
Ahmad Sengaja datang ke peternakan karena Rumi khawatir dengan zira dan pria asing itu, cemas dan takut kedua nya melakukan hal yang di luar batas.
"aku sudah bilang sama tuan besar, kalau kamu mau kerja di sini bro, aku cari cari kamu tadi...."
ucap Reza.
"ya tadi mendadak pusing za..ya udah aku senang bisa kerja di sini..."
ucap pria itu.
"kamu bisa pindah ke sini, bro!"
ucap Reza, sementara Ahmad merasa lega mendengar hal itu.
"ya pak, saya akan pindah ke sini. terima kasih untuk kebaikan bapak sama ibu!"
ucap pria itu.
"ya sudah itu lebih baik, bukan bapak enggak suka kamu tinggal dengan kami tapi kedekatan kalian menjadi kekhawatiran untuk bapak, seperti yang Reza katakan kalian memang harus segera menikah, bapak akan merestui kalian..."
ucap Ahmad membuat keduanya berbinar.
"terima kasih pak!"
ucap zira memeluk Ahmad, dari dulu Ahmad lah yang paling mengerti putri nya itu.
"terima kasih pak, saya akan berusaha keras untuk mewujudkan niat kami!"
Ahmad mengangguk.
waktu menunjukkan pukul sepuluh malam, Ahmad dan zira pulang ke rumah di ikuti oleh pria itu dan Reza yang menggunakan motor, sebelum pindah pria itu ingin berpamitan pada Rumi.
mereka melewati kediaman pak lurah yang melanjutkan pesta meski beberapa tenda terbawa angin, musik dangdut mengiringi semilir angin yang merayap menembus pakaian.
dalam gelap malam zira memeluk pinggang pria itu tentu hal itu membuat pria itu tersenyum senang.
di genggam nya tangan lembut itu, hal indah yang membuat rasa itu kian menggebu.
tak lama mereka sampai di depan rumah, zira turun dari sepeda berjalan memasuki halaman rumah.
"kenapa baru pulang?"
tanya Rumi.
"nunggu reda Bu...!!"
ucap Zira lalu menoleh ke arah pria tampan itu.
Rumi sendiri menunjukkan wajah tak ramah pada pria asing itu.
"si Abang mau pamit Bu....!
dia mau pindah ke peternakan...!"
ucap zira.
"baguslah kalau begitu, aku pikir dia tidak tahu diri...!"
"Bu enggak boleh bicara seperti itu, pria ini laki laki yang di cintai oleh putri kita, kasihan zira kita harus menghargai keputusan nya..."
ucap Ahmad namun Rumi malah melengos pergi.
"maaf kan ibu ya bang!"
ucap zira menunduk.
"ya tidak apa-apa, Abang paham. Abang janji tidak akan mengecewakan bapak!"
ucap pria itu pada Ahmad.
"ya sudah, kita balik ke peternakan,kamu boleh pakai baju ku nanti di sana bro...!"
pria itu mengangguk.
__ADS_1
"Nanti besok Abang antar jemput kamu pakai motor Reza ya!"
ucap pria asing itu sebelum pergi.
"ya bang! hati hati!"
ucap zira melepas tangan pria itu, berat tapi saat ini memang harus berjarak dulu.
"ya udah kita balik ya!"
ucap Reza dan pria itu lalu pamit pada Ahmad.
"semangat ya!"
ucap Ahmad.
pria itu mengangguk.
***
pagi....
zira sudah siap dengan seragam mengajar nya, ia menunggu pria itu datang menjemput nya.
terdengar suara klakson menandakan pria itu sudah berada di depan rumah.
"pak , Bu. zira berangkat ya"
Rumi tak menjawab ia memalingkan wajahnya.
"ya sudah kamu hati hati ya!"
ucap Ahmad.
"ya pak, zira pergi"
ucap zira tersenyum menghampiri pria tampan yang tengah tersenyum lebar.
zira tersenyum mencium wangi dari tubuh pria itu, wajah nya juga tampak segar tak muram seperti di rumah.
tanya zira.
"belum, nanti beli aja!"
"nih, ada nasi goreng... enggak asin di jamin enak....!"
ucap zira terkekeh mengingat malam itu.
"terimakasih baby..."
ucap Pria asing itu menerima dengan sumringah.
"tuh, lihat si risky banyak banget bawaan nya, kasur empuk, lemari besar, peralatan dapur dan yang lainnya. beruntung banget perempuan yang jadi istri nya, langsung pindah rumah baru lagi"
ucap salah satu ibu ibu yang tengah memilih sayuran.
"ayo bang, Kita berangkat!"
ucap Zira naik ke atas motor.
selama perjalanan tak ada yang bicara, hanya suara burung dan knalpot motor yang sedikit berisik mengiringi perjalanan mereka menuju sekolah.
"kamu mikirin omongan ibu ibu tadi ya de!"
ucap pria itu membuka obrolan.
"enggak juga ngapain mikirin hal itu, harta enggak di bawa mati, hanya amal perbuatan yang akan di tanyakan oleh tuhan..."
ucap zira dengan santai, sejak kecil ia sudah terbiasa dengan seadanya, sederhana yang orang tuanya berikan, terus bersyukur namun tetap berusaha untuk menjadi seorang yang tak lagi di pandang sebelah mata oleh orang.
"dulu Zira lebih susah sampai harus bantu ibu jualan susu sebelum berangkat sekolah, ibu juga jualan... bukan hal yang mudah untuk sampai di titik ini, Zira dapat beasiswa dan bisa lanjut Kuliah....bagi zira sudah bisa mendengar omongan orang yang merendahkan atau mengolok-olok... biarkan saja nanti juga lelah sendiri...."
"karena Abang kamu seperti ini...."
__ADS_1
ucap pria itu menghentikan laju motor nya di depan sekolah.
"cinta enggak bisa di paksa... dari dulu zira anggap bang Rizky teman...!"
"kalau Abang?"
tanya pria itu tersenyum.
"tau ah....!"
ucap zira terkekeh.
"ya sudah nanti pulang nya Abang jemput ya, jangan pulang sendiri!"
zira mengangguk lalu pergi meninggalkan pria itu sambil tersenyum manis.
pemandangan indah yang menjadi candu untuk pria asing itu, senyum manis yang menjadi penyemangat hari hari nya.
pria itu kembali ke peternakan untuk memulai pekerjaan baru nya bersama Reza.
*
kediaman Ahmad.
Rumi masuk ke dalam rumah dengan wajahnya yang cemberut, menyimpan sayuran dengan keras.
"kenapa sih Bu....?"
tanya Ahmad.
"kesel dengar omongan ibu ibu....!"
ucap rumi mendarat kan pinggulnya di kursi.
"emang mereka ngomong apa?"
"ya itu bilang kalau perempuan yang menikah dengan anaknya pak lurah sangat beruntung, lah anak kita...?"
"jangan bicara seperti itu, rezeki orang tidak ada yang tahu, gembel saja bisa jadi orang kaya kalau ia rajin dan terus berusaha, sebaliknya orang kaya bisa jadi gembel kalau dia malas, bapak enggak suka ibu terus memojokkan zira. karena bagi bapak yang terpenting zira bahagia....!"
ucap Ahmad meninggalkan Rumi sendiri dan pergi ke ladang.
*
pria itu membantu Reza membersihkan kandang, tanpa rasa jijik atau merasa bau karena kotoran hewan tersebut.
"nanti kotorannya bisa jadi pupuk.... banyak petani yang minta, bro"
"enggak di jual?"
"enggak, kata tuan besar kasih saja kalau ada yang mau tidak boleh di jual...!"
ucap Reza.
"baik juga pemilik peternakan ini...!"
"ya, baik banget bro, kalau sapi tumbuh gede aku dan yang lainnya di kasih bonus, malah ada yang di kasih domba?!"
"oh gitu....! kamu kok belum nikah za...!"
tanya pria asing itu.
"aku nunggu pacar ku pulang dari Malaysia..."
"kerja?"
"ya, udah tiga tahun....!"
"selama itu? kenapa kamu menunggu nya? perempuan kan banyak!"
"nama nya juga cinta.....aku bahkan udah bangun rumah untuk dia!"
ucap Reza membuat pria itu tertegun, cinta memang butuh perjuangan dan pengorbanan maka ia akan berjuang untuk zira.
__ADS_1
bersambung..