terpikat pria tampan amnesia

terpikat pria tampan amnesia
kakak beradik.


__ADS_3

Sebelum berangkat ke Malaysia Ahmad terlebih dulu mengurus pekerjaan nya yang memang sudah habis masa jabatannya.


selain itu Ahmad dan Rumi juga harus mengurusi paspor dan yang lainnya.


beberapa hari berlalu, kini Ahmad dan Rumi tengah bersiap-siap untuk pergi, Reza sudah menunggu di depan rumah.


"tolong tengok Rumah ini kalau kamu tidak sibuk di peternakan ya, aku sama Rumi pergi dulu!"


ucap Ahmad pamit pada Reza.


"ya, kak nanti aku akan sering sering tengok, rencananya berapa lama kak?"


"mm,, belum tahu bagaimana nanti saja!"


ucap Ahmad lalu berpelukan dengan Reza.


"ya sudah kak nanti kabari saja!"


Ahmad mengangguk, lalu mereka berpamitan.


banyak warga yang membicarakan tentang kesuksesan Yuda di negeri tetangga, karena hal itu kini Rumi tak lagi di pandang sebelah mata oleh tetangga yang biasa mencibir.


"sebelum kita ke bandara ibu mau mampir ke tempat kosan zira dulu ya yud...!"


ucap Rumi saat naik ke dalam mobil mewah tersebut.


"ya Bu, nanti kita mampir dulu ke kosan zira, Yuda juga kangen sekali dengan anak itu."


ucap Yuda sambil menyetir mobilnya.


Beberapa jam kemudian, sore itu mereka sampai di Jakarta. Rumi memperhatikan sekeliling kota Jakarta yang penuh dengan bangunan tinggi, untuk pertama kalinya Rumi menginjak kota itu karena saat wisuda hanya Ahmad dan Reza yang datang.


"rame ya pak, bangunan nya tinggi tinggi..."


ucap Rumi senyum.


"ya Bu ini lah kota metropolitan, zira dulu cukup lama tinggal di sini"


"ya, ibu berharap dia juga jadi orang sukses seperti kamu yud..."


"amin... Bu"


Tutur Yuda lalu masuk ke dalam gang dimana kosan zira berada.


gegas Ahmad menghubungi putri nya itu.


Zira yang baru sampai di kosan, terlelap karena lelah dan tak mendengar suara ponsel jadul nya berbunyi.


"bagaimana pak...?"


tanya Yuda.


"tidak ada jawaban, kita langsung ke kosan nya saja!"


ucap Ahmad lalu turun saat sampai di gerbang kosan tersebut.


"parkir di sini saja tidak apa apa ya?"


tanya Yuda.


"ya, kita tidak akan lama ini....!"


ucap Ahmad, dela yang melihat kedatangan mereka bergegas menghampiri.


"assalamualaikum...!"


"walaikumsalam......keluarga nya zira ya?"


ucap dela dengan ramah.


"ya zira sudah pulang belum ya, saya hubungi kok enggak di angkat...!"


tanya Ahmad.

__ADS_1


"sudah pulang barusan, mungkin sedang mandi!"


"oh, ya kenal kan ini Yuda kakak nya zira, dan ini ibunya...!"


ucap Ahmad lalu mereka berkenalan.


"ya sudah naik ke atas saja pak, Bu!"


titah dela lalu mereka naik menuju kamar zira.


"assalamualaikum...zira..?"


panggil Rumi dari luar.


Zira tercenung saat mendengar seseorang memanggil, gegas ia beranjak dan membuka pintu.


"walaikumsalam......ibu, bapak, Abang!"


ucap zira memeluk mereka.


"kenapa enggak telpon?"


"Udah, tapi enggak di angkat..!"


ujar Ahmad menilik anak gadis nya itu tampak lelah.


"ya zira baru pulang terus ketiduran pak.!"


tutur zira menggiring mereka untuk masuk dan duduk di bawah.


"kamu pasti capek ya ndo?"


tanya Rumi menatap zira dengan sayang.


"ya namanya juga kerja Bu, tapi zira senang ko kerja di tempat itu gajih nya juga besar!"


dua bulan bekerja di perusahaan itu, zira juga pernah mengirim kan uang untuk keluarga nya di kampung.


"ya ibu tahu, tapi lihat Kamu tuh sekarang kurus sekali nak..."


tanya zira senyum beralih menatap sang Abang.


"Alhamdulillah udah jadi orang sukses!"


kata zira pada Yuda yang sejak tadi menatap nya.


"Alhamdulillah berkat kamu de...ini Abang kembali kan gelang nya!"


ucap yuda memberikan sebuah kota persegi.


"kamu kok punya barang itu Ra...?"


tanya Rumi.


"ya Bu, ini dari siapa ya zira Juga bingung karena dulu zira menemukan gelang ini sudah berada di tangan zira bu.."


"kamu dapat di mana?"


"di peternakan Bu, zira waktu itu tidur sebentar setelah jual susu pas bangun gelang ini udah ada di tangan zira, udah coba tanya ke Bu Tati juga."


"lalu apa kata Bu Tati...?"


Ahmad dan Yuda mendengar kan dengan seksama.


"ibu Tati enggak tahu, terus di peternakan itu tidak ada emas atau uang. Bu Tati bilang Ambil dan rawat saja"


Zira mengingat hari dimana gelang itu tiba tiba melingkar pada tangan nya yang kecil.


"ambil dan rawat saja Ra, itu rezeki kamu.


siapa tahu nanti kamu butuh!"


padahal Tati tahu bahwa Ali lah yang memberikan gelang itu, Ali menitip kan zira pada Tati, hanya sayang Tati pindah setelah suaminya meninggal.

__ADS_1


Tati adalah orang pertama yang mengetahui bahwa Ali jatuh cinta pada gadis penjual susu tersebut.


siapa sangka kejadian itu membawa Ali dekat dengan zira yang memang sudah lama menjadi pujaan nya.


"ya sudah kamu simpan saja de, emas itu memang kecil tapi lumayan hampir 20 karat."


Tutur Yuda.


"HM, yang benar bang!"


"ya itu asli emas tanpa campuran, aku yakin yang memberikan mu gelang itu bukan orang biasa seperti kita..."


Zira tertegun mendengar penuturan Yuda, dalam hati terus bertanya tanya siapa gerangan yang memberikan ia perhiasan itu.


"oh ya, Abang punya hadiah untuk kamu!?"


ucap Yuda lalu memberikan sebuah kotak berisi handphone baru.


"wah.... handphone baru Bu"


Rumi tersenyum melihat wajah itu berbinar.


"ya, jangan pakai handphone jadul terus"


ucap Yuda di tanggapi gelak tawa oleh Ahmad.


"terimakasih bang!"


"ya sama sama"


ucap Yuda, lalu mereka makan bersama, Rumi sengaja membawa makanan untuk mereka makan bersama sebelum berangkat.


"kamu yakin enggak mau ikut?"


tanya Yuda saat mereka selesai makan.


"nanti saja titip pesan saja untuk kakak ipar dan keponakan Ku, katakan aku rindu dan belum ada duit untuk memberikan mereka mainan...!"


tutur zira sambil nyengir.


"HM, dasar kau ini...!"


ucap Yuda merangkul leher adik nya itu.


"bapak bilang kamu jatuh cinta sama pria amnesia?!"


"ya....!"


jawab zira terkekeh kecil, Rumi dan Ahmad tersenyum memperhatikan interaksi antara kakak beradik itu.


"kok bisa kan enggak jelas asal-usulnya? cakep?"


tanya Yuda.


Zira mengangguk namun berbeda dengan Yuda yang menggelengkan kepalanya.


"apa sih yang memikat dari nya selain tampan?"


"baik...dia juga wangi dan....!"


ucap zira termangu menatap Rumi dan Ahmad Yang memperhatikan nya mengingat pria tampan amnesia itu.


"seharusnya zira nurut sama ibu!"


zira menunduk mengingat apa yang kini ia rasakan begitu memilukan, merindukan sosok yang entah dimana dan apakah masih bernafas, zira sendiri tidak tahu pasti.


Rumi menatap anak gadis nya itu, zira tak pernah mau melepaskan cincin pertunangan dari pria tampan amnesia itu, secepat itu zira terpikat dan jatuh cinta pada sosok tampan tanpa identitas itu.


"kamu enggak salah, ibu tahu kalau si Abang pria yang baik dan tulus sayang sama kamu!"


ucap Rumi lalu memeluk Zira yang langsung terisak.


bersambung..

__ADS_1


terima kasih yang sudah mampir 😍😍


__ADS_2