
waktu berlalu.........
pagi tadi Ahmad menelpon mengatakan bahwa mereka akan pergi ke Bandung untuk acara pernikahan Reza dan Nadia weekend yang akan datang.
tentu zira berantusias untuk ikut serta dalam acara tersebut, Kini usia kandungan nya menginjak tujuh bulan, perut buncitnya semakin terlihat seiring bertambahnya usia kandungan.
beberapa kali melakukan pemeriksaan USG, dokter bilang bayi mereka berjenis kelamin perempuan.
zira juga masih aktif mengajar di sekolah, namun untuk bulan yang akan datang Ali meminta nya untuk Risen.
dan soal Kasus Gisel, sudah di tangani oleh polisi, sebulan yang lalu polisi berhasil meringkus Gisel di persembunyian nya di daerah Sumatra, seketika karier nya hancur berantakan karena kasus tersebut, sempat meminta maaf dan meminta untuk menghentikan kasus itu namun Ali tidak mungkin menghentikan kasus itu karena Gisel hampir mencelakai orang tersayang nya.
**
malam ini keduanya tengah duduk berdua di ranjang, Ali tengah melanjutkan pekerjaan nya yang tertunda, memangku laptop dan membiarkan istrinya asik dengan ponsel dan cokelat yang berada di tangan kanan nya.
Ali menoleh lalu tersenyum menatap wajah cantik istri nya yang semakin cabi.
Ali menyimpan laptop nya di nakas lalu merangkul pundak istri nya agar bersandar pada nya.
"nanti Kita sekalian jalan jalan ke Bandung ya de... selama ini Abang selalu sibuk, belum pernah ajak kamu main...."
ucap Ali lalu mencium kepala istri nya.
"ya boleh bang...."
jawab zira senyum lalu menyimpan ponsel serta cokelat di nakas.
"kamu udah bilang mau Risen kan, Abang enggak mau kamu kelelahan... kandungan kamu juga kan tambah gede..."
zira mengangguk mengiyakan, besok hari terakhir nya mengajar, sebenarnya ia masih bisa melakukan aktivitas itu namun ia mencoba untuk menuruti keinginan suami nya itu.
Ali mengusap perut zira yang buncit, terlihat bayi mereka bergeser terasa oleh tangan Ali yang mengikuti pergerakan calon bayi mereka.
"lucu... udah kenal ayah nya, tahu aja kalau ayah nya pegang pasti langsung gerak gerak..."
ujar Ali terkekeh lalu merengkuh tubuh zira, menciumi pipi istri nya, zira hanya tersenyum menanggapi.
"udah enggak sabar menunggu kehadiran nya di tengah tengah kita...."
"ya, zira juga...kita belum cari namanya bang"
Zira membalikkan tubuhnya menghadap Ali.
"soal itu gampang, nanti Abang yang cari ya..."
__ADS_1
jawab Ali lalu mengajak zira untuk berbaring.
kedua nya tidur berhadapan saling memandang satu sama lain, Ali memang sibuk tapi ia tidak pernah pulang malam, ia lebih memilih membawa sisa pekerjaannya ke rumah dari pada harus pulang malam dan membiarkan istrinya sendiri.
zira memejamkan matanya saat Ali menciumi wajah nya, rasa candu yang tak pernah hilang justru Ali merasa rasa cinta itu kian bertambah seiring berjalannya waktu kebersamaan keduanya.
meski pernikahan nya belum mendapatkan restu namun keduanya mencoba untuk sabar, Sri sendiri kini memilih tinggal di luar negeri mengurus bisnis mereka yang berada di luar negeri, Sri dan Wijaya juga sudah resmi bercerai.
kini terang terangan Wijaya membawa indah ke berbagai acara dan mengenalkan indah ke kolega bisnis nya.
Ali sendiri tak pernah mempermasalahkan soal itu, karena setiap orang berhak mengambil keputusan dengan siapa ia bahagia.
***
pagi.....
Zira dan pembantu tengah mempersiapkan sarapan untuk mereka berdua, Ali sendiri tengah berolahraga di halaman rumah.
Zira memperhatikan Ali yang bermain basket sendiri di halaman tempat bermain basket, pria tampan itu penggemar bola basket.
Ali menghentikan permainan nya saat zira menghampiri sambil membawa sebotol air minum mineral.
"terima kasih..... udah cantik ya istri Abang"
ucap Ali menilik zira yang sudah rapi dengan seragam guru sekolah nya.
ajak zira masuk ke dalam rumah.
"udah bikin surat Risen nya....?"
tanya ali duduk di kursi.
"udah bang....!"
jawab zira menuangkan nasi goreng ke piring suami nya.
"terima kasih ya de!"
"apa? nasi goreng?"
tanya zira menatap wajah Ali yang berkeringat.
"terima kasih karena udah jadi istri yang nurut... padahal Abang tahu kamu masih mau ngajar, tapi Abang mau kamu fokus ke calon bayi kita..."
Ali meraih tangan Zira untuk duduk di pangkuan nya, hal yang selalu ali lakukan jika berbicara dengan istri nya.
__ADS_1
tak peduli dengan berat Zira yang semakin bertambah.
"Abang enggak mau kamu capek, udah berat bawa kandungan, harus ngajar juga.... kamu paham kan sayang?"
Zira mengangguk sambil tersenyum memeluk leher suaminya.
"makan....!"
titah ali menyuapi zira yang masih dalam pangkuan nya.
Zira merasa cukup dengan perlakuan Ali yang penuh kasih sayang dan cinta yang begitu besar untuk nya, ia tidak lagi memikirkan Sri yang tidak menganggap nya ada, yang terpenting bagi zira adalah Ali yang selalu menyayangi nya.
sebelum ke kantor Ali mengantar zira ke sekolah, terlihat indah juga baru datang di antar oleh Wijaya.
Ali memang menerima kehadiran indah di tengah tengah nya, namun Ali tak pernah bersikap hangat.
indah sendiri memahami hal itu, tak berharap banyak karena indah sendiri mengerti perasaan seorang anak yang broken home.
Ali memperhatikan Wijaya yang turun dari mobil, indah mendekap tubuh Wijaya lalu mencium tangannya.
Wijaya terlihat begitu menyayangi indah, perempuan cantik yang usianya lebih muda dari mommy nya.
"kenapa bang?"
tanya zira membuat Ali sedikit menoleh.
"jika suatu saat di antara kita ada yang berubah atau berkurang, aku berharap kita saling mengingatkan bukan berlari mencari ganti...aku tahu bagaimana dulu Dady begitu mencintai mommy, meski semua terjadi karena mommy yang berubah membuat Dady berpaling...."
zira tertegun mendengar hal itu, zira Paham perpisahan orang tua membawa luka tersembunyi untuk anak anak nya.
Ali masih ingat bagaimana raut wajah Sri saat putusan pengadilan keduanya resmi berpisah.
ada kesedihan yang Sri tutupi dengan sangat rapih bahkan Sri terlihat santai dan tenang dengan semua itu, Ali sengaja datang ke sidang terakhir putusan perceraian keduanya.
Alena sendiri saat itu tengah pergi berbulan madu bersama Toni ke Dubai.
"jangan pernah ada yang berubah atau pun berkurang, kita harus terus memupuk rasa cinta itu hingga terus tumbuh dan bertambah...."
jawab Zira mencium pipi Ali yang memejamkan matanya meresapi sentuhan penuh kasih dari istri nya itu.
"kamu benar..... jangan pernah berubah untuk mencintai ku, jangan pernah mengurangi rasa itu zira... karena aku juga sangat mencintai mu, perpecahan adalah hal yang menyakitkan...aku tidak akan pernah sanggup merasakan nya lagi... cukup orang tua ku...!"
Zira mengangguk lalu mendekap erat tubuh Ali.
bersambung....
__ADS_1
terima kasih yang sudah mampir 😍😍😍