terpikat pria tampan amnesia

terpikat pria tampan amnesia
tawa dan air mata.


__ADS_3

Beberapa waktu berlalu, Ali semakin sibuk.


keberadaan Zira di rumah itu seperti pembantu, membereskan rumah mengepel lantai dan yang lain nya.


zira tak mempersoalkan itu semua karena ia juga biasa melakukan pekerjaan itu, sementara Ali tak pernah tahu soal itu.


ia cukup tahu diri siapa dirinya di rumah itu, ia bisa saja melawan Sri tapi itu bukan dirinya.


ia lebih memilih mengalah dan menghindari Sri ketimbang menentangnya.


Zira tersenyum mengusap perut nya yang sedikit buncit.


"sayang, utun bunda kuat ya!


kamu enggak manja, dengan cepat kamu beradaptasi dengan keadaan ini...


utun, maafkan bunda ya kalau kamu capek dan kurang istirahat karena bunda banyak beraktivitas, tapi kata dokter bunda memang harus banyak bergerak!"


Zira menguap karena mengantuk, untung lah para pembantu begitu baik tak menuruti semua perintah Sri untuk memberi nya banyak pekerjaan, Bu vio sebagai ketua pembantu di rumah itu dengan rata membagi pekerjaan hingga semua terasa ringan.


Rahel juga selalu membantu nya, zira hanya memiliki istirahat sebentar hingga waktu malam ia benar-benar gunakan untuk istirahat bahkan ia tidak tahu jam berapa Ali pulang, hanya ucapan maaf yang terus terlontar di bibir suami nya itu.


Ali masuk ke dalam kamar dan melihat zira sudah terlelap padahal waktu menunjukkan pukul delapan malam.


"sayang......!"


Ali mendekati zira yang terlelap dalam tidurnya, terdengar dengkuran halus dari istri nya itu.


"sayang.....!"


Ali mencium pipi zira Beberapa kali, ia begitu merindukan istrinya itu.


"hm...."


perlahan zira membuka mata nya, terlihat Ali tersenyum pada nya.


"kamu kok udah tidur sih, ini kan masih sore!"


tanya Ali membuat zira tertegun.


"kamu abis ngapain sih tadi siang, kok kaya nya capek gitu!?"


Zira memalingkan wajahnya dari Ali.


"aku enggak ngapain apa apa kok!"


jawab zira tak berbicara jujur pada Ali.


**


"awas kalau kamu berani bilang sama Ali, aku pastikan kalian akan berpisah?!"


ancam Sri pada Zira kala itu, zira tak ingin berpisah dari Ali meski ia hanya di anggap pembantu di rumah itu, sejujurnya sakit tapi zira mencoba untuk sabar menghadapi ibu mertua nya itu.


beberapa waktu yang lalu Ahmad datang dan untungnya saat itu Sri tengah keluar jadi Ahmad tak berpikir macam-macam pada nya, rencana pernikahan Reza sekitar tiga bulan yang akan datang.


berbeda dengan Alena yang tinggal menunggu beberapa Minggu yang akan datang, kini keduanya tengah sibuk mempersiapkan semua nya.


Toni juga sudah kembali ke kantor atas permintaan Ali untuk membantu nya seperti semula.


*


"kami sudah makan de?"


tanya Ali dan zira mengangguk.


"sama siapa, mommy?"


tanya Ali lagi.


zira akan makan bersama pembantu jika tak ada Ali di rumah, Sri tak mengizinkan nya duduk di kursi meja makan tersebut.

__ADS_1


"zira makan sama Rahel dan Bu Vio, mereka itu baik...zira lebih akrab dengan mereka!"


jawab zira menunduk.


"ya sudah enggak apa-apa, yang terpenting kamu udah makan!"


ucap Ali mengusap kepala istri nya.


ke esok kan hari nya......


pagi pagi sekali Ali sudah berangkat kerja, ia hendak pergi meninjau lokasi pembangunan hotel yang akan segera di bangun.


zira menghampiri Rahel yang tengah membereskan bagian samping rumah.


"aku bantu ya hel....!"


ujar zira tersenyum.


"enggak capek? kenapa sih enggak ngadu aja sama pak Ali non?"


tanya Rahel.


"enggak, aku biasa melakukan pekerjaan seperti ini....!"


jawab zira mengelap kaca pajangan yang sedikit berdebu, Sri melenggang melewati mereka berdua.


"hm, nenek sihir!"


ucap Rahel saat Sri sudah naik ke dalam mobil.


"berani enggak bilang ada orang nya...?"


tanya zira terkekeh kecil, sebenarnya ia juga lelah tapi berdiam diri juga membuat nya bosan, salah jika Sri berpikir zira akan mengeluh karena keadaan itu bagi zira hal yang biasa.


banyak yang mengatakan bahwa tak enak tinggal dengan mertua, mungkin hal itu yang tengah zira rasakan tapi ia bisa apa karena ia tidak ingin berpisah dengan Ali, ancaman Sri bukan main main.


"nanti siang aku mau ke supermarket, kamu mau ikut enggak?"


tanya Rahel.


giliran weekend malah tidur!"


jawab Zira senyum, mencoba memahami keadaan suaminya yang lelah dengan tidak banyak menuntut.


"ya udah, nanti kita pergi berdua ya di antar supir!"


ujar Rahel senyum.


di saat Tuhan menghadirkan orang seperti Sri dalam hidup nya, Tuhan juga menghadirkan orang orang baik di sekitar nya.


seperti hal nya tawa dan air mata yang akan selalu berdampingan datang silih berganti.


siang itu Zira dan Rahel pergi ke supermarket untuk membeli bahan makanan yang sudah habis, senyum tersungging di bibir Zira saat masuk ke dalam mall tersebut.


sudah lama sekali ia tidak pergi jalan jalan keluar, jenuh tapi ali sibuk dan kasihan jika zira banyak menuntut.


Rahel dan zira memasukkan beberapa bahan makanan ke dalam troli belanja, Rahel tersenyum melihat Zira yang tampak semangat hingga keduanya selesai berbelanja.


"hel...aku ke toilet sebentar ya!"


tiba tiba ia merasa ingin buang air kecil.


"ya sudah, aku antar kamu ya!"


ucap Rahel lalu menyuruh supir membawa belanjaan ke mobil.


kedua berjalan beriringan menuju toilet, zira masuk bersama Rahel dengan berbeda ruangan.


"aku agak lama, kamu duluan ya non...!"


ucap Rahel mengeraskan suara nya.

__ADS_1


"ya ...."


jawab zira singkat lalu keluar dari kamar mandi, namun karena lantai licin membuat zira hampir terjengkang karena terpeleset namun seseorang menahan tubuhnya.


"kamu tidak apa apa...?"


tanya seorang perempuan yang seperti seumur dengan Rumi ibunya.


"enggak apa-apa, terima kasih Bu!"


ucap zira sedikit membungkuk.


"ya, kamu sedang hamil?"


tanya perempuan itu.


"ya, saya sedang hamil....!"


"kamu sendirian? lain kali hati hati ya!"


ucap wanita itu tersenyum, tak lama Rahel keluar.


"kenapa Ra?" tanya Rahel.


"mm ...aku kepeleset...!"jawab zira membuat Rahel tercengang.


"kamu enggak apa-apa kan?"


Zira menggeleng cepat.


"untung ada ibu ini...!"


ujar zira menoleh pada wanita itu.


"kebetulan saja!"


"terima kasih Bu!" ucap Zira lagi lalu ketiga nya berjalan keluar dari toilet, Rahel menghentikan langkahnya saat melihat Wijaya menuggu bersama seorang anak tak jauh dari toilet.


"pak Wijaya....?"


ucap Rahel.


"Rahel ngapain kamu disini?"


tanya Wijaya masih ingat dengan salah satu pembantu di rumah Sri.


"belanja pak...."


"dia ini pembantu di rumah Sri, Bun!"


ucap Wijaya pada indah yang ternyata istri Wijaya, perempuan itu sudah menolong zira.


"oh ini istri pak Wijaya?"


tanya Rahel.


Wijaya mengangguk.


"beliau sudah menolong non zira? terima kasih Bu?"


ucap Rahel kemudian menyodorkan zira.


"ini istri nya pak Ali?"


ujar Rahel membuat Wijaya tertegun.


beberapa waktu yang lalu Ali pernah menemui nya dan berbicara sebentar.


"Ali tahu seperti apa mommy? tapi tetap saja Ali tidak suka Dady menyakiti mommy, bahkan tak segan segan Dady mencerai kan mommy demi perempuan itu?"


"ya itu terjadi karena perempuan itu jauh lebih baik dari mommy mu....!"

__ADS_1


ucap Wijaya langsung pergi meninggalkan Ali.


bersambung.........


__ADS_2