
Beberapa hari berlalu....
Wisnu masih menunggu Ali yang masih terlelap, namun akhir akhir ini Ali sering kali menggerakkan tangannya dan bagi Wisnu hal itu sebuah kemajuan, kondisi luka nya juga sudah mulai menghilang.
"saya berharap cucu saya cepat sadar..."
ucap Wisnu pada dokter.
"semoga cepat sadar ya pak, coba minta di saat sunyi dan senyap. tangan yang menengadah di sepertiga malam tidak akan kembali dengan tangan hampa...!"
ucap dokter tersebut tersenyum lalu pergi meninggalkan Wisnu yang termenung sejenak mencerna ucapan dokter cantik itu.
"ya kakek akan meminta nya untuk kamu Al... Kakek sangat merindukan kamu!"
ucap Wisnu mengusap rambut Ali yang semakin gondrong.
Di tempat lain....
malam itu hujan turun dengan derasnya, zira meringkuk pada alas tipis, dingin...
air mata menetes tak terasa teringat pria yang kini entah dimana, hujan mengingat kan nya pada pria yang melingkarkan cincin di jari manis nya.
rindu itu kian menyiksa seiring berjalannya waktu semakin menggebu menyesakkan dada, zira tersedu dalam sepi nya.
"ya Allah... jika ia masih bernafas maka pertemukan aku dengan nya, apa pun kondisinya.
jika ia sakit maka aku minta, angkat rasa sakit nya, jika ia dalam keadaan sulit maka mudahkan kesulitan nya, jika ia baik baik saja aku lega namun beri tahu aku jika dia bukan untuk ku, jika ia dalam keadaan tak berdaya maka berikan ia kekuatan, jika dia sudah tiada.....!"
ujar zira tak sanggup membayangkan kenyataan itu, sekuat tenaga menahan diri agar tetap menangis tanpa suara, sakit namun ia tidak ingin ada yang mendengar derai air mata nya.
"aku.... aku mohon, beri tahu aku.. bagaimana pun cara Engkau ya Allah. berikan aku petunjuk jangan biarkan aku terus terombang-ambing dalam kebimbangan...
aku rindu, kuatkan aku ya Allah, pundak ku, jiwa dan raga ku.....!"
doa zira dalam dinginnya malam...
pagi......
zira terbangun dari tidurnya, waktu menunjukkan pukul setengah enam pagi. gegas ia pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu lalu melaksanakan shalat subuh yang hampir kesiangan.
setelah selesai zira menoleh pada cermin, wajah nya terlihat sembab, rasanya malu jika keluar dalam keadaan seperti itu.
Zira melihat kaca jendela terlihat sisa sisa air hujan membasahi kaca jendela..
Zira membuka jendela tersebut lalu menatap langit biru, matahari hendak terbit terhalang oleh biru nya Awan.
Zira tertegun terlihat Awan menampakkan senyum manis pria itu, wangi tubuh pria itu tiba tiba tercium seakan pria itu berada di belakang nya, nafas Gadis itu tersengal memeluk tubuh yang dulu sempat pria itu dekap..
"aku rindu bang, bangun dan datang padaku... jangan biarkan aku tersiksa seperti ini, kamu sudah janji akan kebahagiaan... bukan seperti ini bang, bukan....!"
ucap zira kembali terisak memeluk dirinya sendiri.
***
Nadia memperhatikan wajah zira yang tampak sembab, matanya juga sedikit bengkak.
"kamu kenapa Ra....? sakit?"
tanya Nadia, saat ini mereka berada di ruangan Ob.
__ADS_1
"enggak apa-apa kok nad, cuma rindu!"
ucap Zira menatap cincin yang melingkar di jari manis nya.
"pacar kamu?"
Zira mengangguk sambil mengambil peralatan untuk membersihkan toilet yang berada di depan.
"aku kerja dulu nad....!"
ucap zira berlalu dari hadapan Nadia yang mematung.
"sebenarnya kemana pacar kamu itu Ra?"
ucap Nadia lalu mulai dengan pekerjaan nya.
Zira masuk ke dalam toilet pria, gegas Karena sebentar lagi para karyawan kantor akan segera datang.
zira mengganti semua tisu yang sudah Habis, mengepel semua lantai sampai bersih.
"lelah nya....!"
gumam zira duduk di bawah namun tiba-tiba seseorang masuk membuat nya langsung berdiri namun terpeleset karena lantai nya masih licin.
"hai nona?"
ucap seorang pria mendekati zira.
"Anda tidak apa apa!"
ucap Toni, pria itu tangan kanan Ali yang di tugaskan Wisnu untuk mengatur perusahaan.
ucap zira segera beranjak berdiri sambil menunduk lalu pergi dari hadapan Toni yang tersenyum, sebelumnya ia tidak pernah melihat ob itu.
Toni menoleh menatap punggung zira yang menjauh membawa peralatan nya.
"sudah selesai pekerjaan kamu?"
ucap ibu Nina, wanita itu merupakan kepala ob di perusahaan itu, jutek tak pernah tersenyum sedikit pun.
"sudah bu....!"
ucap zira menunduk.
"sekarang kamu bersihkan halaman belakang bersama yang lain nya....!"
"baik Bu...!"
ujar zira langsung beranjak pergi, sebenarnya lelah dan ingin berehat barang sepuluh menit saja namun ia tidak mau membantah karena Nina yang memang sangar dan tak bisa di bantah.
zira membawa sapu nya menuju halaman belakang Dimana terdapat taman kecil tempat karyawan nongkrong jika jam istirahat.
dari tempat itu tak jauh halaman parkir karyawan perusahaan, Toni memperhatikan zira yang tengah menyapu bersama ob yang lain nya.
Zira mendongak melihat ke arah Toni yang juga tengah menatap nya, tersenyum membuat zira terpaku.
"hai kalau kerja Jangan banyak melamun...."
ucap salah seorang sedikit mendorong tubuh zira Hingga zira tersadar lalu melanjutkan pekerjaan nya.
__ADS_1
Toni memperhatikan zira yang langsung pergi dari tempat itu, entah kenapa jantung nya berdebar saat melihat gadis itu.
"emang ada ob baru ya di kantor?"
tanya Toni pada Roni supir kantor, Toni hendak pergi meeting di luar dengan klien.
"kurang tahu, coba Tanya Nina. dia kan kepala ob di kantor pak, memang nya ada apa pak?"
tanya Roni.
"enggak....."
ucap Toni tersenyum sendiri, ia merasakan sensasi yang berbeda melihat gadis itu.apa mungkin ia jatuh cinta pada pandangan pertama?
***
jam istirahat...
Zira mengambil nasi kotak yang disediakan oleh catering perusahaan itu lalu membawa nya keluar bersama Nadia, Beberapa kali kena omel Nina membuat zira jengah.
"kenapa Ra...?"
tanya Nadia duduk di samping zira yang terlihat lesu.
"berapa kali di omelin Bu Nina, kalau salah sih enggak apa-apa tapi lebih ke mengada ngada..udah gitu aku enggak boleh pulang dulu nanti, suruh beresin ruangan ob dulu..."
ucap zira lalu mulai menyantap makanan nya.
"oh gitu, aku tungguin Ra tenang aja jangan sedih ya, kalau soal Bu Nina jangan di pikirkan dia memang begitu!"
ucap Nadia mengelus punggung zira.
"terima kasih ya nad, dari dulu sampai sekarang kamu selalu baik sama aku. kamu udah seperti saudara ku!"
ucap Zira tersenyum lebar pada Nadia.
"ya kita kan sama sama perantauan jadi harus saling membantu, aku nyaman sama kamu zira... kalau ada apa-apa jangan sungkan..."
ucap nadia senyum lalu makan bersama.
Nadia dan zira sama sama terpaku saat seorang Pria tampan tiba-tiba duduk di hadapan mereka.
"hai......"
ucap Toni tersenyum menatap kedua perempuan yang sama sama membeku dengan keberadaan nya yang tiba-tiba.
****
Rindu.....
rasa itu terus menerus mendesak hingga memberikan nya kekuatan untuk terjaga dari tidur panjangnya...
"Zira........."
ucap Ali lirih sedikit membuka matanya.
bersambung....
terimakasih yang sudah mampir 😍😍😍
__ADS_1