
siang itu zira sudah bersiap berangkat bersama Reza, zira menghampiri Kahiyang terlebih dulu sebelum pergi.
di ruangan itu juga ada Sri yang tengah memainkan laptop nya.
"cantik Kahiyang bunda berangkat dulu ya... jangan rewel sama Tante!"
beberapa kali zira mencium pipi cabi Milik Kahiyang.
lalu zira berpamitan pada Sri yang juga berada di ruangan itu.
"zira berangkat ya mi....!"
zira meraih tangan Sri lalu mencium nya, tak ada jawaban Sri hanya tersenyum sekilas.
"ya sudah aku berangkat ya....!"
pamit zira pada Nadia yang langsung beranjak mengikuti langkah zira dan Reza menuju mobil.
"hati hati ya di jalan nya...!"
pesan Nadia senyum sambil menggendong Kahiyang.
"ya ....dadah cantik!"
zira masuk ke dalam mobil bersama Reza.
reza menoleh memperhatikan zira yang menatap lurus ke depan, ia sendiri yang mengendarai mobil tersebut.
"aku enggak yakin deh kalau mertua mu sudah berubah...!"
ujar Reza membuka obrolan.
"ya sebenarnya zira juga berpikir seperti itu tapi gimana dong paman, dia lagi sakit dan bang Ali ingin ibu nya tinggal bersama kita..."
jawab zira, tidak mungkin ia menolak kehadiran Sri di rumah apa lagi dalam keadaan sakit.
"ya seharusnya dia itu sadar dan berubah mengingat apa yang di deritanya, tapi ini masih saja seperti itu?"
Reza selalu memperhatikan bagaimana raut wajah Sri ketika menyinggung zira.
"ya, jangan ceritakan ini sama bapak dan ibu.
zira tidak mau mereka khawatir... semoga Allah menyadarkan ibu Sri...!"
tak lama mereka sampai di gedung perusahaan milik Arjun, zira melangkah masuk bersama Reza.
Arjun yang saat itu juga baru sampai melambaikan tangan nya sambil menghampiri zira.
"amanlah enggak ada bodyguard nya ....."
gumam Arjun terkekeh kecil.
"kenapa kok senyum senyum sendiri...."
tanya zira mengerutkan keningnya.
Arjun terbiasa dekat dengan model model nya, namun tidak dengan Zira karena Ali selalu memberi kan sekat.
__ADS_1
"enggak apa apa.... gimana liburan nya!?"
tanya Arjun, mereka berjalan beriringan menuju ruang pemotretan, seperti biasa zira tidak pernah menunda waktu.
"ya gitu deh seneng banget karena aku dan Ali baru pertama kali pergi ke luar negeri, dan Berlin tuh indah banget!"
zira tersenyum melambaikan tangan nya ke arah Anita.
"kirain besok mulai pemotretan lagi?"
ujar Anita cupika cupiki dengan zira.
"aku kan izin satu Minggu doang, mau nya sih libur tapi takut kena denda.....!"
zira terkekeh kecil lalu menghampiri beberapa kerudung yang hendak ia pakai untuk pemotretan.
"sekarang bukan ali yang temenin...!"
tanya Anita bersalaman dengan Reza.
"ya ini paman ku, kemarin bantu Toni di kantor, dan sekarang suruh nemenin aku..."
tutur zira.
"syukur deh kalau gitu, berarti enggak ada lagi tuh yang suka banyak protes...."
ucap Anita terkekeh mengingat Ali yang selalu protes sana sini.
"enggak lah santai aja.....!"
jawab zira senyum lalu masuk ke ruang ganti.
Zira menoleh ke arah ponsel nya yang berdering, terlihat Ali Melakukan panggilan telepon.
"halo assalamualaikum bang?"
ucap zira setelah menggeser tombol hijau pada layar tersebut.
"walaikumsalam......kamu dimana sayang!?"
tanya Ali memerhatikan foto cantik istri nya bersama fans nya di Instagram.
"di kafe sama Anita dan bang Arjun lagi makan siang.....!"
"dimana kok enggak bilang dulu sama aku?"
ucap Ali membuat Zira tertegun, ia lupa bahwa ia memiliki suami yang fosesif.
"zira juga sama Paman Reza kok....!"
"oh gitu, ya udah....!"
ucap Ali lalu mematikan panggilan telepon tersebut.
Ali menatap seorang perempuan cantik masuk ke dalam ruangan nya, Siva perempuan itu berjalan ke arah Ali dengan rok mini nya.
entah apa yang terjadi perempuan itu kini menanggalkan hijab nya.
__ADS_1
"ada apa?"
tanya Ali beranjak dari duduknya.
"apa Nindy tidak mengatakan apa apa sama kamu?"
tanya Siva duduk di sofa dengan menopang pahanya.
saat itu Toni tengah pergi keluar untuk mengurus pekerjaan lain, Siva tidak akan pernah lupa bagaimana Sri mencampakkan nya begitu saja setelah Sri tahu kalau dia mandul.
"tentu aku tidak akan mau mempunyai menantu yang mandul, ternyata Zira jauh lebih baik dari mu.....!"
kata itu terngiang membuat Siva merasa sakit hati dan kembali pada Dirinya yang memang tidak berhijab, itu permintaan dari Sri untuk mencari simpati Ali namun hal itu tak membuahkan hasil karena Ali tetap memilih perempuan kampung yang kini menjadi model ternama brand ambassador.
hingga timbul rasa benci dan dendam, terbesit dalam hati untuk memberikan sedikit pelajaran, Siva sendiri merasa senang saat mendengar Sri yang sombong kini terkena penyakit kanker.
Ali menggelengkan kepalanya saat merasakan kepala nya sedikit pusing padahal tadi ia baik-baik saja.
siva tersenyum licik, seperti nya obat itu mulai beraksi dengan baik.
Siva akan sedikit memberikan kejutan untuk zira, tentu hal itu akan membuat Zira marah.
seketika itu pula Ali langsung terkapar tak sadarkan diri di sofa, gegas Siva menjalankan misinya meminta Nindy untuk membantu nya membuat suatu hal yang menyenangkan untuk nya.
**
setelah makan siang zira dan Reza memutuskan untuk pulang karena Nadia menelpon kalau Kahiyang tiba-tiba demam.
"kita duluan ya...."
ucap zira beranjak.
"ya jangan lupa datang lagi besok ya..."
sahut Anita dan di acungi jempol oleh zira yang kemudian pergi meninggalkan tempat itu bersama Reza.
entah kenapa pikiran nya tidak enak, apa lagi tadi Ali langsung mematikan panggilan telepon nya.
Zira berusaha untuk kembali menghubungi Ali namun Ali tidak menerima telepon tersebut, mungkin sibuk. pikir zira lalu menghentikan panggilan nya.
tak berapa lama mereka sampai di rumah, jalanan cukup lenggang jika siang hari, hingga mempermudah perjalanan pulang nya.
gegas zira menghampiri Nadia yang tengah menggendong Kahiyang.
"hei...zira kamu bersihkan diri terlebih dulu sebelum memegang Kahiyang, kamu kan dari luar bagaimana kalau di baju kamu itu ada virus nya...."
ujar Sri menghentikan gerak zira yang hendak menggendong Kahiyang.
"ya sudah bunda mandi dulu ya...."
mendengar hal itu membuat Kahiyang menangis karena tak jadi di gendong.
"sebentar ya sayang....."
zira berlari kecil masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri.
Nadia dan Reza mematung melihat hal itu, merasa kasihan atas sikap Sri yang selalu seperti itu pada zira, namun Zira selalu sabar dan tak terlalu menanggapi perilaku Sri.
__ADS_1
bersambung.....