
Sri bergegas terbang ke Jerman saat Wisnu menelpon nya, memberi tahu kalau Ali sudah sadar.
Ali tertegun menatap langit yang biru, ia sangat merindukan gadis itu.
namun sesuai saran dokter ia harus menjalani terapi hingga keadaan nya benar-benar sembuh, Ali mengingat malam dimana ia dan Reza berkelahi dengan orang orang suruhan Niko, meski Niko sudah mendekam di penjara namun Ali tahu seperti apa Niko, Ali khawatir kalau Niko nanti mengincar zira.
"sayang......"
panggil Sri masuk ke dalam ruangan langsung memeluk Ali yang membeku.
menatap wanita yang sudah melahirkan nya namun jarang sekali berada di samping nya, Sri selalu sibuk dengan pekerjaan nya, netra nya beralih pada sosok ayah yang juga tak begitu dekat nya, Wijaya juga sama seperti Sri, sibuk tak pernah sedikitpun ada waktu untuk mereka berdua.
"sayang, kamu sudah sadar! mommy senang sekali mendengar nya...!"
ucap Sri mengusap rambut Ali yang gondrong.
suster mengatakan hanya Wisnu yang menemani nya selama koma, tidak ada yang lain.
Ali diam tak menjawab penuturan Sri, saat ini ia hanya ingin segera pulang ke Indonesia dan bergegas menemui kekasihnya itu.
"sayang, kenapa kamu diam!?
kamu marah sama mommy dan Dady...?"
tanya Wijaya mendekat.
Ali menggeleng kan kepala nya.
"maaf kan kami ya baru datang...!"
ucap Wijaya, sadar bahwa selama ini ia Kurang memperhatikan putra sulung nya itu.
"tapi mommy udah siapkan kamu calon istri, mommy enggak suka kamu berhubungan dengan model yang Citra nya buruk itu, siapa namanya mommy lupa!"
ucap Sri membuat Ali termenung mengingat wanita yang pernah sedikit memberi warna namun juga hampir membuat nya kehilangan nyawa.
"Ali sudah punya calon istri, bahkan Ali sudah bertunangan dengan kekasih Ali. jadi simpan semua rencana mommy....!"
"siapa?"
tanya Sri.
"yang pasti bukan Gisel...!"
ucap Ali lalu meringkuk membelakangi kedua nya, Sri dan Wijaya tertegun melihat sikap dingin dari sulungnya itu.
"sudah, jangan ganggu Ali. dia masih dalam proses penyembuhan, jangan bicarakan sesuatu yang tidak perlu di bicarakan sekarang!"
ucap Wisnu duduk di sofa menatap kedua pasutri yang membeku sejenak lalu pergi keluar meninggalkan Ali yang memejamkan matanya.
tak berapa lama pintu kembali diketuk, Toni tersenyum menyembul masuk ke dalam ruangan.
"assalamualaikum kek...!"
tutur Toni membuat Ali langsung menoleh.
"walaikumsalam.......!"
"Al ...gue kangen banget sama Lo? kemana aja sih Lo Al?"
ucap Toni memeluk sahabat sekaligus rekan kerja nya.
"gue juga kangen... sorry bikin Lo repot di perusahaan?!"
ucap Ali senyum, Wisnu cerita kalau Toni yang membantu mengurus selama ia hilang dan terbaring di rumah sakit.
__ADS_1
"seneng banget waktu dengar kamu udah sadar!"
ucap Toni duduk di tepi ranjang, Wisnu hanya tersenyum melihat interaksi keduanya.
"gue ikut cari lo waktu hilang, sebenernya kemana sih selama enam bulan itu?!"
tanya Toni.
"cari cinta sejati gue, sekarang gue malah Ninggalin dia....!"
ucap Ali menunduk.
"siapa perempuan itu Al, biar gue bawa dia kesini...atau Lo bisa hubungin dia sekarang!"
ucap Toni, keduanya bersahabat sejak kecil bahkan hubungan sudah seperti kakak adik.
"gue lupa nomor telepon nya, dia cuma gadis desa tapi dia yang pertama mengenal kan gue dengan cinta.....gue udah tunangan Sama dia, ton...gue udah rencana untuk menikah dengan nya....!"
"enggak mommy enggak setuju, bisa bisa nya sih kamu jatuh cinta sama perempuan kampung, mommy sudah menyiapkan yang sepadan dengan keluarga kita..!"
ucap Sri yang tak sengaja mendengar obrolan kedua nya, Sri menatap Ali tak suka lalu pergi Meninggalkan Ali dan Toni yang mematung menatap pintu yang kemudian tertutup.
"bahaya Al kalau begitu ceritanya, nyokap Lo menentang...sekarang Lo sembuh aja dulu setelah itu Lo bisa temui dia....!"
ucap Toni, Ali mengangguk kecil tak menghiraukan ucapan Sri, Ali tetap pada pendiriannya bahwa ia hanya akan menikah dengan zira, kekasih nya.
tentu saja Sri tidak Tinggal diam, ia akan mencari tahu siapa perempuan yang dekat dengan Ali saat di peternakan.
***
pagi itu zira merasa tidak enak badan, rasanya malas sekali pergi bekerja, jengah dengan Nina yang selalu mengomeli nya.
zira menoleh ke arah ponsel yang berdering terlihat Ahmad menghubungi nya.
ucap zira sambil tersenyum.
"walaikumsalam...nak, bagaimana kabar mu..."
tanya Ahmad merindukan putri nya itu.
sore itu sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah Ahmad.
Ahmad menoleh pada seorang pria yang berjas hitam, dengan gagah.
"Yuda...."
gumam Ahmad tak percaya melihat sulung nya yang datang dengan keadaan berbeda.
"assalamualaikum.."
Tutur Yuda di depan pintu.
"walaikumsalam..., Yuda"
ucap Ahmad langsung memeluk putra nya itu.
"kamu Yuda anak bapak sama ibu??"
tanya Ahmad menatap Yuda yang mengangguk.
datang Rumi yang dari pasar, ia juga menilik mobil yang terparkir di depan rumah nya.
"assalamualaikum....!"
ucap Rumi terpaku menatap Yuda yang merentang tangan nya.
__ADS_1
"ibu....!"
"Yuda.....!"
ucap Rumi memeluk Yuda sambil terisak.
"ini anak ibu....?"
"ya, ini Yuda anak ibu...mana ia bu? zira?"
tanya Yuda, ia adalah panggilan sayang Yuda pada adiknya itu.
"zira di Jakarta!"
ucap Ahmad lalu menceritakan semuanya pada Yuda tentang pria amnesia yang menjadi calon Suami zira.
"astaga...pak, Bu ikut dengan Yuda ke Malaysia, kita tinggal di sana! ajak zira juga!"
ucap Ahmad merasa iba mendengar apa yang terjadi dengan keluarga nya.
"bapak tidak tahu, zira mau atau tidak yud, dia sedang mencari pria itu?"
ujar Ahmad mengingat zira yang sebenarnya ke Jakarta memang untuk mencari pria amnesia itu, Ahmad juga memanggil Reza untuk menceritakan kejadian lalu pada Yuda.
"kasihan Zira, paman Juga tidak Bisa berbuat banyak...!"
ucap Reza.
"ya, Yuda Juga paham. terimakasih sudah menjaga keluarga Yuda Paman!"
"ya, kita kan saudara.... Paman bangga sekarang kamu sudah sukses dan tidak melupakan kami!"
"Mana mungkin aku melupakan Kalian, karena zira juga aku bisa seperti ini!"
ucap Yuda menceritakan tentang gelang emas putih milik zira yang ia gadaikan untuk modal usahanya.
"gelang emas putih..!"
tanya Ahmad.
"ya, ini milik zira! dan harganya lumayan mahal. Yuda menggadaikan mas putih ini untuk modal usaha hingga bisa seperti sekarang!"
ucap Yuda memperlihatkan emas putih yang berada pada kotak persegi empat, sengaja ia bawa untuk ia kembali kan pada zira.
"ya sudah hubungi zira pak, katakan Yuda datang untuk menjemput kalian ke Malaysia!"
tutur Yuda.
Rumi terdiam memikirkan dari mana zira mendapatkan emas putih itu, selama ini zira tak pernah cerita apa pun pada nya.
zira tertegun saat mendengar Ahmad menceritakan kedatangan Yuda untuk menjemput mereka pergi.
"kamu ikut kami ya nak...!"
tanya Ahmad di telpon.
"ya, zira senang mendengar hal itu tapi zira belum bisa pergi, bapak sama ibu saja!"
"kenapa nak... apa kamu masih menunggunya?"
"ya, pak beri waktu zira dua bulan lagi. setelah itu zira akan menyerah jika si Abang tetap tidak ada kabar....!"
bersambung....
terimakasih ya yang sudah mampir, jangan lupa like dan komentar ya😍😍
__ADS_1