karena mobil memang kosong.
"kamu baik baik di sana ya Ra!
ibu pasti kangen!"
Tutur Rumi memeluk erat putrinya itu.
__ADS_1
"ya, Bu ..zira juga pasti kangen sama ibu!"
Jawab zira memeluk Rumi.
ali dan yang lainnya berpamitan pada Ahmad, dan Rumi. di susul Nadia yang juga pamit pulang.
"nanti Abang ke Jakarta sama kak Ahmad lalu kita ke Bandung ketemu orang tua mu ya!"
ucap Reza melepaskan tangan Nadia yang hendak naik ke mobil.
"ya, Nadia tunggu!"
Rumi terus memperhatikan zira yang naik ke dalam mobil, berat melepaskan namun apa daya Zira pergi bersama suaminya.
"lepaskan Bu, biar zira tenang!"
ucap Ahmad melambaikan tangannya pada zira yang juga melambaikan tangan, mobil melaju menjauh dari kediaman nya.
zira menghela nafas panjang melihat Rumi yang tampak sedih dan berat melepaskan nya pergi, tapi apa daya ia juga tidak bisa menolak permohonan Ali untuk ikut dengan nya.
meski terbesit sebuah ketakutan namun zira coba untuk tenang jika nanti tiba saatnya ia bertemu dengan Sri.
"kamu kenapa de?"
tanya Ali menilik wajah zira tampak pucat.
"enggak apa-apa bang...!"
Zira senyum simpul lalu bersandar pada Ali menyembunyikan kegundahan nya.
Beberapa jam berlalu sore itu mereka sampai di Jakarta, setelah beberapa kali berhenti di rest area di tambah jalanan yang cukup padat membuat mereka sore sampai di Jakarta.
Toni langsung mengantar Nadia ke kosan nya.
ucap Nadia saat turun dari mobil.
"ya, nanti aku main sini ya!"
ujar zira tersenyum.
"ya, nanti chat aku ya!"
jawab Nadia melambaikan tangan nya pada zira, mobil kembali melaju menuju rumah besar milik keluarga Wisnu.
jantung zira berdegup kencang saat mereka sampai di rumah itu, rumah dengan tiga tingkat dan halaman yang begitu luas.
terlihat beberapa mobil terparkir di depan, belum yang di dalamnya.
ternyata suami nya memiliki kekayaan yang cukup banyak jika menilik rumah dan beberapa mobil yang keluarga nya miliki.
pantas Sri mengatakan bahwa mereka tak sederajat, zira merasa insecure dan sungkan untuk masuk ke dalam rumah besar itu.
"ayo sayang masuk!"
ajak Ali, senyum mengembang di wajah Alena.
"ayo Ra.....!"
ajak Alena masuk ke dalam rumah, terlihat pembantu membuka pintu besar itu.
Zira menghentikan langkahnya saat tiba di pintu, langkah nya terasa berat memasuki rumah itu.
"kenapa sayang?"
__ADS_1
tanya Ali membuat zira menoleh.
"aku......!"
zira tidak tahu harus beralasan apa, rumah itu bak istana... besar dan mewah.
"jangan sungkan, ini rumah bukan punya ku tapi punya kakek!
ayo sayang kita langsung ketemu mommy di atas!"
ajak Ali masuk ke dalam lift yang berada di rumah itu.
Ali menuntun langkah zira memasuki kamar Sri, kamar utama di rumah itu.
terlihat seorang dokter keluar dari kamar Tersebut.
"dokter bagaimana keadaan mommy?"
tanya Ali di depan pintu yang terbuka.
"keadaan nya sudah membaik hanya perlu istirahat untuk beberapa hari" dokter tersebut tersenyum saat melihat Alena berjalan di belakang Ali.
"gimana dokter David?"
"Tekanan darah nya sudah turun, mommy mu perlu istirahat..."
jawab David yang merupakan teman dekat Alena di rumah sakit, sebelum pergi ke peternakan Alena menitipkan Sri pada David.
Ali mengajak zira untuk masuk di ikuti oleh Alena dan Toni.
"assalamualaikum mom....!"
Ali menghampiri Sri yang bersandar pada ranjang.
menatap tajam ke arah zira yang berada di belakang Ali dengan penuh kebencian.
"walaikumsalam......" jawab Sri.
"mommy pikir kamu udah enggak peduli lagi sama mommy!!"
Sri pura pura sedih lalu tersenyum dalam hati saai Ali langsung memeluk nya, melepaskan genggaman tangannya pada tangan zira.
"maaf kan Ali ya mi, Ali harap mommy mau menerima keberadaan zira... istri Ali dan sekarang dia sedang hamil!"
ucap Ali, zira hendak mencium tangan Sri namun Sri malah menjauh.
"mi.....!" panggil Ali yang tidak menyukai sikap Sri terhadap zira.
"mommy pusing mau istirahat, kamu harus kembali urus kantor ya!"
Sri membalikkan badannya membelakangi mereka berempat.
"lihat saja nanti, seberapa kuat kamu bertahan..... salah jika kalian berpikir aku mengalah!"
Sri tersenyum dalam hati, lalu memejamkan mata nya yang lelah
"ya sudah, ayo ajak zira istirahat dulu bang"
ajak Alena keluar dari kamar itu.
Ali mengajak zira ke kamar nya yang di lantai dua.
zira diam membisu mengingat sikap Sri terhadap nya, sesungguhnya skenario baru saja di mulai.
__ADS_1
bersambung.....