
Setibanya dari desa dan membereskan semua barang-barang serta perlengkapan medis, mereka yang baru saja bertugas tadi kumpul di kantin markas karena memang sudah melewati waktunya jam makan siang. Galih yang tadinya ingin menghampiri Wangi untuk makan siang bersama tiba-tiba keluar dari kantin secara terburu-buru setelah salah seorang anggota pasukan lainnya menghampirinya.
"Itu pacar kamu kenapa buru-buru keluar begitu? Kirain mau makan bareng kita." Celetuk Lukman.
"Mana ku tahu? Aku kan di sini dari tadi." Sahut Wangi cuek.
"Iya-iya, dari tadi kamu kan di sini bareng kita hehe..." Ujar Lukman dengan ringisan tololnya.
"Ckck... Aku gak tahu gimana kamu bisa lulus dokter bahkan sampai spesialis begini." Wangi berdecak sambil geleng-geleng kepala melihat kebodohan teman sejawadnya itu.
"Ann, mending kalau mau cari cowok jangan yang seperti dia." Ucapa Wangi pada Anne sambil menunjuk Lukman dengan sendok makannya.
"Lho... Kok tiba-tiba aku? Ap, apa hubungannya?!' Seru Anne yang terlihat gugup mendengar ucapan Wangi.
"Itu kan cuma saran, aku tidak bilang apa-apa." Sahut Wangi sambil mengangkat bahunya masa bodoh.
"Emangnya apa yang salah dari aku?" Tanya Lukman pura-pura tak mengerti, padahal Wangi sudah tahu jika sebenarnya Lukman itu sudah suka dengan Anne sejak lama.
"Pinternya gak full day!" Jawab Wangi yang langsung membuat Elias, Anne dan juga Zahara yang ada di satu meja dengan mereka sektika tertawa.
"Sialan!" Sahut Lukman dengan wajah yang ditekuk.
"Ehm... Sepertinya ada sedikit masalah terkait pengiriman stock obat-obatan yang dikirim ke kita deh." Ucap Zahara di sela-sela tawa mereka setelah Zahara membaca sebuah pesan masuk yang baru saja dia terima melalui phonselnya.
"Hah?! Tahu dari mana?" Tanya Wangi.
"Baru saja Romero mengirim pesan padaku jika mobil box pengiriman yang mengangkut obat-obatan dan perlengkapan medis untuk kita mengalami kecelakaan di jalan utama menuju ke sini.
"Astaga...! Seru Anne sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Hmm.. Jadi itu alasan Galih buru-buru pergi tadi?" Celetuk Elias yang langsung membuat Wangi menoleh padanya.
"Benar, tapi kita belum tahu pasti bagaimana kronologinya. Kita bisa tanyakan nanti setelah mereka kembali." Jawab Zahara.
"Semoga tidak ada masalah yang serius sehingga tidak ada korban dan tidak ada yang dirugikan." Ucap Lukman.
"Ternyata kamu bisa bicara kayak gini. Ah... kepintaran full day-nya sudah kembali." Ledek Elias dan merekapun kembali tertawa.
"Sialan!" Umpat Lukman.
"Hahaha...."
.
.
__ADS_1
Di tempat lain, tempat terjadinya kecelakaan yang dialami mobil box berlabel UNIFIL yang mengangkut barang-barang, obat serta perlengkapan medis untuk Rumah Sakit Indobatt. Pasukan penolong keadaan darurat telah datang bersama anggota medis.
Kecelakaan itu ternyata kecelakaan tunggal karena tidak ada mobil lain yang ada di sana sebagai lawan kecelakaan selain mobil box UNIFIL itu.
"Kalian coba periksa apakah ada korban yang selamat." Perintah Komandan Pasukan.
"Siap, Komandan!" Jawab serempak para prajurit yang datang ke sana.
Terlihat satu orang pengendara yang ada di mobil box itu sudah terpental keluar dan meninggal di tempat.
"Satu orang meninggal di tempat!" Seru Romero ketika memeriksa lelaki berseragam kaos biru bertuliskan UNIFIL itu sudah terkapar tak bernyawa dengan darah di kepalanya.
"Ughh..."
Terdengar suara lenguhan dari dalam mobil boz tersebut.
"Sepertinya ada yang selamat." Ujar Galih sambil berjalan menuju sumber suara.
Mobil box itu keadaan pintunya sebelah kiri sudah terbuka dan Galih melihat seorang lelaki dengan wajah bule sedang meringis kesakitan.
"Satu orang selamat!" Teriak Galih.
Mendengar teriakan Galih itu dua orang temannya yang lainnya langsung menghampiri Galih hendak menolong untuk mengeluarkan orang asing itu keluar dari mobil. Namun ketika salah seorang teman Galih akan mendekat ke arah pintu tiba-tiba langsung dicegah Galih dengan isyarat tangan dan mata. Kemudian dengan sigap Galih mengeluarkan pistolnya dan langsung menodongkannya ke arah lelaki asing itu.
"Go out!!" Seru Galih pada lelaki asing terdebut.
"Get off the car! Now!!" Teriak Galih lagi dengan nada dan tatapan garang.
Melihat reaksi Galih itu anggota pasukan lainnya sedikit bingung.
"Ada apa?" Tanya temannya bingung namun ikut bersiaga mengeluarkan senjata mereka masing-masing.
"Dia bersenjata. Dia menyimpan senjata api di pinggangnya." Jawab Galih yang tidak sengaja melihat pistol yang terselip di pinggang lelaki asing itu saat kaosnya tersingkap.
Mendengar jawaban Galih itu anggota yang lainnya langsung mengepung lelaki asing tersebut dan kembali menyuruhnya turun.
"Go out! Now!!" Seru Galih lagi.
"Raise your hand!!" Perintah Galih dan lelaki itupun tidak punya pilihan lain selain mengangkat tangannya. Kemudian Romero langsung mengambil pistol lelaki asing itu dan yang lainnya menyeretnya turun dari mobil dan menghimpitnya menghadap ke mobil untuk mengamankan tangan lelaki asing itu. Dengan segap anggota yang lainnya langasung mengikat tangan lelaki asing tersebut.
"Bagaimana bisa ini terjadi?" Tanya Romero.
"Entahlah... Kita bisa tanyakan ke dia nanti, kita periksa dulu saja isi di dalam box ini." Ujar Galih yang diangguki Romero.
Namun ketika hendak membuka box mobil itu, dari dalam terdengar suara yang sedikit gaduh. Dan itu membuat para pasukan kembali bersiaga mengarahkan senjata mereka ke arah box mobil yang hendak dibuka.
__ADS_1
Salah satu anggota pasukan memberi aba-aba dengan hitungan tanpa suara dari gerakan bibir untuk bersiap membuka box mobil tersebut dan yang lainnya bersiap dengan senjata mereka masing-masing.
Satu,
Dua,
Tiga!!
Brak!!
Ternya suara gaduh di dalam berasal dari dua orang yang merupakan pengendara asli mobil box tersebut. Mereka ditemukan di dalam sana dengan keadaan terikat, mukut dilakban serta pakaian yang sudah dilucuti. Galih dan yang lainnya pun membantu kedua orang korban itu dan menanyakan kronologi kejadian dimana mereka yang membawa paket untuk markas Indobatt bisa dibajak. Namun akhirnya aksi pembajakan itu gagal karena terjadi pecah ban dan mobil menabarak pohon di sisi kirinya.
"Bagaimana ini Komandan?" Tanya Romero.
"Ini kasus pembajakan atau bisa dibilang perampokan dimana ini diluar batas patroli keamanan kita. Daerah ini masih wilayah pengawasan polisi setempat. Kita tidak ada jalan lain selain menyerahkan mereka pada petugas kepolisian Lebanon." Jawab Komandan mereka.
Memang benar kata Komandan mereka karena jalanan di sana meski itu jalan utama menuju markas mereka namun itu juga jalan utama menuju kota yang terbilang jalur aman yang merupakan wilayah keamanan polisi setempat. Jadi mereka tidak ada hak untuk mengadili para perampok itu sendiri dan harus melapor ke kepolisian setempat.
"Namun kita tetap memantau kasus ini karena ini menyangkut UNIFIL." Lanjut Komandan.
"Siap!" Jawab mereka serempak.
Setelah itu sang Komandan menghubungi kepolisian setempat untuk datang ke tempat kejadian. Dan untungnya barang-barang yang ada di dalam mobil box tidak rusak, hanya penyok sedikit di bagian beberapa kardus. Ya... semoga saja isinya tidak kenapa-napa.
Setelah petugas kepolisian setempat datang dan mengobrol dengan Komandan mengenai kronologi kejadian, akhirnya mereka membawa satu perampok itu dan juga temannya yang sudah mati. Sementara mobil box UNIFIL harus di derek sampai markas dan membawa dua awak yang jadi korban tadi ke Rumah Sakit Indobatt untuk diobati luka-lukanya.
Sementara itu tiga polisi yang membawa perampok itu dalam perjalanannya tengah menelpon seseorang.
"Mereka tertangkap. Satu orang tewas, satunya bersamaku." Kata seoarang polisi yang sepertinya atasan dari kedua polisi yang lainnya.
"Baik." Kata polisi itu setelah mendengar perkataan seseorang yang dia telpon dan menutup telponnya.
"Kill him!" Perintah polisi itu pada dua orang lainnya.
"No! Nooo...!!" Teriak perampok tadi.
Dorr!!
Salah satu bawahannya langsung menembak perampok yang dia bawa tadi tepat di kepalanya setelah mendapat perintah. Setelah itu kedua orang bawahan polisi itu langsung melepas pakaian seragamnya. Ternyata dua orang bawahannya itu bukanlah polisi sungguhan. Lalu siapakah polisi dan dua orang lainnya itu?
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...