Wangi Untuk Galih

Wangi Untuk Galih
Ep. 88 Masalah Hati


__ADS_3

Galih:


Asyik ya lihatin cowok-cowok bertelanjang dada? Gimana kalau aku ikutan sekalian di sana?


Deg!!


"Mati aku!"


Wangi langsung shock setelah membaca pesan dari Galih barusan.


"Kok dia bisa tahu sih? Apa jangan-jangan dia..."


Wangi langsung mengedarkan pandangannya di luar jendela dan benar saja, dia melihat Galih yang tengah bersandar pada kendaraan tempur khusus yang biasa dia pakai untuk berpatroli. Galih sedang bersandar di sana dengan tangan bersedekap di dada sambil menatap lurus ke arahnya. Wangi tiba-tiba merasakan bulu kudunya merinding seolah-olah dia baru saja kepergok kekasih sedang berselingkuh.


"Kok aku jadi ngerasa seolah aku yang salah ya? Aku sama dia kan sudah gak ada hubungan lagi, mau aku sama cowok lainpun juga apa urusan dia?" Gerutu Wangi dalam hatinya.


Tapi sisi hatinya yang lain seolah mengatakan hal lain... "Itu karena Galih masih cinta sama kamu bodoh...!"


Plak!!


Wangi langsung menampar pipinya sendiri untuk menyadarkan kewarasannya.


"Astaga!! Bikin kaget saja! Kamu kenapa sih Wang? Pipi sendiri malah ditampar-tampar." Anne yang kaget melihat Wangi seperti itu langsung ngelus dadanya.


"Ng..ngak, gak papa!" Sahut Wangi tergagap.


"Hayo lho... Kamu pasti bayangin yang iya-iya kan waktu lihat mereka?" Wangi sontak kaget ketika Anne menuduhnya yang bukan-bukan seolah dia adalah wanita yang berotak 'fantasi'.


"Apaan sih?! Jangan ngadi-ngadi deh... Yang ada pikiranmu tuh yang ngeres! Mending mandi sono biar bersih dari pikiran-pikiran sesat." Ujar Wangi sambil mengambil handuk dan perlengkapan mandinya.


"Yaelah...Gitu aja ngambek." Sahut Anne.


Tapi ketika Wangi membuka pintu kamarnya tiba-tiba dia berteriak.


"Astaghfirullah!!" Serunya dengan kencang hingga Anne pun ikut terkejut.

__ADS_1


"Apa? Ada apa? Kenapa teriak Wang?" Seru Anne sambil melangkah mendekati Wangi namun pintu kamarnya itu malah langsung ditutup dengan cepat olehnya.


Brak!!


"Bukan apa-apa cuma kaget ada kecoak!" Seru Wangi dari luar pintu kamarnya.


"Jadi... Sekarang kamu menganggap aku ini kecoak??" Suara Galih terdengar seperti sedang kecewa. Dan ternyata yang membuat Wangi berteriak saking kagetnya adalah Galih yang tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu kamarnya saat dia membukanya.


"Habisnya kamu ngagetin aku! Tiba-tiba sudah di depan pintu kamar aja, kalau Anne lihat gimana?" Sahut Wangi sambil mengomelinya.


"Memangnya kenapa? Aku kan gak ngapa-ngapain juga." Sahut Galih dengan santainya.


"Ck, ntar bisa jadi gosip tahu...?! Lagian tadi kamu kan tadi masih ada di sana, bukannya mau patroli ya? Kok bisa tetiba ada di sini?" Tanya Wangi dengan herannya.


"Buat mastiin kalau kamu enggak macem-macem." Jawab Galih tegas.


"Macem-macem gimana? Emangnya aku ngapain?" Wangi bingung apa yang salah darinya sampai Galih segitunya padanya.


"Gak macem-macem gimana? Aku rasa suka memfoto laki-laki bertelanjang dada sekarang sudah menjadi hobby baru kamu ya?" Sindir Galih sambil menyipitkan matanya.


"Aha! Ternyata bukan memfoto tapi merekam ya?" Langsung saja Galih melancarkan tatapan lasernya pada Wangi yang kini justru seperti maling yang tertangkap basah oleh polisi.


"Tunggu! Ada yang salah!" Tiba-tiba Wangi teringat sesuatu.


"Sebentar... Masalahnya, kenapa kamu sekhawatir itu jika aku sedang mengagumi lelaki lain? Toh kita tidak ada hubungan apa-apa selain hubungan kerja. Jadi ada apa dengan anda Sertu Galih Admaja?" Ujar Wangi dengan tangan yang bersedekap seakan sedang menantang lelaki yang ada di hadapannaya.


Deg!!


Galih pun merasa tertohok akan ucapan Wangi yang diperuntukan olehnya. Ya, tentu saja dia sadar bahwa sekarang ini dia sedang tidak berada dalam hibungan serius sebagai kekasih dari wanita yang ada di hadapannya saat ini. Namun melihat Wangi yang secara terang-terangan mengagumi lelaki lain selain dirinya membuat hatinya cemburu. Karena rasa cinta yang dia rasakan kepada Wangi tetap tersa sama baik dulu mapupun sekarang. Tapi entah mengapa di saat Wangi bertanya 'Kenapa?' lagi-lagi mulutnya terkunci rapat, apa dirinya seegois itu? Mungkin... Mungkin dirinya kepalang malu untuk saat ini dan hanya diam terpaku seberti jiwa tanpa raga.


"Kalau gak bisa jawab mending minggir deh, saya mau lewat!" Wangi mendorong Galih begitu saja karena telah menghalangi jalannya, lalu melewatinya tanpa mengatakan apapun lagi. Dan Galih tidak mampu berbuat apapun lagi untuk saat ini, bagaikan pecundang yang sama seperti waktu dulu. Dia hanya menghela napas pasrah sambil memijit pelipisnya yang terasa berdenyut.


...****************...


"Ya ampun beb... Kok kamu tambah kurus aja? Kenapa? Mikirin cowok brengsek itu? Kalian belum ketemu? Atau kalian sudah ketemu tapi dia malah sudah punya cewek baru di situ?!" Wulan terus nyerocos saja tanpa jeda sehingga tidak ada waktu untuk Wangi menjelaskannya. Saat ini Wangi dan Wulan sedang melakuka panggilan video call. Wulan yang sedang hamil katanya lagi ngidam ngelihat wajah Wangi yang lama tidak dia jumpai itu.

__ADS_1


"Stop! Diem dulu deh Wul, jangan nyerocos mulu kayak air kran yang lupa dimatiin. Belum juga aku ngomong kamu udah mikir kemana-mana." Gerutu Wangi yang membuat Wulan langsung nyengir kuda.


"Hehhe... Ya maaf, habisnya aku kangeeenn banget sama kamu. Takut kamu kenapa-napa, mana kurus gitu." Ujar Wulan salah tingkah.


"Yaelahh... Dari dulu kan aku memang sudah langsing Wul, yang ada aku tambah gemuk tahu...soalnya disini tuh jadwal makannya sudah diatur gak pernah telat. Kameranya kali yang bikin aku tambah kurus." Ujar Wangi.


"Hehe gitu ya? Bisa jadi. Tapi btw, kamu ketemu kan sama dia? Kali ini kamu gak bisa bohong soalnya suami aku yang bilang kalau kalian sudah ketemu." Kali ini Wangi memang tidak bisa mengelak lagi.


"Emang ya... Bukan cuma para wanita yang suka gosip, para laki juga ternyata suka gibah." Sahut Wangi setengah kesel.


"Memangnya dia cerita apa saja sama suami kamu?" Tanya Wangi kemudian.


"Katanya dia kesel soalnya kamu di situ suka ngerekamin cowok yang olah raga bertelanjang dada. Emang bener gitu Wang?" Jawab Wulan seraya bertanya kebenarannya.


"Dasar wong edan! Masa kejadian tadi pagi sudah sampai aja ke telinga suami kamu?!" Seru Wangi secara sepontan.


"Serius?! Jadi itu semua beneran Wang?! Ckck... Tak kusangka ternyata kamu punya fantasi sendiri ya Wang. Amit-amit jabang bayi, kamu nanti jangan gitu ya nak, jangan ikutin tingkah anehnya tante Wangi." Ujar Wulan sambil mengusap-usap perut buncitnya.


"Enak aja... Aku gak seca**l dan seme**m itu ya!" Protes Wangi dan lagi-lagi Wulan melakukan hal yang sama.


"Astagfirullah... Jangan dengerin ya nak... Tante Wangi emang rada-rada orangnya, kamu ntar jangan ikut-ikut ya sayang... Anak baik..." Ujar Wulan sambil mengusap-usap terus perutnya.


"Busyet dah... Aku lagi yang salah, gini amat punya teman bumil." Rutuk Wangi sambil ngelus dada.


"Tapi Wang, kamu beneran mau balikan sama dia?" Tanya Wulan kemudian.


"Siapa bilang? Suami kamu? Atau Galih yang ngadi-ngadi?" Tebak Wangi namun Wulan menggelengkan kepalanya.


"Enggak, bukan. Aku nanya gini karena tiba-tiba kamu mutusin buat jadi relawan setelah kelulusan kita. Kamu kesana buat mastiin hati kamu kan? Kamu masih cinta kan sama Galih? Seperti Galih yang masih cinta sama kamu." Tebak Wulan tepat sasaran.


"Tapi Wul... Dia tidak pernah sekalipun mengatakan jika dia mencintai aku."


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2