terpikat pria tampan amnesia

terpikat pria tampan amnesia
pelajaran.


__ADS_3

Alena Masuk ke dalam rumah bersama Toni setelah mengucapkan salam.


rumah tampak sepi, Alena mengerutkan keningnya melihat pembantu berlari kecil menghampirinya.


"ada apa bi...?"


tanya Alena saat pembantu sampai di hadapan nya.


"nyonya pingsan non....!"


Alena melebarkan matanya mendengar hal itu, replek kakinya berlari dengan cepat menapaki tangga di ikuti oleh Toni.


"mom.....!"


Alena langsung masuk ke dalam kamar, terlihat dua orang pembantu berada di samping Sri yang terbaring lemas.


"mommy sakit?"


tanya Alena.


sampai di rumah Sri langsung tak sadarkan diri saat keluar dari mobil, tubuh nya benar benar lemas, di tambah kepalanya begitu pusing.


bergegas pembantu meminta satpam dan tukang kebun membawa Sri ke dalam kamar, untunglah Alena cepat datang.


"mom tuh kurang istirahat, telat makan juga!"


Tutur Alena memeriksa keadaan Sri yang bungkam.


"untuk sementara waktu ini mommy harus beristirahat dulu!"


"lalu siapa yang mengurus perusahaan?"


tanya Sri membuat Alena tertegun sejenak.


"kalau mommy mau bang Ali kembali, mommy harus mau menerima zira..."


jawab Alena membuat Sri termangu.


tersenyum dalam hati, mungkin ia bisa memanfaatkan keadaan ini, ia juga bisa memberikan gadis desa itu pelajaran karena sudah berani mengambil putera nya.


"telpon Abang mu katakan kalau mommy sakit, mommy ingin tahu apa tanggapan nya!"


ucap Sri lalu membalikkan badannya membelakangi Alena, sementara Toni menuggu di depan kamar.


Alena beranjak dari duduknya lalu keluar dari kamar itu.


"bagaimana keadaan mommy na?"


tanya Toni.


Alena berjalan menuruni tangga tanpa menjawab pertanyaan dari Toni.


"kita makan dulu bang, nanti kita bicarakan soal mommy?"


Alena menyiapkan makanan yang ia bawa dari kafe Toni.


Toni menurut lalu duduk tanpa banyak berkomentar.


di kampung...


Zira masuk ke dalam kamar setelah Nadia kembali ke rumah bapak nya, Reza meminta Nadia untuk tinggal di rumah Ahmad karena itu juga tawaran dari Ahmad.


"padahal di sini ada kamar kosong tapi bapak sudah lebih dulu menawarkan Nadia untuk tidur di rumah!"


zira duduk di kursi meja rias memoles wajah nya tipis dengan makeup, entah kenapa akhir akhir ini ia senang sekali berdandan.

__ADS_1


"ya sudah enggak apa apa..... kenapa sih manyun seperti itu?"


tanya ali di belakang zira, menyamai posisi wajah zira lalu mencium pipinya lama.


zira tersenyum sembari memejamkan matanya saat ciuman itu beralih ke leher jenjang nya yang putih, zira mengigit bibir nya saat Ali menggigit leher nya membuat beberapa jejak kepemilikan nya.


"geli tahu bang?"


Tutur zira tersenyum menoleh ke arah Ali yang kembali mencium pipi nya.


kemudian mengangkat tubuh zira dan merebahkan tubuhnya di ranjang besar itu.


seperti malam malam sebelumnya keduanya selalu mengawali malam dengan bercinta, memadu kasih menyelami benih benih cinta.


***


Reza berencana untuk melamar Nadia, tentu saja meminta Ahmad untuk datang ke kediaman Nadia nanti.


zira dan Ali sendiri senang mendengar kabar gembira itu, Reza tak lagi terpuruk dalam kubangan luka nya karena Rosa.


Nadia bukan hanya cantik, tapi juga baik dan tulus.zira pasti mendukung niat keduanya menuju halal.


"bang....!"


ucap zira menyandarkan kepalanya di dada Ali yang langsung mencium kening nya, keduanya baru saja selesai bercinta.


"apa sayang? kamu mau lagi?"


zira langsung memukul dada Ali pelan.


Ali terkekeh kecil mencubit pipi zira yang memerah.


"besok kita kasih tahu Alena ya kalau zira udah hamil!"


"ya sayang, besok kita telpon Alena ya!


Ali mendekap erat tubuh zira seraya tangan satunya mengusap perut zira yang masih rata, benih cinta nya telah tumbuh dan berkembang di rahim kekasih nya itu, anugerah terindah dari sang pencipta.


Zira memejamkan matanya yang mengantuk, membiarkan Ali mengusap punggung nya yang polos tertutup selimut tebal.


***


Alena berbicara berdua di halaman rumah besar itu, menghadap kolam ikan yang cukup besar.


kolam ikan itu milik Ali, ia yang meminta Wisnu membuat kolam ikan tersebut.


"ada apa...?"


tanya Toni menilik kerisauan yang di alami oleh kekasihnya itu.


"bang Ali mau enggak ya kalo balik ke rumah, kasihan mommy kewalahan mengurus perusahaan!"


tanya Alena meminta pendapat.


"coba saja besok kita ke peternakan de, kamu libur kan.


jadi nanti kita bisa bicara kan langsung dan kasih tahu Ali tentang Dady mu juga!"


Alena mengangguk kecil mencerna ucapan Toni, memang sebaiknya ia pergi ke peternakan untuk membicarakan masalah ini.


"ya sudah, ini sudah malam..


Abang pulang dulu ya!"


ucap Toni mengusap punggung Alena, netra keduanya bertemu.

__ADS_1


jantung Alena berdetak kencang saat wajah Toni mendekati nya.


"tidur ya!"


Alena membeku saat Toni mencium kening nya singkat.


Alena mengangguk lalu menatap wajah tampan milik calon suaminya itu, Alena tersenyum lalu beranjak dari duduknya bersama Toni.


kecupan sayang itu begitu mengena di hati nya, Alena bersyukur di saat seperti ini ada Toni yang selalu memberikan nya semangat dan dukungan.


"terimakasih ya bang!"


Toni mengangguk lalu mengusap pucuk kepala Alena.


"Abang pulang ya!" Alena mengangguk lalu melambaikan tangan nya pada Toni yang berada di dalam mobil.


pagi....


Ali masuk ke dalam kamar setelah kembali dari lari pagi nya, ia mempercepat langkahnya saat mendengar zira kembali mual dan muntah di kamar mandi.


gegas Ali masuk dan memijat Tengkuk leher zira yang langsung menoleh.


"kamu mual lagi?" tanya Ali dan di anggukan oleh zira.


Ali Langsung membopong tubuh zira keluar dari kamar mandi dan merebahkan nya di ranjang.


"kamu tunggu ya Abang ke bawah ambil susu untuk kamu!"


Ali membalikkan tubuhnya meninggal kan zira yang menatap punggung nya keluar dari kamar.


Ali begitu lembut dan perhatian, tak ada satu pun alasan untuk tidak jatuh cinta atau terpikat oleh pesona Juga kebaikan nya.


tak lama Ali kembali dengan segelas susu hangat di tangan nya.


"minum yang, biar kamu ada tenaga!"


Ali mengusap wajah zira yang tampak pucat.


"Abang harus bagaimana jika kamu seperti ini!?"


tanya Ali tak tega melihat Zira yang terus menerus mual dan muntah.


"cukup kamu yang berada di samping ku...."


zira tersenyum lalu memeluk tubuh Ali yang penuh peluh keringat.


"Abang sayang sekali sama kamu"


ucap Ali mencium kepala zira.


"kita telpon Alena ya untuk kasih tahu kabar bahagia ini...."


Ali merogoh ponsel yang berada di nakas lalu menghubungi Alena.


beberapa kali mencoba namun tidak ada jawaban, malah nomor nya berada di luar jangkauan. tak mungkin ia berada di ruang operasi karena ini weekend, apa mungkin Alena tengah men charger ponsel nya.


"tidak bisa, nanti Kita telpon lagi...kamu istirahat dulu ya!


Abang ambil bubur untuk kamu di bawah!"


ujar Ali membantu zira untuk kembali merebahkan tubuhnya.


padahal Alena saat ini tengah berada di perjalanan menuju peternakan bersama Toni.


Alena memang mematikan ponselnya karena ia ingin tertidur sejenak, semalam ia tidak bisa tidur karena menunggu Sri yang demam tinggi.

__ADS_1


bersambung.


....


__ADS_2