
Nadia tersenyum saat Toni mengulur kan tangan nya. "aku Toni...m wakil direktur di perusahaan ini..."
ucap Toni.
sebenernya Nadia sudah mengetahui posisi pria itu di perusahaan, entah angin apa yang membawa nya datang ke hadapan mereka berdua.
"Nadia, pak...."
ucap Nadia menyambut tangan Toni lebih dulu lalu berganti zira.
"zira...."
ucap zira membuat Toni tertegun melihat cincin yang melingkar di jari manis milik zira.
"kamu sudah menikah?"
tanya Toni langsung.
"euh... saya sudah bertunangan pak!"
ucap zira menunduk.
sementara Nadia memperhatikan ekspresi kedua nya.
"apa mungkin pak Toni menyukai zira?"
gumam Nadia bertanya dalam hati.
"oh, ya sudah. ini untuk kalian berdua..."
ucap Toni tersenyum lalu beranjak meninggalkan cake cokelat di atas meja.
"terima kasih pak....!"
ucap Nadia sedikit keras agar terdengar oleh Toni.
"cakep banget, wangi lagi.......!"
ucap Nadia memuja pria itu, sementara zira bersikap biasa saja tak ada yang seperti kekasihnya itu.
"nanti bagi bagi Sama yang lain nya aja nad"
ujar zira dan di anggukan oleh Nadia.
Toni tidak percaya jika ternyata gadis itu sudah bertunangan sementara ia terlanjur menyukai gadis itu.
"baru bertunangan....."
gumam Toni dalam hati sambil melangkah menuju ruangan nya.
Toni merogoh ponselnya yang berdering terlihat Wisnu melakukan panggilan telepon.
"halo kek.... gimana keadaan Ali.."
tanya Toni langsung.
"Alhamdulillah sudah sadar....."
ujar Wisnu terdengar bahagia.
"Alhamdulillah, Toni akan atur penerbangan menuju Jerman sore ini...."
**
Wisnu tersenyum sambil menitikkan air matanya mengetahui cucunya sudah sadar dari tidur panjang, Wisnu langsung menghubungi dokter untuk memeriksa keadaan Ali.
"Alhamdulillah... kondisi nya memang sudah stabil, luka nya juga sudah berangsur sembuh. tinggal pemulihan saja, mungkin sebagian terasa kaku karena Ali cukup lama tertidur, nanti ikut terapi saja"
ucap dokter tersenyum.
Ali tertegun menatap ke sekeliling ruangan hanya ada Wisnu yang bersama dengan nya.
"hanya kakek yang menemani Ali...?"
tanya Ali pada Wisnu.
Wisnu mengangguk lalu memeluk tubuh cucunya itu, sedikit lebih kurus dengan rambut nya yang gondrong.
__ADS_1
"apa yang terjadi nak, kemana saja kamu sebelum kejadian itu?"
ucap Wisnu menatap wajah Ali.
Ali tertegun flashback ke belakang... teringat sosok yang begitu ia rindukan, entah berapa lama ia tidak sadarkan diri.
"berapa lama Ali tidak sadar kek?"
tanya Ali menatap wajah Wisnu.
"enam bulan lebih.....!"
jawab Wisnu Pada Ali yang langsung terperangah.
"ada apa Al...?"
tanya Wisnu.
Ali hendak beranjak namun kaki nya terasa kaku hingga ia tidak bisa menggerakkan kakinya.
"kaki ku kenapa kek?"
"dokter bilang tadi kamu harus ikut terapi untuk menormalkan kembali tubuh mu, Waktu enam bulan itu cukup lama Al kamu tidak bergerak...!"
ucap Wisnu membuat Ali terpaku dengan Air mata yang menetes.
"tapi kek Ali harus menikah....!"
ucap Ali dengan Nafas tersengal, ingin rasanya berlari untuk menemui kekasihnya itu.
"Menikah dengan siapa Al?"
tanya Wisnu yang tidak mengetahui apa apa.
Ali menatap Wisnu lalu menceritakan semua kejadian di mana ingatannya hilang hingga ia kejadian setelah pertunangan nya dengan zira.
"jadi selama ini kamu berada di peternakan milik kakek?"
tanya Wisnu tak menyangka padahal ia sempat datang bersama Alena waktu itu.
"Ali baru ingat dua Minggu sebelum kejadian itu kek, sengaja Ali tidak langsung menghubungi kakek, Ali berencana untuk menikah dengan zira setelah itu membawa nya ke Jakarta tapi tidak sempat, malam itu juga Ali baru saja bertunangan dengan zira,
ucap Ali membuat Wisnu tertegun.
"kek.....Ali mohon, Ali sangat mencintai nya,dia yang sudah menyelematkan nyawa Ali, kami juga sudah bertunangan...!"
ucap Ali menunjukkan cincin yang melingkar di jari nya.
"ya Kakek tahu, kakek paham tapi kondisi Kamu belum benar benar sembuh, kamu harus sabar!"
ucap Wisnu mengusap punggung cucunya itu, sementara Ali terdiam mengingat gadis polos itu.
"kamu harus ikut terapi dulu Al... sabar ya!"
ucap Wisnu lalu menelepon seseorang untuk mencari tahu perempuan yang Ali Maksud.
**
zira langsung tertidur setelah sholat isya, tubuh nya benar benar lelah belum lagi harus menghadapi sikap Nina yang jutek nya minta ampun.
zira meringkuk kedinginan,,
"Abang rindu sekali sama kamu de....?"
ucap Ali memeluk tubuh zira dari belakang, mendekap nya erat.
"Zira Juga rindu bang....!"
"kamu tunggu Abang ya, Abang akan kembali dengan semua janji Abang!"
ucap Ali mencium pipi zira yang membiaskan rona merah.
zira langsung terbangun dari tidurnya, semua seperti nyata pria amnesia itu datang mendekap tubuhnya.
Zira beranjak dari duduknya menilik jam menunjukkan pukul satu malam, sudah cukup lama ia tertidur.
zira mendekap lututnya, air mata kembali hadir, entah apa maksud dari mimpi itu. setelah sekian lama zira baru memimpikan pria itu lagi.
__ADS_1
"kau membuat ku risau bang, dimana kamu bang. beri tahu aku.."
ucap zira menunduk, hujan kembali turun di sertakan petir. keadaan yang terbiasa ia hadapi sendiri...
"aku rindu bang.....!"
ucap zira memeluk kaki nya sendiri, memejamkan mata nya yang basah.
pagi.....
zira menoleh ke arah ponselnya yang berdering, terlihat Reza melakukan panggilan telepon.
"halo Paman?"
ucap zira mengangkat telpon tersebut.
"halo zira, bagaimana kabar mu di Jakarta?"
"baik... bagaimana keadaan bapak, ibu juga paman!"
"kami baik baik saja, rindu sekali dengan mu anak cengeng!"
ucap reza terkekeh.
"bisa saja, bagaimana keadaan domba zira sama si Abang?"
ucap zira teringat pria itu, tanpa segan minta pria itu menggendong nya sampai motor.
"sehat, semakin gemuk! bagaimana pekerjaan mu di sana?"
"lancar, Alhamdulillah...main ke Jakarta Paman!"
"ya, nanti aku cari waktu luang, ya sudah baik baik di sana ya!"
ucap Reza lalu mematikan ponselnya.
"siapa Ra...?"
tanya Nadia masuk ke dalam kamar kosan zira.
"paman ku....!"
ucap zira senyum.
"aku kira pacar mu...!
sebenarnya pacar mu kerja dimana?"
tanya Nadia mengamati wajah zira tanpa ekspresi.
"hilang nad......... cerita nya........."
ucap zira lalu menceritakan semuanya pada Nadia.
"nama nya siapa?"
"aku enggak tahu...!"
ucap zira tertegun.
"gimana nyari nya Ra kalau seperti itu, udah gitu amnesia, kamu kok bisa sih terpikat pria amnesia Ra...!"
"aku juga enggak tahu, calon suami ku tuh tampan, wangi, pekerja keras dia juga baik banget.. meski aku enggak tahu asal-usul nya aku enggak bisa mengontrol hati ku karena kedekatan kami, dan sekarang aku tengah tersiksa rindu Nad!"
ucap zira menunduk menyeka air matanya.
"kamu sabar ya Ra, ada Poto nya mungkin!
siapa tahu aku bisa membantu!"
ucap Nadia.
"aku enggak punya, tapi Paman ku punya Poto pertunangan kami. nanti aku minta Poto nya nad..!"
"ya kamu jangan nangis lagi ya Ra, nanti aku bantu! percaya saja jodoh itu tidak akan tertukar... Allah sudah menentukan jodoh kita sebelum kita lahir..."
zira mengangguk.
__ADS_1
bersambung...
Terima kasih sudah mampir 😍😍😍