
beberapa hari berlalu...
Alena dan Sri memang tinggal satu rumah namun keduanya tak banyak bercakap, mereka berbicara sekedar butuhnya saja.
Sri sendiri selalu berangkat pagi-pagi dan pulang malam, pekerjaan nya semakin banyak karena Wijaya tak lagi membantu nya.
Wijaya fokus pada perusahaan milik nya sendiri, ia juga sudah mengurus perceraian nya dengan Sri.
Sri sendiri tak ingin memusingkan hal itu, ia lebih memilih mengurusi pekerjaan nya di banding menangisi seseorang yang sudah mengkhianati nya.
Wisnu yang mengetahui hal itu hanya bisa berdoa untuk kebaikan kedua nya karena ia sendiri tidak ingin ikut campur urusan kedua nya, wisnu sendiri tahu bagaimana sifat Putri nya itu.
pagi itu Sri merasa begitu pusing, beberapa hari ini ia kurang tidur dan telat makan.
Alena menghampiri Sri yang tengah memijat keningnya sendiri.
"mom sakit?"
tanya Alena.
"tidak....!"
jawab Sri singkat lalu pergi meninggalkan Alena yang mematung sendiri.
"mom, Alena ingin menikah dengan bang Toni!"
ujar Alena menghentikan langkah Sri.
"terserah saja....!"
Sri kembali melangkah meninggalkan Alena yang menatap punggung nya.
"Lena tahu mommy terluka karena Dady...!"
Alena melangkah keluar dari rumah, mobil Sri sendiri sudah pergi melaju.
Alena akan menelpon Ali tentang rencananya dengan Toni.
"kalau mommy mu tidak mau mengurus pernikahan mu, biar Dady dan Mama Indah yang urus semua nya!"
alena teringat percakapan nya dengan Wijaya kala ia mengatakan bahwa sudah mantap ingin menikah dengan Toni.
**
di kampung.
Ali memperhatikan para petani yang tengah bercocok tanam, kemarin hasil panennya menurun karena hama.
Ali berpikir bagaimana jika ia memakai sistem tanaman hidroponik yang saat ini jadi bahan pembicaraan para petani modern, selain mudah hasilnya juga bisa berkali-kali lipat dari tanaman biasa.
"gimana ya kalau kita pakai sistem hidroponik..."
tanya Ali pada salah satu petani.
"kami kurang paham pak...."
"ya nanti saya akan memberikan pelatihan sebelumnya, nanti saya juga akan memperluas lahan dan lapangan.... jadi untuk saat ini bapak tolong Carikan saya informasi tentang lahan yang akan di jual."
__ADS_1
ucap Ali dan di anggukan oleh petani tersebut.
Ali menghampiri zira yang tengah duduk di saung bambu dekat ladang sambil berjemur.
semua warga tahu kalau zira tengah hamil, banyak yang mendoakan kebahagiaan mereka.
"sayang mau pulang sekarang atau nanti?"
tanya Ali duduk di samping zira, menatap wajah zira yang tampak pucat.
beberapa hari ini ia mual dan muntah, bahkan tak ada sedikitpun makanan yang masuk karena zira terus muntah.
bidan bilang usia kandungan nya mencapai dua bulan, pada trimester pertama ibu hamil memang kerap merasa kan mual dan muntah.
"aku masih mau di sini bang, sebentar lagi!
oh ya kita belum kasih tahu Alena soal kabar bahagia ini....!"
zira menyandarkan tubuhnya pada dada Ali.
"ya nanti kita kasih tahu dia ya..... nanti Abang juga kasih tahu Kakek yang di Makkah...!"
Zira mengangguk lalu menelusup kan wajah nya menghirup aroma wangi tubuh suaminya itu.
"banyak hal yang membuat ku terpikat, termasuk wangi tubuh mu....!"
Zira mendongak menatap wajah Ali sekilas lalu kembali mendekap erat tubuh Ali.
"kita pulang ya....!"
tentu dengan senang hati zira naik ke punggung kokoh itu, para petani ladang tersenyum melihat kemesraan mereka berdua.
pengantin baru yang tak pernah hilang masa indah nya, padahal pernikahan mereka sudah berjalan tiga bulan namun kemesraan itu tak pernah berkurang kedua nya selalu mesra.
Ali menggendong Zira sampai bawah dimana Motornya terparkir, saat sampai mereka berpapasan dengan Reza yang membonceng seorang perempuan.
"Nadia......!"
Reza menghentikan laju motor nya tepat di hadapan mereka.
"zira.....?"
Nadia turun dari motor lalu memeluk sahabatnya itu.
Nadia bekerja di sebuah perusahaan swasta, dan baru sempat datang ke kampung setelah beberapa waktu Reza mengatakan bahwa Nadia akan datang.
sebelum nya Reza yang mendatangi perempuan itu ke Jakarta.
"gimana kabar mu, aku dengar dari bang Reza kamu tengah hamil...?"
tanya Nadia memegang pundak zira menilik ke seluruhan Zira yang tampak lunglai.
"ya Alhamdulillah aku udah hamil?"
jawab zira sedikit menoleh ke arah Ali yang tersenyum menatap nya.
"Alhamdulillah zira aku senang sekali mendengar nya!"
__ADS_1
"ya ayo kita ke peternakan, apa paman udah ajak kamu ketemu bapak Ku....!"
tanya zira sambil beranjak menuju motor beriringan dengan Ali.
"sudah, kami juga dari sana Ra!"
jawab Nadia lalu naik ke motor, keduanya melaju menuju peternakan.
seperti rencana Ali, ia juga sudah mewujudkan keinginan nya berternak ikan air tawar.
pembangunan SD juga sudah hampir selesai berkat bantuan nya menggalang dana untuk pembangunan tersebut.
banyak perubahan di kampung itu selama kehadiran Ali di kampung itu, Apa lagi dengan rencana nya tentang tanaman hidroponik.
tentu hal itu juga akan menambah pengetahuan dan keterampilan serta lowongan pekerjaan terbaru di kampung itu.
bukan hal yang mudah tentu ia akan butuh bantuan banyak pihak, zira sendiri tidak mempermasalahkan hal itu karena memahami bahwa suaminya seorang pebisnis hebat.
mereka ngobrol sambil ngopi di halaman rumah besar itu, Ali juga membicarakan hal itu dengan reza yang menanggapi hal itu dengan antusias.
di Jakarta....
Sri termenung sendiri mengingat percakapan nya dengan Alena, sebenarnya ia tidak mempermasalahkan Alena dan Toni.
ia hanya masih kesal karena Toni membantu Ali menikah dengan perempuan kampung itu.
Toni memiliki kinerja yang cukup bagus, Sri juga tahu seperti apa Toni yang merupakan pria baik.
kepala nya sedikit pusing, ia juga merasa mual. seperti nya asam lambung nya mulai kumat.
bergegas ia beranjak untuk pulang meninggalkan pekerjaan yang masih menumpuk.
Sri merasa benar benar pusing, ia ingin Ali kembali ke rumah dan membantu nya mengurus perusahaan lagi.
tapi bagaimana caranya?
**
Alena tersenyum saat melihat Toni yang datang menjemput nya, weekend ini mereka berencana untuk pergi ke peternakan untuk membicarakan tentang Rencana pernikahan mereka.
"ayo pulang.... atau Mau makan dulu?"
tanya Toni tersenyum menatap wajah cantik dokter muda itu.
Alena tertegun perasaan nya sedikit tak enak dan teringat mommy nya yang seperti nya kurang sehat.
"pulang, kita makan di rumah saja ya!
nanti Alena masak untuk kamu"
"ah jangan kamu lelah, kita bawa dari kafe saja lalu makan di rumah"
sahut Toni dan di anggukan oleh Alena.
keduanya mampir ke kafe, di sana ada Nindy dan teman teman nya yang tengah Nongkrong, berita pernikahan itu sudah terdengar oleh Nindy yang berharap pada Toni namun harap itu pupus saat ia berhadapan dengan Alena yang lebih baik dari nya.
bersambung......
__ADS_1