
Zira tergugu saat tanah merah itu mulai menindih ruang kosong yang akan menghimpit putrinya yang berada di bawah tanah, hatinya remuk redam dengan air mata yang tak pernah berhenti mengalir di pipinya.
setelah ini Zira tidak tahu bagaimana menghadapi rasa rindu yang tak berpenghujung, zira luruh di tanah saat Putri nya tak lagi terlihat, Ali yang berada di bawah naik ke atas meraih tubuh zira yang lunglai tak bertenaga, jiwanya terus meronta menahan lara.
"Kahiyang.....!"
"ikhlas sayang.....!"
ujar Ali memeluk tubuh zira yang menyentuh gundukan tanah merah tersebut, putri nya kini terhimpit tak berdaya di dalam sana, sama halnya dirinya yang tak berdaya menerima kenyataan itu.
Beberapa kali zira mengusap batu nisan yang terukir nama putrinya, entah sudah berapa banyak air mata yang keluar namun ta sedikit pun mengurangi kesakitan nya karena kehilangan.
Ali menyandarkan kepala zira di pundak nya, bersama sama mendoakan Kahiyang yang sudah tenang di peristirahatan terakhir nya.
"Kahiyang, bunda berharap ini hanya mimpi, bunda berharap secepatnya terbangun dari tidur agar bunda bisa memeluk mu dengan erat..... kenapa secepat ini kamu pergi meninggalkan bunda dengan kegersangan rindu yang tak berpenghujung..... Kahiyang benarkah bunda harus merelakan mu pergi nak?
rasanya berat dan jiwa bunda meronta ingin kembali memeluk mu, namun bunda tidak berdaya saat keinginan itu hanya lah semu....
semoga kamu tenang nak, bunda akan selalu mendoakan mu nak, bunda akan selalu merindukan mu dan kamu akan selalu menjadi bidadari surga bunda.....!"
Zira memejamkan mata mencari cari kekuatan agar ia bisa merelakan putri tercinta nya, Ali menggenggam tangan zira memberikan kekuatan.
semua Rangkaian doa sudah selesai, beberapa kerabat mulai berpamitan pulang... hanya zira yang enggan pergi Meninggalkan gundukan merah tersebut.
Tatapan mata nya kosong, jiwanya hampa tak bersisa hanya air mata kepedihan yang membanjiri wajahnya.
"ayo pulang nak, Kamu harus ikhlas....dan ingat kamu masih ada Ali yang juga membutuhkan kamu....!"
ucap rumi memeluk putri nya itu.
Ali menghampiri zira yang beranjak dari tempat itu, langkah nya tertatih meninggalkan pusara putri tercinta, Ali meraih tangan Zira lalu memeluk tubuh zira yang kemudian kembali menangis, keluarga terdekat memperhatikan zira yang menangis di pelukan Ali.
"sabar ya sayang, Kahiyang sudah tenang....ayo kita pulang!
ada malaikat yang menjaga putri kita....!"
__ADS_1
ujar Ali menghapus air mata yang membasahi pipi istri nya, lalu mengangkat tubuh zira untuk membawa nya pulang.
"kasihan zira..... enggak terbayang bagaimana perasaannya ya bang.....!"
ujar Alena pada Toni lalu menatap pilu kakak ipar nya itu, sementara Wisnu mengajak Wisnu untuk pulang kerumahnya karena di rumah ali ada Rumi dan Ahmad.
beberapa kali Yuda melakukan panggilan video karena ia tidak bisa jika harus pulang mendadak.
tak berapa lama mereka sampai di rumah, berbeda dengan Sri, Indah cukup akrab dengan Rumi hingga indah mengikuti mereka ke rumah untuk menyiapkan acara pengajian untuk Kahiyang, tentu hal itu membuat Sri merasa terasing namun Sri juga lebih menurut pada Wisnu karena ia juga tidak ingin menciptakan masalah di saat keadaan tengah berkabung.
zira masuk ke dalam kamar dan menoleh ke arah kamar Kahiyang yang berada di samping kamar nya, kaki nya melangkah ke arah ruangan Tersebut.
zira mendekati bok dimana biasa Kahiyang tertidur, air mata nya kembali merembes tak tertahankan.
Zira merasa pusing hingga ia kembali tak sadarkan diri...
Ali yang seketika itu melihat langsung berlari menghampiri zira yang tergeletak di lantai.
"zira, astaghfirullah.... sayang"
ucap Ali mengangkat tubuh zira dan merebahkan nya di ranjang, karena kondisi nya yang cukup lemah Alena yang baru saja tidak tiba di rumah menyarankan untuk memberikan infusan untuk zira.
ujar Alena iba melihat kondisi zira.
"ya de.... Abang juga berharap seperti itu?!"
jawab Ali tak lama zira sadar perlahan membuka mata dengan tatapan kosong.
gegas ali merengkuh tubuh nya, rumi datang membawa bubur untuk zira yang memang belum makan apa apa sejak pagi.
"aku infus dulu ya Ra.... kamu kuat Ra, kamu tidak sendirian ada kami di sini yang menyayangi kamu....!" indah dan Wijaya juga masuk melihat kondisi zira.
"ya benar yang dikatakan oleh Alena, kami disini sangat menyayangi kamu...kamu harus kuat dan ikhlas... awal nya memang berat tapi kami yakin kamu pasti bisa melewati masa masa Sulit ini....!"
ujar indah senyum, Ali tidak menyangka ibu tiri nya bisa sebaik itu, kenapa justru mommy nya sendiri masih saja bersikap acuh pada zira , apa lagi setelah kepergian Kahiyang.
__ADS_1
beberapa pulang setelah pengajian selesai hanya ada Rumi dan Ahmad serta Reza juga Nadia yang menemani mereka.
Ali mengusap kepala zira yang bersandar pada bahu nya, tak ada yang bicara kedua nya terdiam tentu saja mengingat kebersamaan mereka dengan Kahiyang, Ali juga terluka namun ia tidak ingin menunjukkan pada Zira karena istri nya membutuhkan dukungan dari nya.
"sayang....ayo tidur, jangan sedih lagi ya... sedih boleh tapi jangan terlalu, kita kirim terus doa untuk Kahiyang....!"
ujar Ali terus memberikan kekuatan pada perempuan kesayangan nya itu.
Zira hanya mengangguk lalu mendekap erat tubuh Ali, saat ini yang harus ia lakukan adalah melepaskan Kahiyang dengan ikhlas.
"selamat jalan anak ku sayang....!"
Zira memejamkan matanya lalu terlelap dalam dekapan hangat tubuh Ali.
Rumi dan Ahmad duduk bersama di permadani menghadap televisi, di situ juga ada Reza dan Nadia.
"ibu seperti mimpi pak, rasanya enggak percaya Kahiyang sudah tidak ada... rasanya baru kemarin ibu mandikan bayi lucu itu, ibu bawa jemur...!"
"ya, ya mba... Nadia juga berasa mimpi dan enggak percaya....!"
"ya kita harus ikhlas Bu, semua sudah menjadi takdir, tidak satu pun manusia yang bisa lari atau bersembunyi dari kematian, kita juga akan mengalami hal yang sama, berbenah diri, bermuhasabah... apa yang akan kita bawa jika kelak kita berpulang, apa kita siap menghadapi pertanyaan yang akan kelak di tunjukkan untuk kita? ayo mulai berbenah diri karena kematian tidak memandang usia, tidak memandang yang sehat atau sakit.....
yang sehat saja bisa tiba-tiba meninggal, apa lagi yang sakit!"
mereka mengangguk mencerna perkataan Ahmad.
"Bu Sri juga sakit, dia kena kanker....!"
ujar Nadia membuat Rumi dan Ahmad termangu.
"yang benar....?"
tanya Ahmad Yang tidak mengetahui hal itu karena zira juga tidak pernah bercerita.
"ya benar... malahan sebelum nya kondisi Bu Sri drop namun berangsur Membaik tapi sekarang entah lah..."
__ADS_1
Ahmad mengangguk pantas tadi Ahmad melihat Sri menggunakan kursi roda, Ahmad juga bisa melihat gurat kesedihan di wajah Sri saat melihat pak Wijaya dengan indah.
bersambung ...