
Singkat cerita akhirnya Galih memenangkan setiap permainan di sana secara terus menerus hingga waktu yang ditunggu-tunggupun tiba. Yaitu melawan langsung Joshua di meja Kasino.
"Selamat, akhirnya anda mampu menyingkirkan para pesain anda tuan..??" Ucap Joshuo yang kini sudah duduk di kursi meja Kasino ssbagai lawan Galih.
"Mark." Sahut Galih singkat.
"Ya, tuan Mark. Saya dengar ini adalah yang pertama kalinya anda datang ke sini dan langsung mendapatkan keberuntungan. Tapi jangan senang dulu tuan, karena tidak selalu keberuntungan berpihak pada anda terus menerus. Dan saya adalah lawan yang sulit." Kata Joshua yang masih belum menyadari jika lelaki yang duduk di hadapannya itu adalah Galih yang pernah ia kenal dulu di militer.
"Mungkin anda adalah lawan yang sulit tapi saya juga bukan orang yang mudah dikalahkan. Karena saya tidak suka kalah." Sahut Galih dengan nada yang sengaja dibuat begitu arogan.
"Hahahaa... Tuan Mark, anda sangat mempunyai kepercayaan diri yang tinggi, tapi saya suka itu. Anda mengingatkan saya pada teman lama saya." Ujar Joshua sembari tertawa.
Deg!!
Galih seketika terkejut namun sesegera mungkin dia menstralkan pikirannya dan bersikap santai seperti tadi. Dia hanya terkejut sesaat dengan ucapan Joshua. "Apakah aku sudah ketahuan??" Itulah yang Galih pikirkan sesaat yang lalu dan ia langsung menepisnya.
"Baiklah... Tidak perlu menunggu terlalu lama lagi, sebaiknya kita mulai." Ujar Joshua sambil memberi kode pada anak buahnya untuk memuali permainan.
"Tunggu dulu! Aku ingin sekali meminum anggur. Saat seperti ini anggur cocok diminum sambil bermain." Kata Galih yang mungkin terselip rencana di dalamnya.
"Hahaa... Anda memang memiliki selera yang bagus. Baiklah, biar pelayan yang..."
"Tidak perlu! Galih langaung memotong ucapan Joshua begitu saja.
"Di saat seperti ini wanita cantik lebih cocok membawakan anggur daripada seorang pelayan." Lanjut Galih sambil menengok ke arah Soledat sambil tersenyum seakan itu adalah kode untuk Soledat.
"Hahahaa..." Joshua kembali tertawa dan kini lebih lepas.
__ADS_1
"Ternyata anda tahu betul bagaimana menikmati hidup. Saya semakin suka dengan anda, sepertinya kita cocok. Baiklah... Soledat, bawakan anggur terbaik yang kita punya untuk tamu istimewa kita!" Lanjut Joshua yang terlihat senang saat itu.
"Huweekk!! Kita cocok?! Satu-satunya yang cocok denganku itu hanya cuma Wagi! Dan aku masih cukup normal untuk mau dicocokkan denganmu...?!" Gerutu Galih dalam hati.
"Baiklah, saya akan membawakan anggur terbaik untuk anda tampan..." Ujar Soledat dengan nada manja sambil bergelayut menyondongkan tubuhnya ks arah Galih seakan memeluknya tapi yang sebenarnya dia tengah membisikkan sesuatu di telinga Galih. Kemudian dia beranjak pergi dengan dalih mengambil anggur.
"Kalau begitu, bisa kita mulai sekarang?" Tanya Galih.
...****************...
Sementara itu di tempat lain di kamar yang sudah dipesan Romero, kini lelaki itu sudah berganti pakaian dan menyamar sebagai pelayan pria. Di sana Lorena masih tertidur pulas karena pengaruh obat tidur dosis tinggi. Lalu selang beberapa saat pintu kamar Romero diketuk dua kali menandakan jika itu adalah Soledat yang datang. Segera Romero membukakan pintu dan Soledat pun langsung masuk begitu saja dengan membawa troller makanan dan minuman.
"Wahh... Dia benar-benar tidur seperti orang mati." Ujar Soledat seraya melihat ke arah Lorena yang tertidur.
"Bagaimana keadaan di sana? Tanya Romero.
"Baiklah, kita tidak ada waktu lagi. Kau siap??" Tanya Romero.
"Tentu saja! Inilah alasanku ada di sini sekarang ini." Jawab Soledat yakin.
"Bagus! Sebentar, aku akan pindahkan dia di sana." Ujar Romero yang kemudia mengangkat tubuh Lorena dan memindahkannya ke box di bawah troller yang tertutup kain putih.
"Oke, kita keluar sekarang!" Ucap Romero dan Soledat pun membuka pintu kamar untuk dirinya dan Romero. Kemudian mereka pergi menuju ke sebuah lorong di lantai yang sama dengan kamar tadi yang mengarah pada sebuah kamar yang dijaga ketat oleh dua orang penjaga berbadan tegap.
"Hallo semuanya... " Sapa Soledat pada kedua penjaga itu.
"Tumben jam segini kau sudah datang? Dan... Apa yang kamu bawa itu?" Tanya salah satu dari mereka.
__ADS_1
"Apa kalian tidak bisa melihatnya jika itu makanan?" Jawab Soledat ketus.
"Kami tahu tapi tumben sekali kau membawanya cukup banyak. Memangnya gadis yang ada di dalam sana itu bisa menghabiskannya?" Tanya penjaga yang satunya.
"Tentu saja tidak, sebagian ini adalah milik kalian." Jawab Soledat.
"Tumben?" Tanya penjaga itu lagi dengan raut penasaran.
"Hari ini Boss mendapatkan tangkapan yang cukup besar dan kini dia sedang berpesta di Kasino. Katanya aku bisa membawa makanan sebanyak mungkin untuk adikku di rumah. Jadi aku ambil saja, tapi aku jadi ingat gadis yang di dalam sana, dia seumuran dengan adikku. Lalu aku bawakan sedikit untuknya dan aku juga tidak lupa dengan kalian yang tidak bisa ikut berpesta. Jadi ambil saja bagian kalian!" Ucap Soledat berbohong sambil tersenyum manis.
"Ah... Soledat kita memang berhati lembut haha..." Sahut penjaga pertama.
"Kalau begitu jangan kita sia-siakan, ayo kita ambil saja, lagian dari tadi kita belum makan juga. Perutku sudah lapar." Ujar penjaga yang satunya sambil meraih salah satu roti dan sebotol minuman alkohol. Temannya pun ikut melakukan hal yang sama.
"Kalau begitu aku dan dia masuk dulu." Kata Soledat pada dua penjaga itu yang langsung diijinkan setelah membuka kunci kamar tersebut.
Begitu Soledat dan Romero masuk, terlihat di sana ada seorang gadis remaja yang meringkuk di pojokoan tempat tidur dengan wajah pucatnya.
"Hai Erisha... Aku datang lagi. Dan ssttt...! Kami akan membawamu ke kakakmu." Kata Soledat sambil berbisik lirih setelah menyapa gadis bernama Erisha itu. Ya, dialah adik perempuan Ali.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1