
Dua jam setelah kejadian pasien mengamuk...
"Syukurlah... keadaan kembali tenang, tadi itu bikin tegang saja. Pasien baru itu tiba-tiba mengamuk dan menodongkan gunting yang dia rampas dari perawat. Gak sampai di sana, dia juga meracu berbicara tidak jelas, untung saja sekarang dia sudah klenger karena bius." Ujar Lukman.
"Memangnya dia tadi ngomong seperti apa?" Tanya Dokter Rio yang kebetulan tidak di tempat kejadian waktu itu karena sedang berada di ruang penyimpanan obat.
"Tidak begitu jelas, hanya saja dia selalu bicara 'Aku harus dapatkan uangnya, jangan bawa adikku' gitu." Jawab Lukman.
"Apa maksudnya itu?" Tanya Dokter Rio lagi.
"Entahlah... Dia juga menyebutkan nama Lamona dan Erisha." Kata Lukman lagi.
"Apa mungkin itu nama kedua adiknya? Apa ada seserang yang membawa adik-adiknya itu?" Ucap Dokter Rio dengan menebak-nebak.
"Mungkin saja, aku sendiri kurang jelas." Sahut Lukman.
"Memangnya orang yang mengantarnya kesini tidak mengatakan apapun?" Tanya Elias yang tadi hanya menyimak.
"Aku belum sempat bertanya pada orang yang mengantar." Jawab Lukman.
Sementara Zahara dan juga Wangi hanya menyimak obrolan para koleganya itu dengan mata yang saling lirak lirik memberi kode.
"Aku mau ke toilet dulu." Ujar Wangi tiba-tiba sambil beranjak dari kursi kerjanya.
"Bareng, aku juga mau ke sana." Seru Zahara.
"Yaelahh... Dasar ibu-ibu mau ke toilet saja bareng-bareng." Celetuk Lukman sambil geleng-geleng kepala, namun kedua dokter cantik itu tidak menanggapinya dan langsung keluar begitu saja dari ruang dokter.
Begitu keluar, Wangi langsung menggelandang tangan Zahara dan mengajaknya ke tempat yang lebih sepi untuk mengajaknya bicara.
"Di sini tidak ada orang kan?" Tanya Wangi sambil menengok ke kanan kiri dan belakangnya.
"Aman." Jawab Zahara.
"Ra, kamu dengar apa yang dikatakan Lukman tadi kan?" Tanya Wangi dan Zahara pun mengangguk tegas.
"Lamona..." Ucap Zahara.
"Benar, itu nama yang juga keluar dari mulut pegawai mini market tadi malam. Tapi itu bukan nama adik pasien itu, melainkan..." Wangi menjeda kalimatnya dan meneruskannya kembali bersamaan dengan Zahara.
"Kasino." Ucap Wangi dan Zahara bersamaan.
"Lalu Erisha yang disebut oleh pasien tersebut mungkin itu nama adiknya yang sesungguhnya." Lanjut Wangi.
"Benar." Sahut Zahara.
"Lalu kita harus bagaimana? Ini mungkin bukan urusan kita seperti apa yang dikatakan Galih dan Romero. Tapi secara tidak sengaja kita sudah melihat kejadian kekerasan yang pasien itu alami tadi malam, mau tidak mau aku jadi kepikiran juga. Haruskah kita menceritakan hal ini pada Galih dan Romero?" Tanya Wangi.
__ADS_1
"Iya, aku juga jadi kepikiran karena orang itu tiba-tiba datang ke Rumah Sakit kita sebagai pasien. Tapi sebelum itu alangkah baiknya kita mencari informasi, kita bisa bertanya pada orang yang datang bersama pasien itu." Kata Zahara.
"Kau benar, kita harus menanyakan perihal yang terjadi pada pasien itu ke orang yang datang bersamanya." Sahut Wangi dan Zahara menganggukkan kepalanya setuju, lalu mereka berdua bergegas pergi untuk menemui orang yang tadi mengantar pasien itu.
"Orangnya tadi ada dimana ya?" Tanya Zahara.
"Tadi aku lihat dia menunggu di luar ruang UGD." Sahut Wangi.
"Itu dia!" Lanjut Wangi ketika mendapati orang yang datang bersama pesien tadi sedang duduk di luar dekat pintu ruang UGD. Merekapun segera mendekati orang tersebut.
"Excuse me, are you the patient's family inside? We are both doctors here." Tanya Zahara. Dan untungnya orang itu mengerti sedikit bahasa Inggris.
"No, I'm his neighbor." Jawab lelaki setengah baya itu yang ternyata merupakan tetangga pasien tersebut.
"Oh, sorry. I thought you were the father." Ucap Zahara merasa tak enak.
"Ali and his younger sister were orphans." Terang lelaki paruh baya itu yang mengatakan bahwa pasien lelaki yang diketahui bernama Ali tadi bersama adiknya adalah yatim piatu.
"What is your name?" Tanya Wangi.
"I'am Ismail." Jawab lelaki paruh baya itu yang bernama Ismail.
"Pleased to meet you, Ismail. Can you tell me what happened to Ali?" Tanya Wangi, lalu lelaki bernama Ismail tersebut menceritakan apa yang terjadi pada Ali. Ternyata Ali ke kota untuk bekerja dan tanpa sepengetahuannya tempat kerjanya itu adalah sebuah bar yang juga tempa judi alias Kasino. Dia ingin keluar dari pekerjaannya tapi tidak bisa karena dia terlanjur berhutang pada bossnya. Lalu orang-orang yang bekerja di bar itu membawa adik Ali yang bernama Erisha dengan paksa yang kebetulan sedang ikut ke kota bersama Ali untuk menjual buah-buahan di sana sebagai jaminan atas hutang-hutangnya. Kemudian saat Wangi menanyakan masalah Ali yang menggunakan narkoba, lelaki bernama Ismail itu menjawabnya tidak tahu.
"Thanks for the information. Hopefully his problem will be solved soon." Ucap Zahara yang kemudian pergi bersama Wangi meninggalkan Ismail di sana setelah berpamitan dengan bapak tua itu.
"Iya, aku barusan sudah mengirim pesan pada Galih untuk mengajak Romero bersamanya menemui kita di bangunan benteng. Di sana tempat yang cocok untuk bicara karena pasti saat ini sedang sepi." Jawab Wangi yang langsung disetujui oleh Zahara. Dan mereka berduapun bergegas ke sana.
Sesampainya di sana ternyata sudah ada Galih dan Romero yang sudah datang lebih dulu.
"Kalian sudah datang?" Ujar Zahara ketika melihat Galih dan Romero.
"Apa yang terjadi? Kata Wangi ada masalah penting yang mendesak." Tanya Galih.
"Kalian tahu kan tadi ada pasien yang datang dengan ambulans ke Rumah Sakit kami?" Tanya Wangi.
"Iya, tentu saja karena sirenenya sangat keras." Jawab Romero.
"Lalu kalian berdua tentunya masih ingat apa yang kita lihat tadi malam di kota." Ucap Wangi lagi.
"Tentu saja, kejadian itu masih tadi malam. Lalu apa hubungannya dengan itu?" Tanya Romero.
"Pasien yang datang tadi adalah orang yang sama yang kita lihat tadi malam yang sedang dikeroyok oleh para berandalan di kota." Jawab Zahara. Mendengar jawaban Zahara, Romero dan Galih sontak terkejut, mereka saling pandang satu sama lain dengan wajah yang terkejut sekaligus bingung.
"Kok bisa? Kalian yakin?" Tanya Galih memastikan pendengarannya sekali lagi.
"Tentu saja, meski tadi malam sudah gelap tapi mata kami masih awas. Bahkan pakaian dan juga potongan ambut lelaki itu masih sama dengan yang tadi malam. Luka-luka bekas penganiayaan itupun juga sudah cukup sebagai buktinya." Jawab Zahara.
__ADS_1
"Astaga... Sebenarnya apa yang terjadi? Kalian berdua belum bercerita kepada siapapun tentang apa yang kita lihat bersama tadi malam kan?" Tanya Romero.
"Tentu saja, kamu kira kami bodoh hah?!" Seru Zahara kesal pada kekasihnya itu.
"Bagus, jadi tolong ceritakan yang kalian tahu tentang lelaki itu." Pinta Galih. Lalu Wangi dan Zahara pun menceritakan sesuai apa yang mereka ketahui dari cerita Ismail tadi.
"Jadi begitu ceritanya, mereka sampai melakukan penculikan pada adiknya. Lalu apa sudah ada yang melaporkan pada polisi?" Tanya Galih.
"Entahlah... Kami tidak tahu, orang bernama Ismail itu juga tidak bicara tentang laporan kepada polisi." Jawab Wangi.
"Aku harap mereka belum melaporkannya." Ujar Galih.
"Kenapa? Bukankah seharusnya begitu?" Tanya Wangi.
"Apa kamu lupa dengan yang kita bicarakan tadi malam? Mereka para gangster itu bekerjasama dengan salah satu polisi di sana." Jawab Galih dan seketika Wangi ingat tentang cerita soal tato Kaljengking yang Galih dan juga Romero bicarakan tadi malam.
"Lalu kita harus bagaimana? Kalian bilang ini bukan wewenang kita untuk ikut campur, tetapi secara tidak langsung kita sudah mengetahui masalahnya, lalu adik perempuan pasien bernama Ali itu juga tidak bisa kalau terus diabaikan." Tanya Wangi yang sesikit khawatir.
"Apa lelaki yang bernama Ali itu sudah bisa diajak bicara?" Galih tidak menjawab dan justru menanyakan pertanyaan lain.
"Belum, dia baru saja tertidur setelah mengamuk beberapa saat yang lalu." Jawab Wangi.
"Kalau begitu kita tunggu dia siuman lalu menanyainya langsung." Jawab Galih.
"Karena sudah seperti ini, kita juga akan membicarakan masalah ini secara pribadi dengan Komandan." Lanjut Galih.
"Aku setuju, masalahnya salah satu opsir polisi di sana terlibat dan juga sebelumnya opsir polisi itu membohongi kita waktu kejadian perampokan mobil box pengiriman UNIFIL beberapa bulan yang lalu." Kata Romero.
Disaat mereka berempat sedang berbicara serius, tiba-tiba phonsel milik Wangi berdering dan setelah dia lihat itu dari Lukman.
"Hallo Luk, ada ap..." Belum selesai Wangi bicara, Lukman langsung memotongnya.
"Kamu dan Zahara ada dimana? Kenapa ke toiletnya lama sekali?! Ada keadaan darurat! Pasien tadi mengalami kejang-kejang, kalian cepat kembali!" Setelah mengatakan itu dengan nada cepat, Lukman langsung memutuskan telponnya.
"Apa masalah apa?" Tanya Zahara.
"Code Blue!" Hanya itu jawaban Wangi dan langsung pergi dengan terburu-buru dengan diikuti Zahara yang langsung mengerti dan tidak bertanya lagi.
"Rom, kita harus menemui Komandan sekarang juga! Jangan sampai kejadian ini membuat resah kita." Kata Galih menegaskan.
"Iya, aku setuju!" Jawab Romero dengan tegas pula.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...