
Dari jendela hotel Ali menatap keindahan kota Makkah dan masjid al-haram, beberapa jam lagi ia dan keluarga akan kembali ke tanah air, namun satu yang tertinggal.
sang ibu yang menetap untuk selamanya di tanah suci, rasa sedih masih menyelimuti relung hati tak kala mengingat kenangan saat bersama, entah itu bahagia atau pun bagian sedih dari perjalanan tersebut.
Ali mengingat keinginan sang ibu yang mengatakan bahwa Sri ingin Ali mengadakan acara resepsi pernikahan nya dengan zira.
"Mommy menyesal karena terlambat menyadari bahwa zira itu Pasangan yang ideal untuk kamu... dia perempuan baik, Selama ini mommy terlalu memikirkan nama baik... tidak sadar bahwa justru akan lebih buruk jika mommy memiliki menantu seperti Gisel atau Siva, zira bahkan melupakan semua sikap buruk mommy terhadap nya, jaga rumah tangga kalian, bahagiakan seseorang yang sudah kamu perjuangan kan..."
ujar Sri saat berada di pesawat.
"bang...."
sapa zira menyentuh pundak Ali, membuyarkan lamunannya.
"ada apa sayang....!?"
tanya Ali menatap zira yang sudah bersiap pulang.
"yang lain sudah menunggu kita bang, ayo kita pulang..."
Ali mengangguk lalu menggenggam tangan zira, melangkah keluar dari kamar hotel tersebut.
"walau berat meninggalkan mu mom, tapi doaku untuk mu tak akan pernah putus..."
gumam Ali dalam hati lalu naik ke mobil bersama yang lain nya.
***
beberapa waktu berlalu mereka sampai di tanah air, supir pribadi sudah datang untuk menjemput mereka.
terlihat beberapa mobil berjejer untuk membawa mereka sampai di rumah, zira memperhatikan wajah Ali tampak murung.
"sayang..."
ujar zira membuat Ali menoleh.
__ADS_1
"HM kenapa....?"
tanya Ali senyum lalu merengkuh tubuh istrinya.
"maaf ya kalau Abang mengabaikan kamu, Abang sedang memikirkan keinginan mommy..."
"keinginan mommy? apa itu...!?"
tanya zira.
" mommy bilang, dia minta Abang untuk membuat acara resepsi pernikahan kita...menurut kamu, kita bikin acara nya dimana de? karena mommy bilang meski beliau enggak ada hal itu harus tetap di wujud kan.."
zira mengangguk sambil berpikir mencerna ucapan Ali.
"Zira sih dimana aja bang, ya bagus nya sih di mana cinta itu tumbuh..."
Ali senyum mengerti maksud istri nya itu." Baiklah kita akan membuat acara tersebut di kampung, tapi setelah acara pengajian mommy selesai ya..."
Zira mengangguk lalu mendekap erat tubuh suaminya itu.
tak berapa lama mereka sampai di rumah, dan mendengar beberapa orang tengah mengaji, seperti perintah Wijaya meminta Tante nya untuk mengadakan pengajian hingga tujuh hari Sri.
"kalian sabar ya, mommy kalian sudah bahagia di sana bersama ibu nya..."
ujar Irene dan di anggukan oleh Ali dan Alena yang langsung menyeka air matanya.
beberapa orang juga mendoakan dan memberikan dukungan untuk keluarga yang di tinggalkan.
beberapa waktu berlalu, Rumi dan Ahmad tinggal di rumah itu hingga acara pengajian selesai, Wijaya dan indah juga pamit untuk kembali ke rumah mereka.
pagi ini Ali dan zira mengantarkan Rumi dan Ahmad ke rumah mereka, tinggal Alena dan Toni serta Wisnu yang berada di rumah besar itu.
"ibu kapan rencana mau pulang?"
tanya zira saat mereka sampai di rumah.
__ADS_1
"weekend ini saja Ra, ibu sama bapak kembali ke kampung...!"
jawab Rumi lalu duduk di sofa bersama zira.
"ya,Bu kita juga mau ke kampung, mommy berwasiat kepada Ali untuk membuat acara resepsi pernikahan ali dan Zira, kami sepakat untuk membuat acara itu di peternakan.."
ujar Ali lalu membicarakan tentang rencana tersebut pada Rumi dan juga Ahmad.
tentu saja hal itu di tanggapi dengan antusias oleh Rumi dan Ahmad.
"kita gelar acara besar ya Bu, nanti kita pulang bersama ke kampung untuk mengurus acara tersebut, Ali juga sudah membicarakan hal ini dengan keluarga, termasuk pada Paman Reza.."
sambung ali dan di anggukkan oleh Ahmad.
"ya kamu tenang saja Al, kami pasti turut serta untuk mengurus acara tersebut..."
jawab Ahmad, setelah itu mereka masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat sementara Ali kembali ke kantor untuk membicarakan rencana itu dengan Toni karena selama pergi Toni lah yang akan mengurus pekerjaan di kantor.
**
di tempat lain...
Wijaya terus memperhatikan indah yang tengah mempersiapkan sarapan untuk nya, perutnya terlihat sedikit buncit karena usia kandungan nya sudah mencapai empat bulan.
"de kamu mau ikut ke kampung zira enggak?" tanya Wijaya saat indah sudah duduk di hadapan nya.
"mau lah bang, aku mau hadir di acara mereka...hitung hitung liburan, zira bilang kampung nya masih sangat asri dan jauh dari kota, suasana nya pasti sejuk..."
jawab indah senyum, kini ialah satu satunya istri Wijaya.
"ya kita akan ke peternakan nanti..."
balas Wijaya, di tempat itu juga banyak kenangan saat bersama Sri.
Wijaya menghela nafas lalu mengirim kan doa untuk istri nya Itu.
__ADS_1
bersambung....
bersambung...