
Reza tertegun saat mendengar cerita dari Yuda tentang wanita yang sudah lama ia tunggu kepulangan nya.
"jangan harapkan lagi Rosa ya paman, dia sudah menikah dengan pria yang juga bekerja di tempat nya Bekerja, carilah perempuan lain yang bisa Paman nikahi..."
yuda mengabarkan hal itu, pantas beberapa waktu ini Rosa tidak bisa ia hubungi.
"ya, za lupakan Rosa. pada keluarga nya saja ia sudah lama tidak memberikan kabar!"
pernah suatu ketika keluarga Rosa menanyakan kepada Ahmad apakah Reza masih berhubungan dengan Rosa, sementara anak perempuan nya itu sudah lama tak memberikan kabar.
"ya kak, kalau seperti itu Reza tidak akan mengharapkan nya lagi, mungkin kita tidak berjodoh."
Reza berusaha untuk lapang dada, ia memang tidak bisa memaksakan keadaan jika ke kenyataan nya Rosa lebih memilih pria lain.
pupus kini harapan nya, Reza akan melupakan semua niatan dengan kekasih nya itu. ia yakin Allah sudah menyiapkan ganti yang jauh lebih baik.
penantian panjang seakan sia sia, rasa kecewa melingkupi ruang kalbunya, tanpa putusan tanpa kabar Rosa melupakan nya begitu saja.
"aku ikhlas kan cinta ku....."
gumam Reza lalu menyeka air matanya, kembali pada rutinitas sehari-hari nya.
**
beberapa hari berlalu, kondisi kesehatan Ali semakin membaik, pria itu rajin mengikuti terapi agar cepat sembuh dan gegas pulang.
Ali tersenyum mengingat tingkah gadis itu, rindu tak tertahankan lagi.
pagi yang cerah ini Ali sudah bersiap siap untuk pulang ke Indonesia.
"sebentar lagi kita akan bertemu de...."
Ali beranjak dari ranjang rumah sakit, rambut nya sudah di cukur, tubuhnya sudah kembali fit. semua pengobatan dan terapi sudah selesai di jalan kan.
"wah, cucu kakek tampan sekali...."
Wisnu menghampiri Ali yang sudah siap untuk pulang.
"ya kek. Ali udah enggak sabar ingin ketemu zira....."
Wisnu tertegun mendengar penuturan Ali,
beberapa waktu Wisnu menyuruh orang untuk mencari informasi tentang gadis itu, dan hasilnya adalah perempuan itu pergi merantau ke Jakarta, dan Wisnu belum memberi tahu Ali soal itu.
orang suruhan Wisnu juga belum menemukan informasi keberadaan zira di Jakarta, padahal zira Bekerja di perusahaan milik nya namun tak ada yang mengetahui hal itu.
"bagaimana dengan mommy mu...?"
tanya Wisnu, Sri terang terangan mengatakan bahwa ia tidak akan menerima perempuan pilihan Ali.
"bukan Ali enggak sayang mommy, tapi Ali sangat mencintai zira kek, Ali akan tetap pada niat Ali sebelumnya."
jawab Ali dengan mantap, apapun rintangan nya akan Ali hadapi.
"ya sudah, ayo kita pulang!"
Toni sendiri sudah pulang ke Indonesia karena Wisnu tidak ingin Toni lama lama meninggalkan perusahaan.
**
seperti hari hari biasanya, zira tengah mengepel lantai utama perusahaan itu. perilaku Nina tak lagi zira hiraukan.
meski ada keinginan untuk mencari pekerjaan baru, namun ia tidak akan berhenti sampai mendapatkan pekerjaan baru.
"zira....."
__ADS_1
Toni tersenyum menghampiri zira yang mematung, beberapa hari ini Toni selalu menyapa nya jika bertemu. tentu saja hal itu menjadi perhatian para karyawan, terutama Nindy yang menyukai Toni tak menyukai hal itu.
"pak...."
Zira tersenyum kecil sambil menunduk kemudian melengos pergi karena melihat tatapan tajam dari Nindy yang merupakan sekertaris Toni.
"mati kalau begini terus...."
gumam zira saat menyimpan peralatan nya.
"kenapa Ra? kamu kok kayak yang banyak pikiran...!"
tanya Nadia duduk di samping zira.
"ya ya lah. gimana enggak banyak pikiran, kerja di sini bukan hanya lelah fisik tapi juga lelah hati...!"
sahut zira lalu bersandar pada dinding.
seperti nya ia memang harus segera mencari pekerjaan baru, zira termenung mengingat ajakan Yuda untuk pergi bersama nya ke negeri tetangga.
'apa ikut dengan bang Yuda saja ya? tapi misi ku belum selesai untuk mencari keberadaan pria amnesia itu, tapi bagaimana mau selesai waktu libur di gunakan untuk berehat...'
gumam zira sendiri hampir frustasi. ia tidak tahu harus kemana dan mulai dari mana mencari pria itu.sementara nama nya saja tidak tahu.
"zira......."
Nadia mengibas kan tangan nya di depan wajah zira yang tengah melamun.
"hm....."
Zira menoleh lalu datang abim membawa bungkusan.
"ini dari pak Zaki, ini dari pak Toni..."
Zira menoleh kearah Nadia yang justru tampak senang melihat makanan enak kembali datang dengan gratis namun tidak dengan zira, apa lagi dia tahu kalau pak Zaki sudah menikah, beberapa kali mengajak ngobrol namun zira selalu menjauh.
zira beranjak lalu pergi meninggalkan Nadia dan abim yang mematung.
"kenapa tuh si zira?"
tanya Abim.
"masih sibuk, ayo makan saja!" Tutur Nadia membuka bungkusan makanan tersebut
*
"kenapa sih harus kirim makanan segala..."
gumam Zira lalu masuk ke dalam toilet wanita khusus direksi, zira menghentikan langkahnya saat melihat seorang perempuan cantik dengan rambut lurus nya sebahu.
anggun dan elegan...
Sri menatap perempuan dengan seragam OB yang membawa peralatan untuk mengepel.
"kamu OB baru?"
tanya Sri dengan jarak jauh.
"ya, Bu...."
jawab zira singkat lalu menunduk.
"ibu, Nyonya...kamu enggak tahu siapa saya?"
tanya Sri dengan angkuhnya.
__ADS_1
tak tahu saja seseorang yang berada di hadapan nya adalah perempuan yang di cintai putra sulungnya.
Zira menelan Saliva nya, kemudian menggeleng kan kepalanya.
Zira menoleh pada seseorang yang masuk menghampiri mereka.
"zira kamu udah selesai belum ngepel nya?"
tanya Nina yang terperangah melihat Pemilik perusahaan berada dihadapannya.
"Maaf nyonya, apa anak buah saya melakukan kesalahan?"
tanya Nina menunduk.
menarik tangan zira untuk merapat pada nya.
"beri tahu anak buah kamu yang baru siapa saya!"
tutur Sri menunjuk pada zira yang masih termangu.
"zira dia itu nyonya pemilik perusahaan!"
Nina berbisik di telinga zira yang langsung mengangguk.
"silahkan nyonya....!"
tutur Nina Saat Sri hendak keluar dari toilet tersebut.
Zira tertegun memegang pengepelan yang sejak tadi jadi pegangan nya.
"apa semua orang kaya seperti itu?
gumam zira.
"zira kamu Kerja nya lambat.... gimana sih?"
Nina kembali mengomeli zira yang sejak tadi diam.
"aku kan sudah bilang, kamu kerjakan toilet ini lebih dulu... karena toilet ini khusus untuk para direksi di perusahaan ini..."
sungut Nina seperti hari hari biasa.
"ya maaf Bu....!"
Zira langsung mengerjakan pekerjaan nya tanpa menghiraukan Nina yang masih berucap namun entah apa zira tak ingin mendengar, Zira fokus pada lantai yang harus bersih dan wangi.
setelah selesai zira kembali ke ruang OB.
terlihat Nadia dan yang lainnya Tengah makan siang bersama.
"Ra ayo makan....aku udah ambil untuk kamu!"
ajak Nadia pada zira yang baru datang.
"makanan sisa dari pak Zaki dan pak Toni juga masih ada!"
"ya Ra, enak loh sering sering aja ya, biar kita makan makanan enak!"
zira tertegun mendengar penuturan teman teman nya, berbeda dengan Nina Yang tak menyukai zira, ia melaporkan hal itu pada Nindy yang langsung marah mendengar hal itu.
"lihat aja, aku memang harus kasih OB itu pelajaran..."
ucap Nindy mengepalkan tangannya.
bersambung..
__ADS_1
terima kasih ya udah mampir, jangan lupa like dan komentar ya..😍😍😍