terpikat pria tampan amnesia

terpikat pria tampan amnesia
sekeras batu.


__ADS_3

Wisnu menopang dagunya melihat rekaman cctv video yang menampilkan zira yang tengah melawan beberapa bodyguard entah suruhan siapa, hampir tak percaya jika perempuan yang terlihat lemah bisa melawan beberapa pria yang cukup handal dalam menghabisi musuh nya.


"bagaimana keadaan zira?"


tanya Wisnu pada assisten yang mencari informasi tentang keadaan zira.


"nona zira dan kandungan nya baik baik saja....hanya sedikit cedera pada lututnya akibat tendangan dari salah satu pria itu."


Wisnu mengangguk, ke empat pria itu kini di sekap di salah satu kamar sesuai dengan instruksi dari Ali.


diam diam Wisnu kagum dengan zira yang cukup handal menjaga dirinya, tak ada yang tahu kan zira gadis lembut itu menguasai ilmu bela diri silat yang cukup matang.


bukan hanya Wisnu yang meminta rekaman cctv itu tapi Sri juga tak percaya dengan apa yang ia lihat, zira bisa melawan para penjahat itu seorang diri. perempuan yang terlihat lemah bahkan gampang menangis ternyata menguasai ilmu bela diri.


Sri termenung sendiri mengingat percakapan nya dengan salah satu tamu yang datang, wanita itu teman lama Sri saat SMA.


"jeng Sri benar mau siva jadi menantunya...!"


tanya wanita itu mendengar percakapan Sri, saat Sri terang terangan menghina zira di depan banyak orang.


"ya memang kenapa Jeng nera?"


nera nama teman lama Sri.


"saya kenal betul siva, dulu sempat mau jadi menantu saya tapi enggak jadi karena dia mandul....!"


jawab jeng nera membuat Sri melebarkan pupil nya.


"cari yang lain saja, Saya yang cek langsung karena sebelum menikah biasanya cek kesehatan dan hasil nya......"


Nera mengusap pundak Sri lalu pergi meninggalkan nya yang mematung sendiri.


***


Ali meminta Nadia untuk menemani zira yang sudah terlelap dalam tidurnya, Ali menuggu perempuan itu sampai reda dan terus mengusap punggung nya hingga tertidur, Ali harus bertemu dengan ke empat pria itu.


Wijaya sendiri sudah pamit, beberapa kali Alena juga menelpon menanyakan keadaan zira.


Ali sudah memberi tahu Alena bahwa zira baik baik saja, kasihan pengantin baru itu karena di pesta pernikahan nya harus ada insiden serupa.


tak berapa lama Ali sampai di tempat dimana Ke empat orang itu disekap.


anak buah Wisnu langsung membuka pintu, terlihat Wisnu Tengah duduk menunggu nya.


"kek.... Dimana mereka?"


tanya Ali menghampiri Wisnu.


"ada di dalam...... bagaimana keadaan zira?


istri mu itu luar biasa...."


Wisnu tersenyum memperlihatkan video saat zira melawan ke empat penjahat itu.


Ali tersenyum lalu masuk ke dalam dimana ke empat orang itu terikat borgol saling membelakangi.


"brengsek......!"


ucap Ali menendang seorang yang menendang zira.

__ADS_1


"beruntung Istri dan anakku baik baik saja, kalau tidak aku mungkin akan membunuh kalian dan bangkai kalian Aku lempar ke penakaran buaya."


ke empat pria itu langsung tercenung dengan wajah pucat.


"siapa yang menyuruh kalian?"


Ali kembali menendang salah satu diantara mereka yang tidak bersuara.


"siapa?"


teriak Ali dengan geram menggema di ruangan itu.


"aku tanya sekali lagi, siapa yang menyuruh kalian mencelakai istri ku?"


tanya Ali dengan nafas memburu.


Ali mengepal kan tangan nya saat tak ada jawaban dari ke empat pria itu.


"karena kalian diam maka aku akan menyuruh beberapa anjing untung menghabisi kalian disini...!"


terdengar beberapa anjing melolong di luar.


"jangan tuan......kami minta maaf!"


ucap salah seorang.


"lalu siapa yang menyuruh kalian?"


tanya Ali lagi menatap dengan tajam ke arah mereka.


"Gisel yang meminta kami mencelakai istri anda....!" satu tinju mendarat di wajah salah seorang dari ke empat orang itu, Ali benar benar marah dan memberikan mereka pelajaran hingga mereka mengaduh.


"sialan Gisel......!"


"telpon polisi dan serahkan ke empat orang itu ke polisi... biarkan mereka yang memproses nya, dan cari Gisel sampai ketemu...."


Ali yakin setelah ini Gisel pasti kabur, tak menyangka Gisel sejahat itu persis Niko.


"biarkan nanti Kakek yang urus, Kamu pulang saja. kasian zira kamu tinggal..."


ujar Wisnu, namun Ali berpikir untuk menemui Sri yang saat ini sudah pulang ke rumah, hanya Alena dan Toni yang menginap di hotel.


"Ali mau ketemu sama mommy dulu!"


ujar Ali melangkah meninggalkan Wisnu dan anak buahnya.


"apa yang akan kamu bicarakan Al?"


tanya Wisnu menghentikan langkah Ali yang baru sampai pintu.


"jika kamu ingin bertanya mengapa mommy mu bersikap seperti itu pada zira, sebaiknya kamu urung kan karena yang saat ini harus kamu lakukan adalah berdoa agar Tuhan meluluhkan hati mommy mu..."


Ali tertegun mendengar penuturan Wisnu.


"kakek tahu, tak seharusnya mommy mu bersikap seperti itu, tapi dari dulu dia selalu memakai logika... jadi doa kan agar mommy mu tak sekeras batu, harus kamu tahu lama kelamaan batu juga akan berlubang seiring kucuran air yang terus mengenai nya..."


Ali semakin tertegun...


"saat ini yang harus kamu lakukan adalah bersabar karena walaupun Zira menjadi tanggung jawab mu di dunia dan akhirat namun surga mu tetap berada di telapak kaki ibu mu..."

__ADS_1


"ya kek...!"


jawab ali singkat lalu pergi meninggalkan rumah itu.


**


indah dan Wijaya mendatangi kediaman Ali, indah merasa khawatir saat mendengar cerita dari Wijaya tentang kejadian yang menimpa zira.


"assalamualaikum...."


indah masuk ke dalam rumah bersama Wijaya, terlihat zira tengah makan bersama Nadia


"Bu indah, pak Wijaya....ayo masuk!"


titah zira beranjak dari duduknya menghampiri kedua nya kemudian mencium tangan mereka bergantian.


"Zira Kamu baik baik saja?"


tanya indah menilik keseluruhan zira dari atas sampai bawah.


"baik, Alhamdulillah....ayo ikut makan, bang Ali sedang keluar. entah kemana?"


Wijaya mengangguk, ia tahu kemana putra nya itu.


mereka berjalan ke arah meja makan yang sudah tersaji beberapa menu makanan.


"makan Bu, pak..."


sapa Nadia sambil tersenyum.


"ya..... terima kasih!"


Nadia memperhatikan indah yang tampak ramah dan dekat dengan zira.


"kamu sudah selesai makan nya Ra?"


tanya indah sambil menuangkan makanan.


"sedikit lagi....!"


jawab zira duduk di hadapan keduanya.


"ibu khawatir waktu denger cerita kamu dari papih.... syukurlah kamu baik baik saja, kamu hebat bisa silat....!"


"ya, sebelum ke Jakarta zira belajar silat sama bapak karena beliau khawatir dengan kondisi Jakarta yang rawan kejahatan, itu terjadi setelah bang ali menghilang..."


Jawab zira menunduk karena merasa sungkan ada Wijaya di hadapan nya.


"ya kamu hebat zira, kalau orang lain mungkin udah di culik apa lagi perempuan nya secantik kamu...!"


Tutur indah sambil terkekeh, Zira hanya tersenyum kecil sambil mengingat Sri, kenapa Sri tidak seperti indah yang mau menerima nya dengan tangan terbuka.


"terima kasih ya, pak Wijaya dan Bu indah mau menerima zira apa adanya, tidak membenci zira seperti....!"


zira menunduk, Wijaya sendiri paham maksud zira yang langsung beraut pilu.


"ya, zira kamu sabar ya... dengarkan pepatah bijak dari Al habib Ummar bin hafidz.


sebenci apa pun manusia kepada mu, jika engkau berada dalam ketaatan, maka lambat Laun kebencian itu akan berubah menjadi kecintaan, saat ini yang harus kamu lakukan adalah bersabar dan ikhlas dengan segala sesuatu yang Tuhan rencana kan untuk kita..."

__ADS_1


Ali yang baru saja datang tak sengaja mendengar penuturan Indah, wanita yang sudah merebut Dady nya, namun justru indah yang memberikan motivasi untuk zira, keduanya juga terlihat akrab.


bersambung...


__ADS_2