
Sepulang dari sekolah, zira dan Ali membantu Rumi dan Ahmad berbelanja di pasar untuk kebutuhan acara besok malam.
"nih, Abang tambahin uang untuk beli ayam de...! kasih ke ibu"
ucap Ali mengepalkan uang sebesar lima ratus ribu rupiah, sebelumnya Ali Sudah memberikan uang sebesar satu juta.
"bang, apa enggak kebanyakan? kemarin kan udah"
ucap zira sedikit merasa tak enak hati.
"enggak, itu dari paman mu. nanti Abang akan ganti.... biar ibu senang.!"
"baiklah....!"
ucap zira senyum lalu menghampiri Rumi yang tengah memilih sayur bersama Ahmad.
"Bu, si Abang tambahin uang belanja nya untuk beli ayam!"
"HM, emang dia punya uang!"
"punya, si Abang kan kerja di peternakan. lumayan uang nya!"
mendengar hal itu Rumi langsung tersenyum dan menerima uang yang di sodorkan oleh zira.
"ya sudah, besok pagi kamu ambil lalapan ya di ladang, banyak kok untuk tambahan makanan nya!"
"ya, Bu. nanti zira ke ladang Sama si Abang!"
Rumi tersenyum mengangguk.
zira merasa senang karena Rumi tak lagi bersikap jutek pada Ali, ibunya itu sedikit melunak mungkin karena Ahmad Yang selalu menasehati istrinya itu.
setelah selesai mereka kembali ke rumah, Ali membantu membawakan beberapa belanjaan, terlihat beberapa ibu tetangga berbisik bisik.
"biasalah... biarkan saja!"
gumam zira sendiri lalu masuk ke dalam rumah.
"bang, manjat Pohon bisa enggak?"
tanya zira menunjuk pada pohon mangga yang berada di samping rumah.
"HM emang kenapa?"
tanya Ali menoleh ke arah pohon yang cukup besar dan tinggi.
"ngambil mangga di atas!"
ucap zira menaikan alisnya.
"enggak bisa de....!"
ucap Ali belum apa apa dia sudah membayangkan jatuh, pohon nya lumayan tinggi.
"masa sih bang....!"
Ali mengangguk. ia tak ingin lagi terjatuh apa lagi terbentur , beberapa waktu ini ia juga sering kali merasakan pusing seperti nya efek kejadian lalu namun ia tidak pernah mengeluh kan hal itu pada zira, tidak ada yang tahu kalau ingatan nya sudah kembali biarlah untuk sementara waktu ini menjadi rahasia.
"ya sudah zira saja yang naik..!"
ucap zira hendak naik namun Ali menahannya.
"jangan de...!"
"kenapa? zira udah biasa naik!"
"enggak boleh nanti Abang intip kamu dari bawah....!" ucap Ali tersenyum nakal.
"ih......!"
ucap zira menepuk pundak Ali pelan.
"jangan de, cukup Abang yang amnesia... Abang takut kamu jatuh! ini sudah sore!
__ADS_1
Abang laper....!"
ucap Ali beralasan.
"ya sudah, ayo kita makan. ibu pasti sudah masak!"
ucap zira menarik tangan Ali masuk ke dalam rumah.
"tunggu ya!"
ucap zira mengambil makanan untuk pria tampan itu.
"Bu, zira lapar!"
ucap zira menghampiri Rumi yang tengah menata sayuran bersama satu orang tetangga yang akan membantu Rumi memasak tentu tetangga yang baik hati dan tidak julid.
hehe.....
"ada ikan teri sama sambel, ibu belum masak lagi!"
ucap Rumi menoleh sekilas.
"ya sudah, enak lah Ikan teri juga!"
ucap zira lalu membawa nya keluar.
"bang....ibu belum masak, di dapur juga belum beres...!"
ucap zira menyodorkan makanan tersebut.
"Ya sudah makan yang ada saja!"
ucap Ali menerima dengan baik.
awalnya memang tidak terbiasa makan makanan seperti itu, namun lambat laun ia terbiasa karena makanan seperti itu pun rasanya nikmat apalagi makan dengan kekasih.
"pedes de, kamu yang bikin sambel nya?"
tanya Ali pada zira yang mengangguk sambil tersenyum, gadis penikmat makanan pedas.
ucap zira terkekeh kecil, sementara Ali hanya menggeleng tersenyum melihat tingkah zira yang menggemaskan.
...----------------...
ke esok kan hari nya.....
selepas subuh zira membantu Rumi dan bu Marni menyiapkan peralatan masak untuk acara nanti malam, rasanya tidak sabar menunggu waktu itu.
"zi...kamu ambil lalapan di ladang sama bapak ya!"
titah Rumi.
"sama si Abang saja Bu!"
ucap Zira lalu menelepon Reza untuk memberi tahu Ali ia menunggu nya Di rumah.
setengah jam kemudian Ali sampai di rumah zira, Ahmad langsung memanggil anak gadis nya itu. gegas zira menghambur ke luar menghampiri Ali yang sudah menunggu di atas motor.
Zira tertegun menatap wajah tampan Ali dengan rambut nya yang basah, seperti nya Ali baru selesai mandi.
"siap berangkat?"
tanya Ali tersenyum lalu menyalakan mesin motor.
zira mengangguk tersenyum...
dari kejauhan seseorang tengah mengamati mereka berdua lalu menelpon seseorang memberikan laporan.
tak berapa lama mereka sampai di ladang, terlihat beberapa petani tengah membersikan kebun masing masing, ada beberapa yang menyapa dan beberapa tampak cuek cuek saja.
"kamu tunggu di sini atau ikut memetik bang?"
tanya zira berjalan ke arah tanaman sayuran hijau yang sudah biasa menjadi lalapan.
__ADS_1
"aku tunggu di sini saja.... menikmati pemandangan indah, perempuan cantik tengah berada di ladang!"
ucap Ali tersenyum, dulu juga ia pernah mengamati zira di ladang dengan ibunya.
sayang ia terlalu pengecut untuk menampakkan diri, namun kini gadis itu berada dalam penjagaan nya.
"nanti mampir sebentar ke peternakan ya de..."
ucap Ali menghampiri zira dan memeluk nya dari belakang namun cepat zira menghindar.
"jangan bang, kalau ada yang lihat nanti di sangka kita macam macam, ini kampung hal seperti itu sangat sensitif...!"
ucap zira membuat Ali langsung tak enak hati.
"maaf ya de Abang lupa, di kampung enggak seperti di kota...!"
ucap Ali lalu ikut memetik sayuran.
"Abang tahu kehidupan di kota!"
tanya zira sedikit heran karena Ali mengatakan hal itu.
"m, Abang lihat di TV...!"
"bang, beneran Abang belum ingat apapun!"tanya zira ia peka dan merasakan sesuatu yang berbeda.
seperti ucapan Ali saat di pasar kemarin sore.
"lain kali Abang Beli pasar ini untuk kamu tapi nanti kalau Abang balik ke kota ya!"
ucap Ali tanpa sadar.
"ya Abang enggak inget, kenapa de kamu meragukan Abang?"
"enggak, hanya akhir akhir ini Abang sering membicarakan kota...!"
"oh kalau soal itu kan perumpamaan de, mungkin saja Abang ini orang berada, berharap seperti itu agar kamu kelak tercukupi...!"
ucap Ali membuat zira tertegun.
"orang berada.....?"
tanya zira dalam hati menatap Ali yang tengah memetik sayuran.
"jangan pikirkan itu, Abang cinta dan sayang sama kamu....!"
ucap Ali tersenyum mengusap kepala zira yang berbalut kerudung segitiga berwarna hitam.
"cinta dan sayang juga butuh kejujuran serta kepercayaan"
ucap zira membuat Ali termangu.
"kejujuran serta kepercayaan ibarat penopang dalam sebuah bangunan, jika tidak ada kejujuran maka bangunan itu akan hancur....!"
ucap zira lagi menatap netra milik Ali yang langsung terpaku.
"enggak ada yang Abang sembunyikan, untuk apa de?
semua Abang lakukan untuk kamu!"
ucap Ali meraih tangan zira, matahari sudah mulai naik ke atas, sinarnya sedikit menyengat meski udara tampak sejuk.
"Maafkan Abang de, Abang akan jujur setelah kita menikah nanti!"
gumam Ali dalam hati nya.
"ayo sudah mulai panas, kita ke peternakan sebentar!"
zira mengangguk lalu membawa sayuran itu turun ke bawah.
bersambung......
terima kasih sudah intip intip...
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar ya😍😍😍