terpikat pria tampan amnesia

terpikat pria tampan amnesia
tak sanggup jauh.


__ADS_3

waktu menunjukkan pukul setengah satu siang, saat ini zira tengah berada di rumah Ahmad.


beberapa waktu yang lalu zira tak henti muntah hingga membuat Ali khawatir dan meminta bantuan Reza untuk membawa zira ke klinik.


"menginap lah beberapa hari di rumah ini, ibu khawatir sama kamu Ra!"


ujar Rumi duduk di hadapan zira yang bersandar pada Ali.


"ya benar de enggak apa-apa kita di sini saja dulu!"


Ali setuju dengan saran dari Rumi karena terkadang Ali bingung sendiri menghadapi zira yang tengah mabok.


"ya udah kalau gitu bang....!"


jawab zira menurut pada Ali.


Ahmad memperhatikan sebuah mobil yang parkir di halaman rumah, Alena dan Toni menghentikan laju mobil nya saat melihat motor Ali terparkir di halaman rumah zira.


"assalamualaikum.... pak!"


Alena tersenyum menghampiri lalu mencium tangan Ahmad di ikuti oleh Toni.


"walaikumsalam....."


Ali menoleh ke arah luar, tersenyum melihat Alena dan Toni berjalan memasuki rumah.


"assalamualaikum....!"


Alena kembali mengucapkan salam lalu mencium tangan Rumi, Ali, lalu memeluk zira.


"duduk na...."


titah Rumi lalu keluar untuk mengambil minuman.


"kenapa Zira bang? sakit?"


tanya Alena menilik wajah zira tampak pucat.


"ya , Kamu bentar lagi bakal punya keponakan!"


ujar Ali sembari mengusap perut zira yang masih rata, Alena melebarkan matanya dengan binar bahagia.


"Alhamdulillah, Alena senang sekali mendengar nya bang.


selamat ya zira....!"


"ya terimakasih Len...."


jawab Zira senyum.


"beberapa kali Abang telpon untuk Kasih tahu kamu tapi enggak pernah di angkat"


ujar Ali.


"ya bang, maaf ya kalau di rumah sakit Lena sibuk, kalau di rumah.........!"


Alena menghentikan ucapannya, Alena berpikir untuk membicarakan masalah itu di peternakan saja.


Nadia sendiri tengah membantu Rumi Di warung bersama Reza.


"kenapa?"


tanya Ali menilik wajah Alena, Toni sendiri lebih banyak diam.


"enggak bang, ya udah kita ke peternakan ya.


nanti Lena mau bicara....!"

__ADS_1


ucap Alena tersenyum membuat zira tertegun, apa yang ingin lena bicarakan hingga ia tidak bisa berbicara saat itu juga.namun zira berpikir mungkin ada hal yang menjadi privasi keluarga mereka.


"ya sudah, lena duluan ya!"


ucap Alena lalu beranjak dari duduknya memeluk zira lalu pamit pada Rumi dan Ahmad.


"kamu mau di sini atau ikut Abang ke peternakan de?"


tanya Ali menggunakan jaket tebal Nya, seperti nya ada hal penting yang ingin Alena bicarakan.


"zira disini saja bang!"


"ya sudah, Abang ke peternakan dulu ya!


seperti nya Lena ingin membicarakan hal penting.


zira mengangguk lalu membiarkan Ali pergi meninggalkan nya setelah pamit pada Ahmad.


Zira masuk ke dalam kamar lalu merebahkan tubuhnya yang terasa lemas, perasaan nya tiba tiba tak enak.


semoga tak ada kabar buruk yang terjadi.....


***


sore.....


Zira membuka jendela kamar nya, terlihat burung burung berterbangan ke sana kemari.


Ali masih berada di peternakan dan belum kembali, namun tak lama terdengar suara motor Ali berhenti di depan rumah.


gegas zira keluar dari rumah menghampiri Ali yang turun dari motor.


"gimana Masih mual enggak sayang?"


tanya Ali mengusap kepala istri nya.


tanya zira berjalan beriringan bersama Ali masuk ke dalam rumah.


"ya sayang, mereka ingin menikah!"


jawab Ali membuat zira tersenyum.


"apa ada hal lain bang?"


tanya Zira tak yakin hanya itu yang Alena bicara kan.


"kita bicara di dalam ya?!"


ajak Ali masuk ke dalam kamar zira.


"ada apa bang?"


tanya zira duduk di tepi ranjang.


Ali tertegun memangku wajah nya sendiri.


**


ketiga nya duduk di sofa ruang tamu, sebelumnya Alena meminta Darmi untuk menyiapkan makan siang untuk mereka karena ia merasa lapar.


"ada apa tumben enggak kasih tahu kalau mau datang...." tanya Ali menilik wajah keduanya.


"bang, aku dan bang Toni ingin menikah...."


ujar alena langsung mengemukakan keinginan nya.


"tapi Dady dan mommy bang...."

__ADS_1


ujar Alena lagi.


"kenapa? apa mereka tidak merestui kalian juga? terus kamu yakin mau menikah dengan teman Abang?" tanya Ali menilik ke arah Toni yang senyum sambil mendelik.


"Lo tahu gue seperti apa? gue enggak pernah main perempuan!"


Toni mencoba membela diri.


"yah sih gue percaya terus kenapa dengan orang tua kita?"


tanya Ali.


Alena menceritakan tentang Wijaya yang bercerai dengan mommy nya, sontak hal itu langsung membuat Ali tertegun.


"Dady tuh sebenernya udah lama punya simpanan, bahkan mereka sudah punya dua anak.


perempuan berusia tujuh tahun dan laki laki seumur tiga atau empat tahunan lah, Lena Beberapa kali memergoki.... hebatnya Dady menyimpan rapat rahasia itu selama tujuh tahun."


ucap Alena.


"mommy sakit bang, kemarin pingsan dan semalam demam tinggi. Lena enggak tidur semalaman nunggu mommy yang terus mengigau nama Abang...


kasihan mommy karena mengurusi semua sendiri, cobalah Abang mengalah demi keluarga kita.


perusahaan terbengkalai kalau seperti ini, ajak zira ke Jakarta bang!


kembali lah ke perusahaan, jangan sampai orang yang iri dengan kita manfaatkan keadaan ini..."


lanjut Alena lagi mengingat beberapa pesaing bisnis keluarga nya.


Ali termenung memikirkan hal itu, apa zira mau di ajak ke Jakarta apa lagi dalam keadaan hamil seperti sekarang ini.


*


zira tertegun mendengar kan Ali menceritakan apa yang Ali bicara kan dengan Lena.


"kamu mau enggak ikut Abang ke Jakarta de...?"


tanya Ali menoleh ke arah zira yang terpaku sendiri.


zira termenung mengingat bagaimana sikap Sri, angkuh dan tak menyukai nya bahkan dengan tegas Sri tak merestui pernikahan keduanya.


"Mungkin ini jalan untuk kita meraih restu nya mommy, Abang janji akan jaga kamu de!"


Ali meraih tangan zira lalu menggenggam nya.


"Abang enggak bisa jauh dari kamu de, tapi Abang juga tidak bisa mengabaikan wanita yang sudah melahirkan Abang ke dunia ini....!"


sahut Ali membuat zira semakin membeku.


"maaf kan Abang karena harus membawa kamu dalam masalah ini....! tapi kalau kamu enggak mau ikut ke Jakarta juga enggak apa-apa, nanti tiap weekend Abang pulang"


ucap Ali memberikan pilihan, tapi zira Juga tidak akan sanggup jauh dari pria itu.


"zira enggak mau jauh dari kamu, apa lagi sekarang zira lagi hamil, tapi maafkan zira bang karena zira enggan tinggal di rumah Abang!"


"ya, nanti kita akan cari rumah untuk kita tinggal berdua saja, sementara waktu kita tinggal bersama mommy dulu sampai aku membeli rumah untuk kita, Abang janji tidak akan lama.


seminggu atau Minggu lah....kamu mau bersabar kan de!"


tanya Ali yang paham bagaimana Sri, Ali juga berpikir untuk pisah rumah.


"ya sudah nanti kita bicarakan dengan bapak dan ibu, bapak juga berencana untuk pergi ke Bandung untuk melamar Nadia untuk Paman!"


bersambung....


terima kasih yang sudah mampir, jangan lupa like dan komentar ya!😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2