terpikat pria tampan amnesia

terpikat pria tampan amnesia
persalinan.


__ADS_3

waktu berlalu....


dua bulan berlalu.....


Ali dan zira sudah kembali ke Jakarta dan memulai aktivitas seperti biasa, Ali menghampiri zira yang tengah duduk di dekat kolam renang sambil membawa segala susu hangat.


"sayang.....ini susu nya?"


Ali meletakkan gelas tersebut di hadapan zira yang seperti menahan sesuatu.


"kamu kenapa?"


tanya Ali berjongkok di hadapan zira.


"enggak tahu, pinggang rasanya sakit banget....."


"kamu mules de?"


tanya Ali, zira tertegun ia sendiri tidak tahu karena ini adalah pengalaman pertama untuk nya, ia tidak tahu bagaimana rasanya mau melahirkan.


"ya sudah, kita periksa saja ke bidan...."


Zira mengangguk menerima uluran tangan dari Ali membantu nya beranjak dari duduknya.


"kenapa non....?mau melahirkan?" tanya Uci pembantu rumah.


"enggak tahu bi cuma pinggang zira sakit banget!"


jawab zira duduk di sofa menunggu Ali mengambil tas nya di dalam.


"biasanya seperti itu non, selain mules sakit pinggang juga bisa jadi tanda awal kontraksi"


zira mengangguk mendengar ucapan Uci yang sudah berpengalaman dalam hal itu.


"ayo sayang.....!"


ajak Ali membantu zira untuk bangun, Uci ikut membantu zira naik ke mobil.


sepanjang jalan Ali terus merengkuh tubuh zira, mengusap punggung nya yang terasa sakit, membiarkan supir menyetir mobil nya.


"masih sakit?"


tanya Ali menilik wajah zira yang bersandar pada tubuh nya.


"masih bang.... sakit banget!"


jawab zira menggigit bibirnya.


"Abang hubungi ibu Ya! biar ibu ke datang ke Jakarta!"


Zira mengangguk pelan lalu memejamkan matanya menikmati kesakitan yang semakin terasa.


Ali langsung menghubungi Rumi saat itu juga, Rumi yang mendengar zira mengalami kontraksi langsung menghubungi Ahmad untuk segera pulang.


"kenapa Mba?"


tanya Nadia yang Kini tinggal di kampung mengikuti Reza yang sudah memiliki rumah sendiri.


"Zira udah kontraksi, mba tutup saja toko nya....!"


"jangan Mba, ada Nadia.


kasihan pembeli kalo toko nya tutup.. biarkan Nadia yang urus selama mba di Jakarta!"


"kamu mau nad?"


Nadia tersenyum sambil mengangguk.


"Alhamdulillah...!"


ujar Rumi lalu bergegas masuk ke rumah untuk mempersiapkan keberangkatan nya ke Jakarta.

__ADS_1


***


Ali terus berada di samping Zira saat dokter melakukan pemeriksaan.


"ibu zira sudah mulai pembukaan...."


ujar dokter yang memeriksa.


"istri saya mau melahirkan dok?"


tanya Ali tak paham.


"ya, tapi baru mulai pembukaan...mau pulang dulu atau menunggu di ruang rawat?"


tanya dokter tersebut.


"baru pembukaan berapa memang nya dok?"


tanya Ali.


"baru pembukaan pertama, kalau cepat pembukaan nya kemungkinan sore ini bayi nya lahir!"


Ali tertegun sejenak menoleh ke arah zira yang terlihat terus menahan.


"ya sudah kita menunggu di rumah sakit saja!"


ucap ali dan di anggukan oleh dokter, kemudian dokter langsung menyuruh suster untuk memindahkan zira ke ruang perawatan.


"kita nunggu di rumah sakit saja ya, jadi Nanti enggak perlu bolak balik....!"


Untung nya Ali sudah menyiapkan pakaian untuk calon bayi mereka, Ali merupakan suami yang siaga, ia yang mempersiapkan semua keperluan untuk zira dan bayi nya.


Alena yang mendengar zira mengalami kontraksi langsung menghampiri mereka di ruang perawatan.


"bang......"


Alena menyembul masuk ke dalam.


ujar Ali.


"Zira mau melahirkan?"


tanya Alena melihat zira yang meringkuk sesuai saran dokter agar mempercepat proses pembukaan.


"dokter bilang seperti itu....!"


Jawab Ali lalu duduk di tepi ranjang, mengusap pinggang zira yang terasa nyeri.


"kalau enggak kuat kontraksi ambil jalan Caesar Saja bang?"


zira membalikkan badannya menghadap Ali dan Alena.


"gimana de menurut kamu?"


tanya Ali.


"enggak, zira kuat kok bang....."


jawab zira yang ingin merasakan proses normal.


"ya sudah tapi jangan memaksakan keadaan ya, aku siap kalau kalian butuh bantuan!"


"ya terimakasih Len...!"


Alena mengangguk.


alena Juga kini tengah hamil muda, namun tak sedikit pun Alena berkeluh kesah.


ia tetap menjalani aktivitas nya seperti biasa, tak merasakan mabok seperti awal awal zira hamil.


waktu terus berjalan...zira semakin tak bisa diam, rasa sakit terus bertambah dengan tempo lebih cepat dari biasanya.

__ADS_1


zira terus berzikir dan berdoa agar Tuhan mempermudah proses persalinan nya, Ali terus berada di dekat zira yang beberapa kali menahan ingin meronta.


"sakit de?"


Zira mengangguk sambil mengeratkan genggaman nya pada Ali.


"sabar ya sayang, gimana dong kita ambil jalan Caesar aja ya?"


zira menggeleng kan kepalanya.


waktu menunjukkan pukul setengah empat sore, Rumi mengatakan bahwa mereka baru sampai di Jakarta.


dokter sudah menyiapkan ruang persalinan untuk zira yang kini sudah mencapai pembukaan delapan.


"sebentar lagi ya sabar ibu zira...!"


ucap dokter sesekali mengusap punggung zira.


Zira tercengang saat sebuah cairan hangat terasa merembes dari miliknya.


"ketubannya juga sudah pecah, kita pindah ke ruang persalinan sekarang!


Pak Ali boleh menemani di dalam!"


ujar dokter dan di anggukan oleh Ali yang terus menggenggam tangan zira.


"gimana bang?"


tanya Alena dan Toni yang baru sampai di rumah sakit.


"sekarang mau ke ruang persalinan nih.."


jawab Ali mengikuti laju brankar, Alena dan Toni mengikuti dari belakang.


"kita doakan semoga lancar ya bang!"


Ali mengangguk masuk ke dalam ruangan bersama zira.


Ali mengusap kepala Zira mencium kening nya untuk memberikan kekuatan, Ali mengusap pelipis Zira yang berkeringat, merasa tak tega melihat wanita yang amat ia cintai merasakan hal sesakit itu, tapi zira mengatakan bahwa ia ingin merasakan proses persalinan secara normal.


"sayang kamu yakin kuat?" tanya Ali mungkin saja Zira berubah pikiran.


Zira hanya mengangguk sambil berpegangan pada tangan Ali semakin kencang, dari hal itu Ali tahu bahwa apa yang dirasakan melebihi batas normal, Ali pernah membaca artikel tentang persalinan normal dan rasanya sakit nya melebihi kapasitas normal seperti tulang di patah kan secara paksa.


"aduh dokter mules banget....!"


ucap zira terbata membuat dokter dan para suster bersiap.


"sayang kamu udah siap?"


zira mengangguk, Ali menitikkan air matanya tak tega melihat istrinya kesakitan berjuang keras untuk melahirkan buah cinta mereka.


beberapa kali mencoba dengan nafas yang terengah-engah tak berputus asa terus mencoba hingga pada hentakan terakhir Zira menghempaskan tubuhnya dan terdengar lah suara tangisan bayi.


"Alhamdulillah.......!"


Ali langsung menciumi wajah istri nya yang lemas setelah melahirkan bayi perempuan mereka.


"terimakasih perempuan hebat ku..."


Ali memangku wajah zira lalu mengecup bibir nya, zira tersenyum dengan nafas tersengal sebutir air mata menetes saat suster menelungkup kan bayi tersebut di dadanya.


"cantik... Solehah ibu!"


ujar zira lirih, Ali pun menitikkan air matanya mengusap bayi yang masih berdarah.


setelah itu suster kembali mengambil bayi itu untuk di bersihkan.


Rumi dan Ahmad Yang sudah tiba di rumah sakit berbarengan dengan tangisan bayi mereka membuat keduanya langsung bersujud syukur karena zira sudah melahirkan.


bersambung....

__ADS_1


__ADS_2