terpikat pria tampan amnesia

terpikat pria tampan amnesia
terluka...


__ADS_3

Zira tersenyum menatap matahari yang terbit namun terhalang oleh awan hingga menciptakan semburat jingga, keadaan nya sudah jauh lebih baik setelah dua hari ini istirahat di rumah, Nadia juga mengantar nya berobat ke klinik yang menjadi rujukan perusahaan.


selain gajih yang besar perusahaan itu juga menjamin semua kesehatan karyawan nya.


"zira.... siap berangkat belum?"


teriak Nadia dari luar, tiap pulang kerja Nadia rutin menceritakan CEO yang sudah kembali ke perusahaan setelah fakum selama satu tahun ini.


"udah siap...!"


zira keluar dari kamar sudah rapih namun kali ini gadis itu polos tanpa make up tapi zira tetap cantik.


"tumben sih enggak dandan....!"


tanya Nadia sembari merangkul pundak zira untuk turun ke bawah, Nadia begitu semangat.


"malas Nad, aku jadi buronan pak Zaki sama pak Toni....!"


zira terkekeh melihat ekspresi wajah Nadia yang langsung menganga.


"orang cantik enggak perlu dandan juga tetap cantik....!"


"HM... narsis abis, bangun dari sakit ternyata makin tinggi rasa percaya diri nya....!"


zira tertawa kecil mendengar penuturan Nadia sambil memainkan bibir nya yang merah itu.


"siap siap aja lah......!"


"kenapa?"tanya Nadia.


"enggak, malas ketemu Bu Nina yang super cantik itu!"


ujar zira naik ke atas motor milik Nadia, sepekan lagi menuju akhir bulan seperti nya ia akan cabut dari perusahaan.


kemarin zira sudah mendapatkan info bahwa ia sudah di terima kerja di salah satu sekolah SD negeri di kota itu, seperti di kampung ia akan mulai mengajar meski gajih nya tak sebesar di perusahaan itu namun zira berharap bisa nyaman di tempat yang baru.


Nadia terus menepikan motor nya saat sebuah mobil terus mengikuti mereka, saat di persimpangan mobil tersebut menghentikan laju motornya.


"ada apa nad?"


tanya zira yang tak sadar bahwa mereka di ikuti


"enggak tahu, tuh mobil ngehalangin kita!"

__ADS_1


Seorang pria tua turun dari mobil menghampiri kedua wanita itu, Nadia dan zira terpaku menatap pria tua itu, zira merasa tak asing dengan pria tua itu, seperti nya pernah bertemu tapi lupa dimana.


"ini pak Wisnu, ingin bicara empat mata dengan nona zira.."


ujar seorang pria yang berada di samping pria itu.


zira merapatkan barisan, jujur ia takut.


"jangan takut, kita bicara di kafe yang berada di depan....nona Nadia juga boleh ikut!"


"tapi ada apa?"


tanya zira langsung menatap pria tua itu.


"lebih baik kita bicara di sana saja"


Zira dan Nadia saling pandang mendengar penuturan Asisten Wisnu.


"tapi kita akan kesiangan nanti!"


sahut Nadia menilik jam di tangan nya.


"jangan khawatir itu urusan kami....!


karena kalian bekerja di perusahaan milik tuan kami!"


Wisnu meminta berbicara berdua dengan zira, sementara Nadia duduk agak jauh dari mereka.


Nadia memperhatikan zira yang berbicara serius dengan pemilik perusahaan, dalam benak nya terus bertanya masalah apa yang tengah zira hadapi hingga pemilik perusahaan mendatangi nya langsung, apa masalah kemarin Nindy tapi masa iya sampai ke telinga pak Wisnu.


dua puluh Menit kemudian, Nadia melihat zira beranjak dari duduknya, membungkuk pada Wisnu Lalu mengambil masker dan kaca mata yang di berikan oleh asisten Wisnu.


Nadia beranjak saat zira menghampiri nya, Nadia melihat air mata mengenang di pelupuk matanya, kesedihan terpancar dari netra milik sahabat nya itu.


"ada apa Ra?" tanya Nadia menyentuh pundak zira.


"kita berangkat sekarang saja karena kalau aku cerita sekarang kita pasti kesiangan!"


zira melangkah, menoleh sekilas ke arah Wisnu yang masih duduk di kursi sambil memperhatikan nya.


Nadia menurut mengikuti langkah zira, meski berbagai pertanyaan melingkupi benaknya.


pagi itu Ali sampai di kantor bertepatan dengan zira dan Nadia yang sampai di parkiran.

__ADS_1


zira merasa jantungnya berdetak kencang, lutut nya lemas menatap pria yang sudah lama ia cari dan nanti kedatangan nya, namun langit cerah berubah mendung seperti hati nya.


"saya Wisnu, saya adalah Kakek dari pria yang kamu tolong saat di kampung... terimakasih untuk semua kebaikan kamu, saya pasti akan memberikan kamu hadiah namun saya minta maaf kalau keluarga kami tidak bisa menerima kamu.."


penuturan Wisnu memutar-mutar di benak nya.


zira membalikkan tubuhnya saat Ali menoleh ke arah nya....


"saya tahu semua dari Ali, nama nya Ali...dia cucu kesayangan saya, saya tidak menyangka jika selama hilang Ali atau hilang ingatan dia berada di peternakan milik keluarga kami....


Ali juga CEO di perusahaan tempat kamu bekerja, saya minta kamu untuk mundur dari pertunangan itu, saya meminta sebelum kamu berurusan dengan Sri yang jauh lebih garang dalam menyikapi masalah ini, cinta hanya soal waktu..... saya meminta baik baik sama kamu, tolong lupakan semua yang pernah terjadi di antara kalian karena Ali juga sudah dijodohkan oleh Sri, saya tidak ingin kamu dapat masalah karena berurusan dengan Sri...apa kamu paham?"


tanya Wisnu hati hati, sebenarnya Wisnu bisa saja menerima zira tapi Wisnu paham bagaimana Sri. karena istri nya juga dari desa dimana peternakan itu ada.


Zira Hanya mengangguk, seperti yang dikatakan oleh Reza bahwa ia harus siap dengan segala kemungkinan yang ada saat tahu sosok pria amnesia itu.


"saya akan berhenti dari perusahaan milik bapak, tapi beri saya waktu sampai akhir bulan ini...."


Hanya itu jawaban dari zira, ia tak harus mengatakan bahwa ia terluka dengan semua kenyataan ini.


"baiklah .. tapi saya minta bantuan kamu untuk tidak menampakkan diri di hadapan Ali, dan pakailah masker serta kaca mata ini...."


zira tertegun menatap dua benda yang sodorkan oleh asisten Wisnu.


"dan ini hadiah untuk mu.."


"tidak terima kasih, saya menolong siapa pun tanpa mengharapkan imbalan..."


zira beranjak membungkuk mengambil masker dan kaca mata yang menjadi amanah yang menyakitkan.


zira berjalan di belakang Nadia dengan gontai, rasa sakit itu kian menjadi hingga rasanya ingin sekali tak sadarkan diri, berharap kalau dia amnesia dan melupakan sosok yang begitu ia cintai ternyata keadaan jauh berbeda, ia dan Ali bagaikan langit dan bumi.


Di perusahaan ini saja, dia berada dalam posisi paling rendah sementara Ali berada di posisi teratas, lalu apa lagi yang di harapkan.


bahkan keluarga nya langsung menentang hubungan mereka berdua.


"Ra, kamu baik baik saja kan...?"


tanya Nadia yang belum mengetahui masalah yang sesungguhnya.


"ya aku baik baik saja kamu tidak perlu khawatir...!"


Zira langsung membawa peralatan kerja nya, bahkan ia membiarkan Nina mengoceh sendiri.

__ADS_1


Nina tertegun melihat zira yang bungkam, tak biasa nya zira diam, biasanya zira akan menyahut namun untuk kali ini raga nya memang berada di tempat itu namun jiwa nya meronta meminta pulang dan Ingin sekali menangis meraung dengan keras meratapi kesakitan nya.


bersambung..........


__ADS_2