
zira termenung sendiri di dalam kamar nya mengingat pertemuan nya dengan Wijaya tadi siang, ternyata Wijaya cukup ramah.
bahkan Wijaya dan istri nya mengajak zira untuk makan siang bersama.
"ini pertama kali nya kita bertemu, sebelum nya aku tidak tahu seperti apa perempuan yang membuat sulung Ku berani melawan mommy nya.....cantik...!"
Wijaya senyum menoleh ke arah indah yang tampak biasa.
"tapi bagiku istri ku ini paling cantik!"
Indah terperanga lalu terkekeh kecil mendengar hal itu.
ternyata Ali memiliki kemampuan merayu yang persis seperti Wijaya, buah jatuh tak jauh dari pohon nya.
Wijaya juga baik, Zira pikir Wijaya akan bersikap sama seperti Sri tapi ternyata tidak.
"kenapa kamu pakai pakaian pembantu di rumah!?"
tanya Wijaya sedikit heran.
"oh...ini saya sengaja pakai karena saya suka membantu pekerjaan rumah, jadi kalau pakai baju ini enggak khawatir kotor?"
"tapi kamu sedang hamil? apa Ali tahu?
atau Sri yang menyuruh kamu?"
tanya Wijaya bertubi membuat zira tertegun.
"Mmm... enggak ini saya yang mau karena saya jenuh jika hanya berdiam diri di kamar.
dan dokter juga mengatakan untuk banyak bergerak!"
"ya tapi kamu istri nya Ali dan enggak harus jadi pembantu?"
zira kembali tertegun.
"sebelumnya kamu berprofesi apa?"
tanya indah.
"saya seorang guru, sebenarnya saya ingin kembali mengajar tapi Ali melarang saya!"
jawab zira.
"kebetulan sekali zira, aku ini kepala sekolah di sekolah SD negeri yang berada di kawasan x... kamu bisa mengajar di sana kalau mau, tapi kamu harus merahasiakan hal ini dari Ali.
maksud saya, tentang siapa saya sampai perceraian mommy nya Ali dan suami saya selesai."
zira paham maksud indah, dan bagi zira ini adalah kesempatan Bagus untuk menghindari Sri.
kalau ia kembali mengajar, itu artinya Sri tidak akan bisa semena-mena lagi terhadap nya di rumah karena ia juga akan sibuk di luar, tapi apa Ali mengizinkan.
ia harus mendapatkan izin dari Ali, paling tidak sampai mereka pindah rumah.
"ya sudah Bu, saya mau sekali..."
jawab zira lalu memberikan sivi nya yang berada di handphone, zira juga meminta nomor ponsel Indah.
pantaslah Wijaya berpaling dari Sri, sifat Indah berbanding terbalik dengan Sri yang angkuh dan sombong.
indah bukan hanya cantik tapi juga baik, ramah dan juga sederhana.
**
zira menoleh ke arah Ali yang menyembul masuk ke dalam kamar.
"assalamualaikum...."
Ali tersenyum melihat zira yang masih terjaga, biasanya istri nya itu sudah tidur.
"walaikumsalam....."
__ADS_1
Zira langsung meraih tas Ali, beralih mencium tangan Ali kemudian memeluk nya.
Ali juga memeluk tubuh yang sedikit berisi itu.
"sayang, Abang rindu...."
Ali memangku wajah zira lalu menciumi nya berulang kali hingga membuat zira terkekeh geli.
"zira Juga rindu...."
"kamu udah makan belum? maaf ya pekerjaan Abang baru selesai!"
Ali memangku tubuh zira sambil mengelus perut zira yang sedikit buncit.
"ya enggak apa-apa, nanti zira mau bicara ya sama Abang!"
"bicara apa?"
"nanti saja...!"
zira tersenyum lalu membuka kancing kemeja Ali hingga terpampang lah dada bidang milik suaminya itu.
"mau ngajak main dulu?"
tanya Ali membuat zira terperanga, padahal zira hanya membantu Ali melepaskan kemeja nya saja.
"bukan, aku bantu kamu buka kemeja kamu...!"
ujar zira terbata namun Ali malah merebahkan tubuh zira di ranjang dan mengungkung nya.
"Abang rindu sekali sama kamu!"
ucap Ali lalu menciumi wajah zira hingga sampai pada bibir ranum milik zira dan memperdalam nya saat zira menyambut ciumannya.
**
seorang perempuan cantik masuk ke dalam rumah besar itu bersama Sri.
"kamu tunggu di sini ya..."
tak berapa lama Alena dan Toni Juga sampai di rumah, dan bersikap biasa saat melihat Siva tengah duduk di sofa.
"nah kebetulan Alena udah datang, Ayo kita makan malam bersama....."
ajak Sri pada Siva.
"Alena tolong kamu panggil Ali untuk makan malam, katakan ada Siva...."
Alena melengos pergi tanpa menjawab penuturan Sri.
*
"bang Ali..... kita makan malam bersama."
panggil alena saat ia sampai di depan pintu namun tak ada jawaban.
"zira........"
panggil Alena lagi.
namun tak ada jawaban juga, Alena tertegun apa mungkin keduanya tengah bercinta.
Alena tersenyum lalu melangkah pergi.
"mana Ali.....?"
tanya Sri saat Alena kembali.
"enggak ada yang nyahut, Bang Ali sama Zira seperti nya lagi menyiram benih cinta mereka berdua....!"
Alena terkekeh kecil menoleh ke arah Toni yang langsung terpaku, seperti hal nya mereka berdua ingin selalu berdekatan dan sudah tak sabar menunggu hari H...
__ADS_1
Siva terdiam mendengar penuturan Alena yang langsung mematahkan hati nya, ia merasa cemburu mendengar hal itu.
"mungkin lagi Mandi....!"
ucap sri.
"ya mungkin mandi bersama karena di antara mereka tidak ada yang menjawab panggilan ku!"
Alena berbicara sambil menuangkan makanan ke dalam piring Toni.
"makan duluan saja, aku lapar!
enggak mungkin kan nunggu mereka selesai?"
Alena kembali terkekeh kecil lalu menyuap makanan ke dalam mulutnya memperhatikan wajah Siva tampak masam.
Sri menggertakan gigi nya, ia gagal lagi mempertemukan ali dan Siva.
*
Ali tersenyum memeluk zira yang tampak kelelahan, keduanya sama sama melepas rindu dengan bercinta, Ali mencium kepala zira. mengusap keringat yang keluar dari pelipisnya, padahal di kamar itu ada pendingin ruangan.
"terima kasih cinta....."
Ali mencium pelipis istrinya, zira hanya tersenyum mendekap tubuh Ali.
"kita mandi yuk, nanti Abang bawa makanan untuk kita ke kamar ya"
ajak Ali lalu mengangkat tubuh zira yang tertutup selimut tebal.
tak berapa lama mereka berdua selesai melakukan ritual mandi bersama, Ali terkekeh melihat leher nya yang penuh kismark dari zira.
"udah bisa kan sekarang...?"
tanya ali terkekeh kecil memeluk zira dari belakang.
"kamu tuh maksa, aku malu kalau mommy mu lihat, Alena juga!"
ucap zira menutup wajahnya dengan tangan sendiri.
"enggak apa-apa, ini tanda kepemilikan kamu sayang!"
ali mendudukkan zira di ranjang, Ali yang meminta zira membuat kismark di leher nya.
"Abang ke luar dulu ya ambil makanan untuk kita!"
Ali beranjak keluar dari kamar menghampiri mereka yang tengah makan.
"hai.... wah ada tamu ternyata..."
ucap Ali.
Alena tersenyum melihat rambut Ali yang basah serta leher Ali terdapat beberapa tanda merah,. kecupan dari zira.
tentu saja hal itu membuat Alena tertawa dalam hati saat melihat wajah Siva langsung teduh.
"kamu enggak makan bareng kita, ada Siva loh!"
ucap Sri.
"ya tapi Zira kelelahan dan enggak bisa makan di sini, Ali juga enggak bisa kalau enggak ada zira"
ucap Ali sambil menuangkan beberapa makanan ke dalam Piring dan membawa nya menggunakan nampan.
Toni dan Alena sama sama tersenyum melihat ali Melenggang pergi tak menghiraukan Siva.
Sri sendiri hanya diam namun ia akan terus melanjutkan misi nya untuk memisahkan Ali dan zira.
meski Ali pernah mengancam nya..."Ali akan tinggal kan perusahaan kalau mommy menyakiti zira, ingat ya mi.
Zira itu lagi hamil cucu mommy!"
__ADS_1
ucap Ali kala itu, namun Sri enggan memiliki menantu gadis kampung seperti zira.
bersambung.....